Tag Archives: wadiah

Q&A : HUKUM MEMANFAATKAN UANG TITIPAN

🇹‌🇷‌🇦‌🇳‌🇸‌🇰‌🇷‌🇮‌🇵
╔════════════╗
QUESTION ANSWER AUDIO 🎙
╚════════════╝

HUKUM MEMANFAATKAN UANG TITIPAN

📝 PERTANYAAN

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz, jika kita diamanahi untuk menerima uang pembayaran buku atau selainnya di sekolah yang akan disetorkan setelah uang terkumpul, apakah kita boleh menggunakan uang tersebut sementara waktu kemudian menggantinya setelah waktu yang ditentukan.

Apakah ini tidak termasuk mengambil manfaat dari uang titipan? Mohon penjelasannya.

➖➖➖➖➖

📚 JAWABAN

Wa ‘alaykumussalām
Warahmatullāhi Wabarakātuh.

✏ Pertama
Ini termasuk dalam bab WADI’AH /Bab TITIPAN, baik berupa barang, uang, dan selainnya.

Orang yang diberi amanah wadi’ah diwajibkan menjaga dan memelihara wadi’ah/titipan tersebut baik berupa uang, barang, atau selainnya.

Dalam hal ini, orang yang diberi amanah titipan, dia tidak boleh memanfaatkan barang titipan tersebut karena dikhawatirkan akan rusak atau hilang.

Dia tidak boleh memanfaatkannya dan segera untuk mengamankannya atau menyimpannya.
Ini merupakan ijma’ para ulama.

✏ Kedua
Orang yang dititipi suatu barang atau uang, dia diperbolehkan memanfaatkannya dengan seizin orang yang menitipkan barang atau uang tersebut.

Jika mereka mengizinkan, maka dipersilahkan untuk memanfaatkannya asalkan dia harus mengembalikan kembali dalam kondisi yang sama jika dalam bentuk barang, atau nominal yang sama jika dalam bentuk uang. Ini adalah perkara yang harus difahami.

Oleh karena itu jika ada orang yang mendapatkan amanah wadi’ah/titipan berupa uang untuk pembelian buku, maka uang tersebut harus dipergunakan untuk membeli buku dan tidak boleh memanfaatkan uang tersebut tanpa seizin yang punya uang atau yang menitipkan uang tersebut.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

••• ═════ ••• ═════ •••
Dijawab oleh :
🎙 Ustadz Abu Salma
Muhammad حفظه الله تعالى

Ditranskrip oleh :
✒ Tim Transkrip AWWI
••• ═════ ••• ═════ •••

👥 WAG Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG : https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

Q&A : PEMBELIAN KARTU DGN 2 PILIHAN HARGA, RIBAKAH ?

Question Answer Audio 🔊

PEMBELIAN KARTU DGN 2 PILIHAN HARGA, RIBAKAH ❓

PERTANYAAN :

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Ustadz kalau seperti ini apakah termasuk riba ?

Kita diwajibkan beli dengan dua pilihan kartu, yang berharga Rp. 60.000 (Saldo kartu Rp. 50.000,-) atau yang berharga Rp. 30.000,- (saldo kartu Rp. 20.000).

Syukran ustadz

➖➖➖➖➖➖➖

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh.

Pertama, pertanyaannya kurang lengkap dan kurang jelas.
Yang dimaksud kartu di sini yang seperti apa ?
Sebab ini ada perinciannya. Beda jenis dan fungsi kartu, beda pula hukumnya.

Penanya menyebutkan kata DIWAJIBKAN, di sini bisa menimbulkan permasalahan baru karena menyebutkan kata Diwajibkan.
Yang mewajibkan ini siapa? Karena hal ini harus jelas.

Jika di sini yang dimaksud adalah kartu E-MONEY atau E-TOLL, maka di Indonesia khususnya yang tinggal di kota-kota besar, yang harus melewati jalanan tol, maka ini termasuk suatu perkara yang sudah meluas dan kita tidak bisa menghindarinya.
Seperti di Jakarta, misalnya. Mau tidak mau harus punya kartu e-money apabila kita sering berpergian melewati jalan tol dengan kendaraan pribadi.
Karena tidak mungkin kita bisa berpergian lewat jalan tol jika tidak mempunyai kartu e-money.
Dan untuk mendapatkan e-money tersebut, mau tidak mau kita harus membelinya.

Memang kartu e-money, e-toll dan semisalnya itu pada saat kita beli, harganya memang lebih mahal dibandingkan nilai yang ada didalamnya.
Harga kartu tersebut misalnya Rp. 60.000. Kita dapat saldo Rp. 50.000. Maka yang Rp. 10.000 adalah biaya penggantian kartu.
Ataupun jika harga kartunya Rp. 30.000. Saldonya Rp. 20.000. Berarti Rp. 10.000 adalah harga kartu tersebut. Yang demikian ini wallahu ta’ala a’lam bish shawaab saya tidak tahu dimana ribanya.

Yang menjadi polemik adalah, ada beberapa ustadz kita yang menganggap transaksi dengan kartu digital ini, saat seseorang melakukan deposit, maka ini dianggap meminjamkan uang. Jadi, apabila ketika kita mengisi saldo atau balance didalam kartu elektronik tersebut dianggap menghutangkan. Di sini, terjadi akad qardh (hutang piutang), sehingga apabila kita mengambil benefit dari kartu e-money atau kartu e-toll, semisal ada discount dijalan tol atau discount dari mana saja, maka ini dianggap sebagai RIBA karena mengambil benefit dari PIUTANG. Kullu Qardhin jarra naf’an fahuwa riba… semua piutang yang menarik keuntungan adalah riba…

Walaupun ada sebagian ustadz yang lain menjelaskan bahwa uang elektronik yang seperti ini tidak dikategorikan sebagai AKAD QARDH (akad hutang piutang), TAPI ini termasuk bagian dari WADIAH (titipan). Jadi menitipkan uang kita ke VENDOR tersebut.
Misalkan kita masukkan uang Rp. 50.000, maka dana tersebut akan berpindah atau bertransform ke dalam kartu tersebut, dan dana tersebut bisa kita gunakan kapan saja di merchant-merchant yang memang bekerjasama dengan kartu tersebut.

Ala kulli hal…
Kita tidak bisa menghindar dari penggunaan kartu seperti e-money , e-toll, dan semisalnya. Apalagi sekarang setiap kita melakukan isi ulang akan ditarik biaya, seperti ada biaya administrasi, ada biaya jasa, dan ini tidak termasuk riba karena pada saat kita mengisi ulang maka disitu ada biaya jasa transaksi. Orang atau vendor yang membantu mengisikan, maka dia berhak untuk mengambil upah jasa dari jasa yang dia berikan untuk mengisikan kartu kita.

Wallahu ta’ala a’lam bish shawaab

🎙Dijawab oleh : Ustadz Abu Salma Hafidzahullah

🖊Transkrip : Uray Sriwahyuni
_____________________

✉Grup WhatsApp Al-Wasathiyah Wal I’tidÃ¥l
♻Telegram: https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
💠Facebook : http://fb.me/wasathiyah
🔰Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 Instagram : http://instagram.com/alwasathiyah
🌀Mixlr : http://mixlr.com/abusalmamuhammad/