Tag Archives: Tanya Jawab

HADITS “JANGANLAH PUKUL ANAKMU KARENA TANGISAN MEREKA” APAKAH SHAHIH???

🇫‌🇦‌🇼‌🇦‌🇮‌🇩‌

HADITS “JANGANLAH PUKUL ANAKMU KARENA TANGISAN MEREKA” APAKAH SHAHIH???

📩 Ada beberapa yang DM/japri saya menanyakan tentang status hadits di bawah ini :
“Islam melarang orang tua memukul anaknya saat ia menangis, terlebih pada bayi, karena tangisan bayi memiliki beragam arti, dan salah satunya adalah mendoakan orang tua. Hal ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan pukul bayi kamu, karena tangisan mereka memiliki arti. Empat bulan pertama menangis menyatakan kesatuan Allah Subhanahu wa ta’ala, empat bulan kedua menangis mengirimkan berkah kepada Nabi dan keluarganya, serta empat bulan ketiga menangis adalah bayi berdoa untuk orang tua.” [Status salah satu akun parenting di instagram].

Setelah saya berusaha mencari tahu tentang keabsahan hadits ini, maka saya dapati redaksinya sebagai berikut :

« لا تضربوا أطفالكم على بكائهم فإن بكائهم أربعة أشهر شهادة أن لا إله إلا الله وأربعة أشهر الصلاة على النبي وآله وأربعة أشهر الدعاء لوالديه »

Artinya :
“Janganlah kalian memukul anak-anak kalian karena tangisan mereka, karena sesungguhnya tangisan mereka itu, empat bulan (pertama) merupakan syahadat (persaksian) bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah semata, lalu empat bulan (berikutnya) adalah sholawat kepada Nabi dan keluarga beliau, dan empat bulan (ketiga) adalah doa bagi kedua orang tuanya.”

📝 CATATAN SAYA :
1️⃣ Hadits di atas adalah hadits yang palsu, mungkar dan bathil.
Berikut adalah keterangannya yang saya nukilkan dari https://al-maktaba.org/book/31615/31624
(a) Menurut al-Khathib al-Baghdadi di dalam Tarikh al-Baghdad (11/336) : “Munkar jiddan” (sangat mungkar).
(b) Menurut Ibnul Jauzi di dalam al-Maudhu’at (I/233) : “maudhu’” (palsu).
(c) Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani di dalam Lisanul Mizan (V/477) : “maudhu’ bila royb” (palsu tanpa ada keraguan).

2️⃣ Terjemahan yang ditanyakan kurang tepat dan bahkan bisa berbahaya.
(a) Terjemahan “empat bulan pertama menyatakan kesatuan Allah Subhanahu wa ta’ala” ini adalah terjemahan yang sangat jauh dari lafazh hadits -meski haditsnya dha’if-, sebab syahadat laa ilaaha illalah menyatakan tauhid, sementara kesatuan Allah itu bisa bermakna buruk, tidak jelas dan membawa pemahaman bathil.
(b) Terjemahan, “empat bulan kedua menangis, mengirimkan berkah kepada Nabi dan keluarganya,” juga kurang tepat melihat yang dimaksud adalah bersholawat kepada Nabi dan keluarga Nabi. Dugaan saya terjemahan ini diterjemahkan dari versi non Arabic, alias versi Inggris atau selainnya, sehingga penerjemahan diksinya kurang tepat.

3️⃣ Menyandarkan sesuatu kepada Nabi ﷺ itu haruslah dengan ilmu, tidak boleh asal menyebarkan atau menukilkannya, sebab bisa terancam hadits Nabi ﷺ sebagai berikut :

« إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ »

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka tempat duduknya adalah di neraka.”
(Muttafaq alaihi)

📗 Dalam hadits lain, Nabi bersabda :

« فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ بُنيَ لَهُ بَيْتٌ فِي جَهَنَّمَ »

“Barangsiapa berdusta atas namaku, maka akan dibangunkan baginya rumah di Jahannam.”
(HR. Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir).

