Tag Archives: riba

Q&A : SAHKAH SHALAT PELAKU RIBA DAN BOLEHKAH IBADAH HAJI ATAU UMRAH DARI HASIL RIBA ?

🇹‌🇷‌🇦‌🇳‌🇸‌🇰‌🇷‌🇮‌🇵

╔════════════╗
TANYA JAWAB #AUDIO🎙
╚════════════╝

SAHKAH SHALAT PELAKU RIBA DAN BOLEHKAH IBADAH HAJI ATAU UMRAH DARI HASIL RIBA ?

📝 PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum.

Seorang pedagang yang melakukan riba dengan meminjam uang di bank, apakah amalan sholatnya tetap diterima? Dan keuntungan yg didapat digunakan untuk umroh dan berhaji, apakah ibadah umroh dan hajinya diterima? Mohon penjelasannya ustadz?

Jazakallahu khoir

➖ ➖➖➖➖➖➖

📚 JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

1⃣ Tentang sahkah shalat pelaku maksiat.

Setahu saya, diantara syarat diterimanya shalat seseorang itu tidak ada yang poinnya dia harus terbebas dari maksiat baik itu khamr, zina, mencuri, ataupun riba.

Jika ada yang berasumsi bahwa pelaku perbuatan maksiat shalatnya tidak diterima oleh Allah, maka dia harus membawakan dalilnya dari Rasulullah ﷺ. Dan selama ini saya belum pernah tahu. Bahkan sepatutnya pelaku kemaksiatan tetap harus menegakkan kewajiban-kewajiban Allah, diantaranya adalah menegakkan shalat dan tidak boleh meninggalkannya. Karena apabila dia meninggalkan shalat, maka dia akan menumpuk kemaksiatan yang lebih banyak lagi.

Apakah amalan shalatnya akan diterima?

Amalan shalatnya tetap akan diterima oleh Allah apabila shalatnya ikhlas karena Allah dan mengikuti cara Rasulullah ﷺ.

Memang waktu itu sempat ada tulisan di broadcast bahwa ada 10 amalan yang mana jika dilakukan shalatnya tidak diterima oleh Allah. Tulisan tersebut disandarkan kepada Rasulullah ﷺ. Namun sampai saat ini saya belum pernah mengetahui dan belum pernah mendapati redaksi hadits tersebut. Dan itu adalah termasuk hadits-hadits palsu yang disebarluaskan.

Dalam hal ini bukan artinya meremehkan riba. Bicara riba itu urusan lain lagi. Disini kita bicara tentang masalah ibadah shalat yang diterima atau tidak.
Kita semua tahu bahwa riba jelas haram hukumnya. Banyak hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan buruknya riba. Didalam beberapa hadits disebutkan bahwa dosa riba lebih buruk bahkan disamakan dengan menzinai ibu kandung sendiri. Masih banyak riwayat-riwayat lain yang menunjukkan tentang betapa buruknya riba. Dan Allah menyebutkan didalam Al-Qur’anul Karîm tentang dosa riba ini,

{الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَن جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ}

“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah : 275)

2⃣ Tentang bolehkah ibadah haji atau umroh dari hasil riba.

Kalau itu keuntungan yang dia peroleh dari hasil riba, maka tidak diperbolehkan karena dia telah memanfaatkan uang riba tersebut dan ini hukumnya haram.
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan,

«إنَّ اللّٰهَ تَعَالىَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا»

“Sesungguhnya Allah Ta’âlâ adalah Dzat yang sifatnya baik ( thayyib ). Allah tidak akan menerima kecuali yang baik pula.”

Karena itu hendaknya pedagang tersebut berusaha melepaskan dirinya dari riba. Seharusnya dia menunaikan ibadah umroh atau hajinya dengan harta yang jelas halal.
Jika dia berhaji dan umrah dengan uang hasil riba maka hajinya sah. Namun diterima atau tidak oleh Allah maka wallâhu ta’âlâ a’lam bish shawâb.
Sama halnya dengan orang yang berinfak atau bersedekah dari uang hasil mencuri, maka ini juga tidak diterima oleh Allah Subhânahû wa Ta’âlâ.

والله تعالى أعلم بالصواب…

••• ═════ ••• ═════ •••
Dijawab oleh :
🎙 Ustadz Abu Salma
Muhammad حفظه الله تعالى

Ditranskrip oleh :
Tim Transkrip Al-Wasathiyah
••• ═════ ••• ═════ •••

👥 WAG Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG : https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

Q&A : APAKAH TERMASUK AKTIVITAS RIBA JIKA KARYAWAN DITEMPATKAN DIBANK DARI JALUR OUTSOURCING ?

🇹‌🇷‌🇦‌🇳‌🇸‌🇰‌🇷‌🇮‌🇵

╔════════════╗
TANYA JAWAB #AUDIO🎙
╚════════════╝

APAKAH TERMASUK AKTIVITAS RIBA JIKA KARYAWAN DITEMPATKAN DIBANK DARI JALUR OUTSOURCING ?

📝 PERTANYAAN :

اَلسَّـلَامُ عَلَـيْكُمْ وَرَحْـمَةُ اللّٰهِ وبَـرَكَاتُـّهُ

Ustadz, Fulan bekerja di salah satu bank, tapi fulan bekerja disana melalui jalur outsourcing. Pelamar yang melamar di PT lewat jalur outsourcing tersebut diberikan tempat secara random, ada yang disalurkan ke kantor, ke rumah sakit, dan ke bank. Qodarullah fulan ditempatkan di bank.

Apakah fulan juga termasuk sebagai karyawan yang melakukan aktifitas riba seperti karyawan bank lain meskipun fulan bukan karyawan dibawah naungan pihak bank secara langsung? Karna bila iya, dikhawatirkan fulan selama ini mencari nafkah dengan cara haram karna berbakti ke perusahaan yang bergerak di bidang riba .

جَزَاك اللهُ خَيْرًا وبَارَكَ اللَّهُ فِيْك

➖ ➖➖➖➖➖➖

📚 JAWABAN :

Yang menjadi pokok masalah disini adalah ketika seseorang itu berinteraksi langsung dengan aktivitas ribawi maka itu hukumnya HARAM.

📌 Misalnya, saya mempunyai perusahaan yang bergerak dibidang advertising. Ketika saya membuat advertising itu hukum asalnya adalah MUBAH.
Saya membuat iklan untuk berbagai macam perusahaan dengan ragam produk tentunya. Ketika saya diminta untuk membuat iklan rokok, maka disitu saya harus menolaknya karena disini hukumnya haram.

⚠ Dan sama halnya ketika saya harus membuat iklan tentang Bank atau saya bekerjasama dengan Bank yang jelas-jelas bersinggungan langsung dengan praktek ribawi, kemudian saya mengajak orang-orang untuk menabung di Bank. Maka ini adalah suatu hal yang tidak boleh saya lakukan.

⚠ Atau kasus lain ketika saya membuat iklan shampo yang hukum asal produknya adalah mubah, tapi di situ harus melibatkan wanita-wanita yang membuka pakaiannya (maaf “telanjang”), maka seperti ini saya juga harus menolaknya.

📌 Secara umum perusahaan saya bergerak di dalam bidang yang mubah, tapi apabila itu berkaitan langsung dengan transaksi yang haram maka akan menjadi haram.

🔹Hukumnya akan menjadi sama ketika fulan tersebut bekerja diperusahaan outsourcing, kemudian dia ditempatkan diperusahaan, kantor, rumah makan atau di hotel, maka di situ dia akan mendapatkan pekerjaan yang secara asal adalah halal atau mubah.

⚠ Tapi ketika dia ditempatkan di Bank atau perusahaan ribawi yang mana perusahaan ini 100% bergerak dibidang ribawi, maka hendaklah dia menolak dan tidak menerimanya. Karena jika diterima maka penghasilannya adalah penghasilan ribawi yang haram.

Wallāhu Ta’ãlā a’lam bish shawāb

••• ═════ ••• ═════ •••
Dijawab oleh :
🎙 Ustadz Abu Salma
Muhammad حفظه الله تعالى

Ditranskrip oleh :
Tim Transkrip AWWI
••• ═════ ••• ═════ •••

👥 WAG Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG : https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad