Tag Archives: kekeliruan

Q&A : APA YANG DIMAKSUD HADHARAH DAN MADANIYAH ?

🇹‌🇷‌🇦‌🇳‌🇸‌🇰‌🇷‌🇮‌🇵
╔════════════╗
QUESTION ANSWER AUDIO 🎙
╚════════════╝

APA YANG DIMAKSUD HADHARAH DAN MADANIYAH ?

📝 PERTANYAAN :

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apakah yang dimaksud dengan Hadharah dan Madaniyah menurut Ahlus sunnah? Syukron

جزاك الله خيراً

Jazaakallaahu khairan

➖➖➖➖➖➖➖

📚 JAWABAN :

Wa’alaikumussalām warahmatullāhi wabarakātuh.

📒 Saya belum pernah dapati kata Hadharah dan Madaniyah ini dalam kitab-kitab para ulama salaf ataupun terminologi (istilah) yang ma’ruf (populer) dikalangan para salaf kecuali di waktu-waktu belakangan ini, ketika ilmu-ilmu sosial mulai merebak, terminologi ini muncul.

Kalau kita terjemahkan kata Hadharah maknanya adalah peradaban atau culture. Hadharah dan Madaniyah memiliki arti yang sama, keduanya punya arti peradaban. Tapi kalau Hadharah menyangkut soal norma-norma, sedangkan Madaniyah itu menyangkut suatu aturan yang ada pada civil society (masyarakat yang beradab).

Kata Madani bukan dinisbatkan pada kota Madinah, tapi maksudnya adalah masyarakat perkotaan.
Oleh karena itu jika kita menemukan suatu terminologi baru maka kita harus TAHRÌRUL MUSTHALAH, yaitu harus menegaskan makna dari terminologi tersebut.

🏠 Hadharah dan Madaniyah adalah suatu terminologi yang umum digunakan oleh semua bangsa, rakyat, suku bahkan oleh semua agama. Masing-masing memiliki Hadharah dan Madaniyah yang berbeda-beda. Mereka memiliki norma-norma, aturan-aturan dan peradaban yang berbeda-beda.

❓Bagaimana Ahlusunnah menyikapi hal ini? Tentunya yang sesuai dengan ahlus sunnah adalah Hadharah atau Madaniyah yang berangkat dari peradaban yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan juga diamalkan oleh para sahabat beliau, para tabi’in, tabi’ut tabi’in. Dan ini adalah hadharah yang baik, paling utama, dan paling istimewa. Mereka adalah generasi yang paling baik sehingga mereka pastinya memiliki peradaban yang paling baik pula. Dan ini yang harus kita perhatikan.

Karena hadharah atau peradaban, atau culture yang paling utama dan paling baik adalah yang sesuai dengan apa yang Allah Subhānahū wa Ta’ālá ridhai dan kehendaki, yaitu yang ada didalam Al-Qur’an dan apa yang sudah dijelaskan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, baik itu berupa adab, etika, nilai-nilai ekonomi, sosial, maupun kemasyarakatan. Maka semuanya harus kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah berdasarkan pemahaman salaful ummah.

📑 Adapun istilah Hadharah atau Madaniyah yang dipahami oleh orang-orang Liberalis atau Pluralis, dan orang-orang yang terpengaruh dengan ilmu-ilmu seperti ini, selama itu tidak berangkat dari Al-Qur’an dan sunnah atau menyelisihi Al-Qur’an dan sunnah, maka sudah pasti menyimpang dan keliru.

Wallāhu Ta’ālā a’lam bish shawāb

••• ═════ ••• ═════ •••
Dijawab oleh :
🎙 Ustadz Abu Salma
Muhammad حفظه الله تعالى

Ditranskrip oleh :
Admin 6
••• ═════ ••• ═════ •••

👥 WAG Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG : https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

Q&A : APAKAH IMAM AL BAIHAQI BERAQIDAH ASY’ARIYAH ❓

الوسطية والاعتدال

Question Answer Audio :

APAKAH IMAM AL BAIHAQI BERAQIDAH ASY’ARIYAH ❓

Pertanyaan :

اَلسَّـلَامُ عَلَـيْكُمْ وَرَحْـمَةُ اللّٰهِ وبَـرَكَاتُـّهُ

Apakah Imam al Baihaqi beraqidah as’ariyah ??.. Mohon penjelasannya ustadz
جـزاك الله خـيرا
➖➖➖➖➖➖

Jawaban :

Wa’alaykumussalâm Warahmatullâhi Wabarakâtuh

Berkenaan dengan Imam Al Baihaqi, prinsip yang harus kita pegang adalah semua manusia bahkan ulama, sealim apapun dia tidak akan terlepas dari kesalahan/kekeliruan. Hanyalah Rosulullah ﷺ manusia yang terjaga dari kesalahan. Adapun selain beliau ﷺ maka bisa benar bisa salah, yukhtik wa yussib.

Prinsip ahlussunnah adalah :
jika ucapan ulama menyelisihi ucapan Rosulullah ﷺ maka ucapan ulama tsb tidak kita terima/ambil/ikuti. Kita lebih mengedepankan pendapat Rosulullah ﷺ.

Allah سـبحانـه وتعـالى ketika menciptakan makhluk, DIA tidak memberikan kesempurnaan pada makhluk-Nya, pasti ada kekurangan/aib nya.

Diantara hikmah-Nya adalah, sekiranya hamba Allah itu tidak pernah melakukan kesalahan, maka ia bisa berlaku sombong, pongah lagi ujub dengan diri sendiri.

Karena itu, Allah meletakan kekeliruan dan kesalahan, dan semua anak keturunan Adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau rujuk dan kembali bertaubat. Termasuk para ulama, setinggi apapun tingkat keilmuannya, pasti juga memiliki kesalahan. Karena itu, jika ulama saja demikian, apalagi kita?! Tentunya memiliki lebih banyak kesalahan.
Meski demikian, jika kita melihat seorang ulama yg lebih berlimpah kebaikannya dibandingkan kekeliruannya, maka wajib kita menghormatinya, dan tetap memuliakan beliau. Seperti imam Al-Baihaqi, imam Al- Baqilâni dan ulama lainnya yang bermadzhab Asy’ariyah.

Ada sebagian pendapat mereka yang selaras dengan pendapat para salaf, namun ada juga pendapat merka yang jatuh pada kesalahan/kekeliruan.
Yang selaras kebenaran wajib diambil, sedangkan yang menyelisihinya tidak boleh kita ambil, namun ingat! Harus tetap memuliakan mereka.

Berkenaan dengan Imam Baihaqi, Syaikul Islam Ibnu Taimiyah رَحٍـمًهٌ الله menyebut beliau dengan berbagai sebutan pujian dan sanjungan, seperti sebutan beliau kepada Imam Baihaqi dengan “fudhola al Asy’ariyah” (orang asy’ariyah yang memiliki kemuliaan).
Beliau juga mengatakan : “ al-Hafizh al Baihaqi aqrobu ilas sunnah min katsiiri min madzhaabil al asy’ariyah al mutta’akhiriin.” Yaitu, al Baihaqi adalah ulama ahli hadits yang paling dekat kepada sunnah dibandingkn ulama asy’ariyah umumnya di zaman kini.

Sama halnya ketika Syaikh Bin Baz mengomentari kitab al Baihaqi yang berjudul Al I’tiqood : “Kitab Imam Al-Baihaqi tersebut banyak yang sesuai dengan salaf dalam banyak pembahasannya dan juga ada yang menyelisihi manhaj salaf dalam beberapa hal lainnya.” Ada beberapa kekeliruan al-Baihaqi, namun tidak mempengaruhi atau mengurangi pujian Syaikh terhadap beliau. Beliau adalah ulama ahlussunnah.

Bagaimanapun Imam al-Baihaqi adalah ulamanya kaum muslimin yang banyak memberi manfaat & maslahat.

Apabila setiap ulama yang keliru lalu kita tinggalkan maka tidak ada satupun ulama yang selamat, sehingga tidak mungkin kita bisa beristifadah (mengambil faidah ilmu) dari para ulama. Karena, tidak ada ulama yang bebas dari kekeliruan.

Karena itulah, kekeliruan Imam Al Baihaqi dalam bab Asma’ wa shifât kita tidak terima, namun kita tetap memuliakan beliau رَحـمه الله

واللّٰـه أعـلم بـالصـواب

🔊Jawaban Q&A audio oleh:

Ustadz Abu Salma Muhammad Muhammad حفظه الله تعالى

✏Ditranskrip secara ringkas oleh Ika Ummu Royyan ( Admin )

__________________

✉Grup WhatsApp Al-Wasathiyah Wal I’tidål
♻Telegram: https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
💠Facebook : http://fb.me/wasathiyah
🔰Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 Instagram : http://instagram.com/alwasathiyah
🌀Mixlr : http://mixlr.com/abusalmamuhammad/