📗 Dalam hadits lainnya dari ‘Ali, Nabi bersabda:

« مَنْ رَوَى عَنِّي حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ»

“Siapa yang meriwayatkan dariku suatu hadits yang ia menduga bahwa itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari dua pendusta (karena meriwayatkannya).”
(HR. Muslim dalam muqoddimah Shahihnya).

Dan masih banyak hadits semisal yang secara makna statusnya mutawatir.

4️⃣ Ketentuan tentang memukul anak sudah diterangkan di dalam Islam, bahwa hukuman pukul tidaklah diterapkan serampangan dan juga tidak ditolak secara mutlak. Jadi diatur oleh agama kita dengan perincian yang sangat baik sekali.

Tentang rinciannya silakan baca buku-buku parenting Islam yang berangkat dari hadits-hadits shahih dan ditulis oleh ulama-ulama terpercaya, dan sebagian termuat dalam buku-buku yang sudah kami terjemahkan, silakan diunduh di :
📎https://anakteladan.id/index.php/unduh/free-ebook/

ℳـ₰✍
​✿❁࿐❁✿​
@abinyasalma


👥 Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG :  https://t.me/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

🔖 Sumber : http://abusalma.net/2020/10/23/hadits-janganlah-pukul-anakmu-karena-tangisan-mereka-apakah-shahih/

🔗 Silakan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber.

SEPUTAR PERTANYAAN MENGENAI PUASA SUNNAH

1️⃣
📝 PERTANYAAN :

Assalaamu’alaikum Ustadz.

Apakah puasa pada awal bulan Dzulhijjah sama halnya seperti puasa Syawwal dimana harus menyelesaikan hutang puasa dahulu jika ada ?
Jazaakallahu khayran

➖➖➖➖➖

📚 JAWABAN:

بــسم اللّٰـه
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Mengqadha puasa Ramadhan itu wajib, walaupun waktunya luas. Di antara adab kita kepada Allah adalah kita menunaikan dulu yang wajib baru kita sempurnakan dengan yang sunnah.

Ingat, jika kepada manusia saja kita diminta untuk mendahulukan melunasi hutang dahulu sebelum lainnya, maka bagaimana dengan hutang kepada Allah ??

Anjuran untuk membayar hutang puasa tidak saja berkaitan dengan puasa Syawal, tapi puasa sunnah lainnya, seperti puasa Dawud, puasa Senin – Kamis dan lain-lain.

Kan suatu hal yang aneh, apabila ada orang yang rutin puasa sunnah Senin Kamis atau puasa Dawud, tapi hutang puasa Ramadhan nya belum dibayar ?

Karena itu, hendaknya mendahulukan membayar hutang puasa dahulu, sebelum berpuasa sunnah apapun.

Jika ada Muslimah yang masih mempunyai hutang lalu sudah masuk awal Dzulhijjah, maka hendaknya ia membayar hutang puasa di bulan Dzulhijjah ini, karena membayar hutang puasa termasuk amal shalih, dan beramal shalih di 10 hari Dzulhijjah ini lebih dicintai Allah dan lebih mulia dari jihad.

Apabila melaksanakan ibadah fardhu di 10 awal Dzulhijjah lebih utama daripada ibadah fardhu di waktu lain, maka tentunya Mengqadha puasa di bulan ini juga lebih utama dari pada puasa sunnah lainnya.

والله أعلمُ بالـصـواب

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•

2️⃣
📝 PERTANYAAN:

Bagaimana hukum makan dan minum karena lupa saat puasa sunnah?

➖➖➖➖➖

📚 JAWABAN :

Wa’alaikumussalam Warohmatullahi Wabarakatuh.

Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini.

Jumhur(mayoritas) ulama seperti Abu Hanifah, Syafi’i, Ahmad, al-Hasan al-Bashri, Mujahid, Ishaq, Abu Tsaur, Dawud, Atho, al-Auza’i dan al-Laits berpendapat bahwa seseorang yang berpuasa lalu makan atau minum karena lupa, maka tidak merusak/membatalkan puasanya sedikitpun, baik banyak atau sedikit.

• Sedangkan Rabi’ah dan Malik berpendapat bahwa makan dan minum karena lupa saat puasa adalah merusak puasanya dan wajib qodho (mengganti puasa).

📍 Adapun yang rajih (kuat) dan shahih adalah pendapat pertama ( jumhur ), karena banyak dalilnya.

Diantara dalilnya adalah :
🔹Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi  ﷺ bersabda,

« من أكل ناسيا وهو صائم فليتم صومه فإنما أطعمه الله وسقاه »

“Barangsiapa yang makan karena lupa sedangkan ia puasa, maka hendaknya ia menyempurnakan puasanya. Karena Allah-lah yang telah memberi dia makan dan minum.” ( Muttafaq ‘alaihi ).

Imam Malik berpendapat bahwa hadits di atas konteksnya adalah untuk puasa sunnah saja, bukan puasa Ramadhan. Namun, pendapat beliau dibantah bahwa kata “sho’im” pada hadits di atas, berbentuk nakiroh (indefinitif), oleh karena itu sifatnya umum untuk semua puasa, baik sunnah maupun wajib.

🔹Tentang Puasa Ramadhan, Sabda Nabi  ﷺ  secara tegas menyatakan,

« من أفطر في شهر رمضان ناسيا فلا قضاء عليه ولا كفارة »

“Barangsiapa yang berbuka (makan/minum) di bulan Ramadhan karena lupa, maka tidak ada kewajiban qodho maupun kaffarah atasnya.”
( HR Ibnu Hibban, Thabrani dan Ibnu Khuzaimah ).

🔹Di dalam riwayat lainnya, ada seorang sahabat datang kepada Nabi dan berkata,

« يا رسول الله إني أكلت وشربت ناسيا وأنا صائم

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku makan dan minum karena lupa padahal aku puasa.”

Nabi  ﷺ menjawab,

أطعمك الله وسقاك »

“Allah sendiri yang telah memberimu makan dan minum.”
( HR Abu Dawud dan Nasa’i serta at-Turmudzi dan beliau nilai hasan shahih ).

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa orang yang makan dan minum karena lupa saat berpuasa, baik itu puasa sunnah atau wajib, baik yang dimakan banyak atau sedikit, adalah tidak membatalkan puasanya.

• Hal ini selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

( وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَٰكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا )

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
( QS al-Ahzab: 5 )

• Juga di dalam doa yang terdapat di ayat terakhir surat al-Baqarah yang sering kita baca,

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.”

• Juga di dalam hadits Nabi,

« إن الله وضع عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه »

“Sesungguhnya Allah mengampuni umatku karena kekeliruan (ketidaksengajaan), lupa dan karena dipaksa.”
( HR. Ibnu Majah ).

📜 Kesimpulan : Puasa anda tidak batal dan silakan menyelesaikan puasa sampai selesai.

🌐 Banyak mengambil faidah dari : http://ar.islamway.net/fatwa/30796/حكم-من-أكل-أو-شرب-ناسيا-في-صوم-التطوع

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•

3️⃣
📝 PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum ustadz.

Kalau kita lupa mau puasa, sedangkan sudah jam 6 baru sadar ini hari kamis, apakah kita masih bisa puasa padahal kita tadi jam 5:30 sempat makan.
(Dahren, Bekasi)

➖➖➖➖➖

📚 JAWABAN :

Wa’alaikumussalam Warohmatullahi Wabarakatuh.

Ada pertanyaan senada disampaikan di situs islamweb, sebagai berikut,

Pertanyaan :
“Apakah diperkenankan bagi seseorang yang belum berniat puasa (sunnah) dan sudah masuk waktu siang, sedangkan ia belum makan, minum dan belum melakukan hal yang dapat membatalkan puasanya agar menyempurnakan puasanya?”

• Sejumlah orang berdalil mengenai hal ini dengan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bahwa tatkala beliau bertanya tentang makanan kepada keluarga beliau, dijawab bahwa tidak ada sesuatu apapun untuk dimakan, maka Nabi mengatakan bahwa saya berniat puasa hari ini.

• Sebagian lagi berdalil bahwa amalan itu tergantung niatnya.

• Di sisi lain, ada orang yang biasa berpuasa pada hari Kamis, kemudian ketika tiba hari Kamis dirinya tidak sadar bahwa hari itu adalah hari Kamis sehingga dia makan dan minum. Setelah itu ia teringat bahwa hari itu adalah hari Kamis. Apakah ia menyempurnakan puasa ataukah berbuka?
Semoga Allah memberi anda Taufik kepada segala kebaikan. Barakallahu lakum.

Jawaban :
Setelah tahmid dan shalawat.

• Diperkenankan bagi orang yang tidak mendapatkan makan, minum atau hal yang semisal yang dapat membatalkan puasa, untuk berniat puasa sunnah setelah waktu fajar. Karena puasa sunnah tidak dipersyaratkan keabsahannya harus berniat dari semenjak malam hari menurut pendapat jumhur ulama.
Adapun puasa wajib maka dipersyaratkan keabsahannya harus ada niat sebelumnya di malam hari.

• Adapun hadits setiap amal tergantung niatnya, maka tidak tepat dijadikan dalil untuk menunjukkan ketidakabsahan puasa sunnah seperti kondisi yang telah disebutkan. Karena seseorang telah dianggap berniat puasa (sunnah) dari waktunya dan niat tersebut ada walau tidak dari awal.

Dan perbuatan Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam merupakan dalil yang nyata tentang hukum berniat puasa sunnah di siang hari dalam kondisi tidak ada makanan.

• Adapun pertanyaan yang terakhir, maka tidak sah puasa orang tersebut dalam kondisi seperti ini (yaitu lupa hari), maka dari itu ia tidak dituntut untuk terus melanjutkan puasanya karena puasanya tersebut tidak sah. Wallahu a’lam.

🌐 http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=187849

👆🏻Jawaban di atas sebagai ralat atas jawaban sebelumnya.

•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•

4️⃣
📝 PERTANYAAN:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Afwan Ustadz,
teman ana setiap hari puasa dengan alasan saat berpuasa beliau merasa bisa mencegah dari perbuatan maksiat. Bolehkah puasa seperti ini?
Apakah tidak termasuk bid’ah?

Catatan : beliau berpuasa bukan karena masalah syahwat karena beliau sudah menikah.

Jazakallahu khair atas jawabannya Ustadz.

➖➖➖➖➖

📚 JAWABAN :

وعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Puasa setiap hari itu disebut dengan Puasa Dahr atau Puasa Abad.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

« لَاصَامَ مَنْ صَامَ الْأَبَدَ »

“Tidak ada puasa bagi orang yang puasa selamanya.”
[ 📔 Muttafaqun ‘Alaihi ]

📌 Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum puasa ini :

1. Boleh menurut Malikiyah, Syafiiyah dan Hanabilah. Namun apabila menyebabkan kepayahan, maka makruh hukumnya.

2. Makruh menurut Hanafiyah. Ibnu Qudamah dan Ibnu Taimiyah juga memakruhkannya.

3. Haram menurut madzhab Zhahiriyah.

Pendapat yang kuat adalah hukumnya makruh dan tidak termasuk bid’ah kecuali jika di dalam ibadahnya ada ritual atau niatan tertentu yang tidak benar seperti tabattul (hidup membujang).

والله أعلمُ بالـصـواب


Pertanyaan dijawab oleh :

ℳـ₰✍
​✿❁࿐❁✿​
@abinyasalma

🔗 Silahkan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber.


👥 Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ Telegram:  https://t.me/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 Facebook : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 Instagram : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad