Tag Archives: mudharat

Q&A : SUAMI MEMINTA UNTUK MENGHADIRI YANG BUKAN KAJIAN SUNNAH

🇹‌🇷‌🇦‌🇳‌🇸‌🇰‌🇷‌🇮‌🇵

╔════════════╗
TANYA JAWAB #AUDIO🎙
╚════════════╝

SUAMI MEMINTA UNTUK MENGHADIRI YANG BUKAN KAJIAN SUNNAH

📝 PERTANYAAN :

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Baarakallahufiik ustadz,

Afwan, ada yg bertanya ke ana bagaimana jika seorang istri disuruh suami hadir di kajian yg pengurus kajiannya adalah suaminya tapi kajian di masjid tersebut belum sunnah, apakah harus tetap mengikuti perintah suami walau di dalam hatinya menolak apa yang disampaikan dalam kajian tsb?

Jazaakallahu khayran

➖ ➖➖➖➖➖➖

📚 JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

وَ فِيْك بَارَكَ اللَّهُ

📌Ini memang suatu yang dilematis sekali dikarenakan :

🔹️Seorang muslim harus berhati-hati dan waspada di dalam mengambil ilmu dan juga harus selektif didalam mencari ilmu. Selain itu seorang muslim juga hendaknya mencari ilmu yang meyakinkan dari orang-orang yang dia yakini bisa dipertanggungjawabkan keilmuannya.
🔹️Di sisi lain seorang istri wajib mentaati perintah suaminya selama itu bukan didalam perkara kemaksiatan.

📌 Dalam hal ini suami meminta istri untuk hadir di suatu kajian ilmu/kajian Islam, secara hukum asal adalah baik akan tetapi yang menjadi masalah adalah di kajian tersebut ternyata ustadz yang mengisi kajian bukan yang biasa dikenal mengajarkan sunnah.

Apakah tetap harus mentaati suami dalam hal ini ? Jika di dalam kajian tsb yang diajarkan adalah bid’ah, menyelisihi manhaj yang benar atau banyak penyimpangan aqidah, maka hendaklah istri tidak hadir ke majelis tersebut. Karena tidak ada ketaatan dalam hal ini mentaati suami di dalam perkara-perkara yang tidak ma’ruf atau maksiat.

Suami memang tidak memerintahkan istri untuk bermaksiat, tetapi suami memerintahkan istri untuk hadir di majelis yang di dalamnya terdapat syubhat. Istri berhak menolak namun hendaknya menolak secara baik-baik dan tidak menyakiti hati suami.

📌Jika suami memaksa dan jika tidak ditaati mudharatnya lebih besar maka istri boleh untuk hadir ke majelis tsb. Namun jika yg disampaikan itu syubhat maka hendaknya dia hadir saja tetapi tidak perlu mendengarkan isi kajiannya. Sibukkan diri dengan mendengarkan murottal melalui handsfree atau melakukan aktifitas lain.

📌 Jika istri mampu dan bisa, istri bisa ikut menjadi panitia kajian juga dengan harapan bisa memberikan usulan agar ustadz yang mengisi kajian adalah yang biasa dikenal mengajarkan sunnah

📌 Hendaklah sang istri menasehati suami dengan cara yang baik, mendakwahinya, mengajak suami untuk belajar atau ke kajian sunnah. Dan jangan lupa untuk selalu mendoakan suami.

📌 Kesimpulannya, jika istri bisa menolak untuk tidak hadir ke kajian tersebut, tolaklah. Namun jika tidak karena dikhawatirkan mudharatnya lebih besar, maka ikuti kemauan suami dengan terus berusaha untuk mendakwahi dan mendoakan suami.

والله أعلمُ بالـصـواب

••• ═════ ••• ═════ •••
Dijawab oleh :
🎙 Ustadz Abu Salma
Muhammad حفظه الله تعالى

Ditranskrip oleh :
Tim Transkrip Al-Wasathiyah
••• ═════ ••• ═════ •••

👥 WAG Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG : https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

Q&A : PENJELASAN TAFSIR SURAT AN-NUR AYAT 26

‌🇹‌🇷‌🇦‌🇳‌🇸‌🇰‌🇷‌🇮‌🇵
╔════════════╗
QUESTION ANSWER AUDIO 🎙
╚════════════╝

PENJELASAN TAFSIR SURAT AN-NUR AYAT 26

📝 PERTANYAAN :

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh.

Ustadz.

Bagaimana tafsir dan maksud dari Surat An-Nur ayat 26, tentang perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki keji untuk perempuan keji pula sedangkan perempuan baik untuk laki-laki baik dan laki-laki baik untuk perempuan baik. Sedangkan ada beberapa kasus, yang perempuannya baik tetapi laki-lakinya tidak begitupun sebaliknya. Mohon penjelasannya ustadz. Jazakallah khairan wa barakallah fiik ustadz.

Jazaakallahu khayran.

➖➖➖➖➖➖➖

📚 JAWABAN :

Wa’alaikumussalãm warahmatullãhi wabarokātuh.

Di dalam surat an-Nur ayat 26, Allah Subhãnahù wa Ta’ãlã berfirman,

اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِ ۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِ ۚ اُولٰٓئِكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَ ۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”.
(QS. An-Nur : Ayat 26)

Ayat ini memang turun dalam rangka untuk membela dan mensucikan ibunda ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā ketika beliau difitnah oleh orang-orang yang memiliki penyakit hati, yaitu orang-orang munafiqîn dan juga orang-orang Syi’ah. Mereka menuduh ibunda ‘Aisyah radhiyalláhu ‘anhā melakukan perbuatan keji.

Mengenai makna dari ayat ini adalah :

📒 PERTAMA
Ayat ini memiliki dua penafsiran yang biasa di sebut di kalangan ulama dengan istilah ikhtiláf tanawwu’ (إختلاف التنوع), yaitu perbedaan yang bersifat variasi, tidak saling kontradiksi bahkan saling melengkapi.

Ada diantara ulama yang memaknai ” al-khabītsātu lil khabītsîna” sebagai ucapan (الأقوال), yang maknanya adalah ucapan-ucapan yang buruk/keji. Artinya, ucapan-ucapan yang jelek adalah untuk orang-orang yang jelek, baik itu laki-laki maupun perempuan. Orang-orang yang jelek dan keji memang layak mendapatkan perkataan keji.

Sedangkan “at-thayyibát lit thayyibīn” (perkataan-perkataan baik), itu adalah untuk orang-orang yang baik, baik itu laki-laki ataupun perempuan. Jadi makna dari “al-khabìtsāt wat-thayyibāt” adalah perkataan yang baik ataupun yang buruk.

📒 KEDUA
Maknanya adalah, “al-khabìtsātu” (wanita-wanita yang keji/jelek) diperuntukkan bagi “al-khabìtsìna” (laki-laki yang keji/jelek).
Demikian pula sebaliknya, “wal khabìtsùna lil khabìtsát”, yaitu laki-laki yang keji itu memang layak untuk mendapatkan wanita yang keji. Sedangkan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Makna ini adalah makna yang saling melengkapi.

Lalu bagaimana jika ada perempuan yang baik menikah dengan laki-laki yang tidak baik ?

▫Nabi ﷺ memerintahkan agar sebelum menikah baik laki-laki ataupun perempuan agar melihat secara teliti agama calonnya. Ketika ada seorang laki-laki yang baik agamanya atau akhlaknya, maka hendaknya wali dari sang wanita menerima laki-laki tersebut.

▫Mayoritas ‘ulama sepakat bahwa di dalam pernikahan hendaknya harus SEKUFU/setara. Kufu disini lebih diutamakan adalah sekufu dalam masalah agama. Oleh karena itu wanita yang shalihah, yang berhijab syar’i, yang banyak hafal Al-Qur’an, seyogyanya tidak menikah dengan laki-laki yang suka minum khamr, suka melakukan kemaksiatan. Karena tentunya ini akan menyebabkan kerusakan yang lebih besar.

▫Demikian pula jika laki- laki yang shalih, gemar ke masjid, hafidz Al-Qur’an, namun dia menikah dengan (maaf) PSK misalnya, dengan wanita yang suka berzina, maka ini tidak akan layak bagi kehidupan dia. Sebab biasanya para PSK ini akan berkumpul dengan laki-laki hidung belang. Karena “al-khabìtsātu lil khabìtsìna.*”

▫Dalam kasus perempuan yang baik tapi lelakinya tidak baik ini karena dari awal ketika jelang proses menikah tidak melakukan anjuran Nabi ﷺ untuk memeriksa pasangannya, khususnya dalam masalah agama dan akhlaknya.

Lantas bagaimana jika kasus diatas sudah terjadi ?

❶ Bersabar.
❷ Berusaha untuk mendakwahi, mengingatkan, dan menasehati.
❸ Apabila kita sudah melakukan bersabar kemudian kita sudah mendakwahinya, mengingatkannya, tetapi pasangan kita selalu melakukan kemaksiatan dan keburukan yang dapat mengganggu, mencederai agama kita dan memberikan mudhorot untuk agama kita, maka tidak ada jalan lain kecuali kita harus berpisah (cerai). Ini adalah jalan yang lebih baik.

🍃 Hendaknya laki-laki yang baik atau wanita yang baik itu dia mencari pasangan yang sama baiknya pula.

Wallāhu Ta’ālā a’lam bish shawāb

••• ═════ ••• ═════ •••
Dijawab oleh :
🎙 Ustadz Abu Salma
Muhammad حفظه الله تعالى

Ditranskrip oleh :
Admin 6
••• ═════ ••• ═════ •••

👥 WAG Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG : https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad