Tag Archives: ijtihad

Q&A : APAKAH ADA KHILAF DALAM PERAYAAN MAULID

‌╔════════════╗
QUESTION ANSWER
╚════════════╝

APAKAH ADA KHILAF DALAM PERAYAAN MAULID

📝 PERTANYAAN :

Bismillah
Ustadz, saya mau nanya apakah haramnya Maulid para ulama beda pendapat? Mohon penjelasannya. Karena saya sharing tentang haramnya Maulid ada yang komen “kita harus saling menghormati perbedaan pendapat”
Jazakallahu khairan ustadz

➖➖➖➖➖➖

📚 JAWABAN :

👉 Iya, ada perbedaan pendapat. Tapi tidak semua perbedaan pendapat itu dianggap. Apalagi perbedaan pendapat antara Ahlus Sunnah dengan selain Ahlus Sunnah, maka ini khilaf (perbedaan) pendapat yang lemah. Karena yang menganjurkan perayaan maulid tidak memiliki dalil, hujjah dan argumentasi melainkan hanya ucapan sebagian ulama, sedangkan ucapan ulama bukanlah hujjah dan dalil.

«أقوال العلماء ليس بالدليل وأقوالهم يستدل لها وبها»

Ucapan ulama itu bukanlah dalil, dan pendapat mereka itu hanya boleh dijadikan untuk mendukung dalil, bukan malah dijadikan dalil.”

👉 Jadi, masalah perayaan maulid Nabi bukanlah perbedaan ijtihadiyah, karena tidak ada ijtihad di dalam membuat-buat suatu ibadah (dan perayaan MAULID menurut pelakunya adalah bagian ibadah karena menganggap melakukannya berpahala).

👉 Itu ucapan kawan ibu untuk menghormati perbedaan pendapat adalah,

«كلمة الحق اريد بها باطل»

Ucapan yang benar namun dimaksudkan dengannya suatu hal yang salah.

Ada suatu kaidah yang sering kita dengar,

«لا إنكار في مسائل الإجتهادية»

“Tidak boleh ada pengingkaran di dalam masalah ijtihadiyah (yang masih bisa diperdebatkan di kalangan ulama).”

☝🏻Kaidah di atas adalah umum dan memiliki perincian. Kaidah yang umum bisa disalahpahami dengan pemahaman yang keliru, karena itu perlu ditafshil (dirinci) lagi.

Syaikh Shalih Âlu Syaikh memperincinya sebagai berikut,

«وهذا يدخل في صورتين :
الصورة الأولى ما كان مُجمعاً عليه .
والصورة الثانية ما كان مُختَلَفاً فيه ولكن الخلاف فيه ضعيف ، فهذا يُنكَر .
ما أُجْمِعَ عليه ينكر وما اختُلِف فيه ولكن الخلاف فيه ضعيف أيضاً تنكره .
ما أُجْمِعَ عليه واضح مثل إنكار الزنا والسرقة والرشوة إلى آخره .
وما اختُلِف فيه ولكن الخلاف فيه ضعيف هذا أيضاً يجب إنكاره .
وما اختُلِف فيه والخلاف فيه قوي هذا لا يُنْكَرْ ، بل لا يجوز إنكاره ولكن يُنَاَظُر فيه ويُجَادَلُ فيه ويبحث فيه.»

“Hal ini (melakukan pengingkaran) memiliki 2 gambaran :
▪ Gambaran pertama adalah perkara yang sudah disepakati.
▪ Gambaran kedua adalah perkara yang masih diperselisihkan, namun perselisihan di dalamnya adalah lemah, maka yang demikian tetap harus diingkari.
👉🏻 Suatu perkara yang sudah disepakati (larangannya) maka harus diingkari, dan suatu pendapat yg ada perselisihan di dalamnya, namun perselisihan di dalamnya lemah juga tetap harus diingkari.
▪ Perkara yang disepakati (larangannya) itu sudah jelas, seperti mengingkari zina, mencuri, suap, dan lain-lain (maka wajib diingkari).
▪ Perkara yang masih diperselisihkan namun perselisihan di dalamnya lemah, maka ini tetap wajib diingkari.
(Contohnya sebagian Ahnaf – pengikut madzhab Abu Hanifah – yang memperbolehkan nabidz (sari kurma yang terfermentasi dan menjadi khamr), pendapat mereka ini lemah sehingga tetap wajib diingkari, pent).
▪ Adapun perkara yang diperselisihkan dan perselisihannya itu kuat, maka tidak diingkari. Bahkan tidak boleh mengingkarinya, akan tetapi harus berdiskusi, berdialog dan membahasnya.
(Seperti perselisihan dalam hal i’tidâl, apakah tangan bersedekap ataukah dilepaskan ke bawah, atau juga menggerakkan jari telunjuk saat tasyahhud, pent)”

✅ Kesimpulan
TIDAK SEMUA PERBEDAAN PENDAPAT ITU DIANGGAP DAN DIBERIKAN UDZUR.

والله تعالى أعلم بالصواب…

______________
✒️ Dijawab oleh :
Ustadz Abu Salma
Muhammad حفظه الله تعالى

ℳـ₰✍
✿❁࿐❁✿
@alwasathiyah

🔗 Silakan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber.
______________
👥 Grup WhatsApp Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ Telegram: https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 Facebook : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 Instagram : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

Q&A : BOLEHKAH MEMBACA SURAT SECARA MUNDUR SAAT MURAJA’AH ?

‌🇹‌🇷‌🇦‌🇳‌🇸‌🇰‌🇷‌🇮‌🇵
╔════════════╗
QUESTION ANSWER AUDIO 🎙
╚════════════╝

BOLEHKAH MEMBACA SURAT SECARA MUNDUR SAAT MURAJA’AH ?

📝 PERTANYAAN :

بسم الله الرحمن
السلام عليكم ورحمه الله وبركاته

Ana mau bertanya, mohon pencerahannya…

Dalam muroja’ah suatu surat, apakah dibolehkan cara membaca surat dg mundur? Misalnya QS. An Naas dibaca dari ayat ke 6 dahulu, kemudian ayat 5, 4, 3 dst..

Atau misalnya guru membaca ayat ke 30, kemudian murid diminta membaca ayat ke 29.

جزاك الله خيرا

➖➖➖➖➖

📚 JAWABAN :

Wa’alaikumussalām warahmatullāhi wabarakãtuh.

1⃣ POINT PERTAMA

Yang harus difahami bahwa Al-Qur’anul Karim adalah kalãmullāh/firman Allah Subhanāhû wa Ta’ālā. Susunannya, hurufnya, kata-katanya, semuanya bersifat tauqìfy. Artinya sudah baku dari Allah Subhãnahû wa Ta’ālá dan juga dari Rasulullah ﷺ. Jadi tidak boleh diubah-ubah, tidak boleh dimodifikasi bagaimanapun bentuknya. Ini adalah suatu hal yang tidak diperbolehkan.

2⃣ POINT KEDUA

Para ‘ulama menyebutkan bahwa membaca Al-Qur’an secara mundur itu disebut dengan METODE TANKIS (تنكيس). Yaitu membaca Al-Qur’an dengan metode terbalik.

Tankis ada 4 macam yaitu :

①. TANKĪS AL-HURŪF (تنكيس الحروف)

Yaitu, membalik huruf-hurufnya,
Contoh : Kata “KUN” dibalik menjadi “NUK”. Seperti ini ulama sepakat mengatakan hukumnya haram.

②. TANKĪS AL-KALIMAH (تنكيس الكلمة)

Yaitu, membalik kata-kata ayat.
Contoh : “Qul Huwallāhu Ahad” dibalik dengan membaca terlebih dahulu “Ahad Allāhuwa Qul”. Yang demikian juga hukumya haram.

③. TANKĪS AL-ĀYAH (تنكيس الآية)

Yaitu, membalik ayat.
Menurut para ulama, diantaranya yang dinukil dari Syaikh Muhammad bin Shãlih al-‘Utsaimîn rahimahullãhu Ta’ālã, bahwasanya al-āyah dalam Al-Qur’anul karim itu bersifat tauqîfiy (sesuatu yang baku dan tidak boleh diubah-ubah) yaitu membaca ayat dari belakang ke depan. Bahayanya ini dapat mengubah makna. Menurut pendapat yang rãjih (kuat) hukumnya haram.

④. TANKĪS AS-SŪRAH (تنكيس السورة)

Yaitu, membalik surat.
Misalnya ada yang membaca surat al-‘Imrãn dulu, kemudian baru membaca surat al-Baqarah, lalu surat al-Fatihah. Atau membaca dari juz 30 dulu, baru ke juz 29. Seperti ini pendapat yang paling kuat adalah diperbolehkan. Karena susunan surat-surat yang ada di dalam Al-Qur’anul Karīm itu menurut pendapat yang lebih kuat adalah merupakan ijtihad para sahabat, tapi mereka sudah ijma‘ (sepakat) sehingga itu menjadi hujjah (dalil).

📖 Membaca surat-surat Al-Qur’anul Karim secara tidak berurutan meski didalam shalat atau semisalnya diperbolehkan. Jadi seseorang membaca mana yang lebih mudah baginya jika ini menggunakan metode tankis as-surah.

❓Lalu bagaimana jika saat muraja’ah (mengulang hafalan) untuk tujuan memperkuat hafalan ( mutqin ) kita diminta oleh guru untuk membaca ayat sebelumnya?

✒ Jika ini adalah metode yang tidak digunakan sebagai kebiasaan/rutinitas, hanya untuk tujuan untuk menguji mutqinnya (kekuatan hafalan) seseorang, misalnya mutqin menyebutkan satu ayat kemudian kita disuruh menyebutkan ayat sebelumnya atau setelahnya, maka yang demikian ini diperbolehkan. Dan ini tidak termasuk bagian dari qira’ah atau tilawah yang menjadi kebiasaan tetapi hanya dalam rangka untuk muraja’ah saja.

Namun kalau dibacanya itu berurutan sejumlah ayat secara terbalik dari belakang dulu, semisal dari ayat 29, lalu ke 28, dst. Maka yang demikian ini hendaknya tidak dilakukan karena dikhawatirkan masuk dalam perbuatan tankis al-ayat, yaitu membaca ayat secara terbalik, dan ini diharamkan oleh para ulama.

Wallāhu ta’ālã a’lam bish shawāb

••• ═════ ••• ═════ •••
Dijawab oleh :
🎙 Ustadz Abu Salma
Muhammad حفظه الله تعالى

Ditranskrip oleh :
Admin 6
••• ═════ ••• ═════ •••

👥 WAG Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG : https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad