Tag Archives: hakwaris

Q&A : SEPUTAR WARIS DAN AHLI WARIS YANG TERLILIT HUTANG

🇹 🇷 🇦 🇳 🇸 🇰 🇷 🇮 🇵

╔═══════════╗
QUESTION ANSWER AUDIO 🎙
╚═══════════╝

SEPUTAR WARIS DAN AHLI WARIS YANG TERLILIT HUTANG 📜💰

📝 PERTANYAAN :

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Bapak saya wafat meninggalkan harta berupa rumah dan tanah.. dan meninggalkan ibu, 2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki.

Untuk tanah sudah dijual dan setelah dipotong hutang dibagi dengan pembagian ibu mendapat 1/8 dan sisanya 7/8 dibagi 4; 2 bagian anak laki-laki dan 1 bagian untuk masing-masing anak perempuan.

Sekarang tinggal rumah. Sedang rumah sekarang ditempati ibu dan anak laki-laki.

Anak perempuan sudah berkeluarga dan ikut suami.

Sekarang anak laki-laki memerlukan dana untuk modal usahanya, dia sudah berhutang cukup besar, hampir sebesar harga rumah waris pada orang lain dan sudah jatuh tempo pembayaran.

Rencananya anak laki-laki akan meminjam bank dengan jaminan rumah waris tesebut. Dengan masa pinjaman selama 15 tahun. Dan meminta tanda tangan saya sebagai salah satu ahli waris.

Saya menentang karena hal tersebut riba.

Tapi jika rumah dijual, ibu saya tidak memiliki tempat tinggal dan akan sedih, ibu tidak mau ikut anak-anaknya dan sudah nyaman dirumah tersebut.

Yg menjadi pertanyaan :
1. Jika saya sebagai anak dan kakak tertua dan sekaligus ahli waris, punya hak kah menolak tanda tangan?

2. Saya berniat membantu tapi saya hanya memiliki dana setengah dari harga rumah waris atau setengah dari besar nya utang adik. Apa yang bisa saya lakukan dengan dana tersebut, apakah dipinjamkan pada adik? Sedang adik tidak memiliki kemampuan membayar dan meminta pembayaran dari pembagian waris atau minta dipotong dari jatah warisnya saja. Ada yang menyarankan kepada kami supaya rumah waris itu dibeli saya, agar ibu bisa tetap tinggal dirumah itu. Dihutang bayar setengahnya dulu, uang itu diserahkan pada anak laki-laki sebagai jatah warisnya karena sekarang lebih membutuhkan dan sisanya dibayar kemudian.

Atau bagaimanakah solusinya yang syar’i?

Jazaakallahu khoyr.

➖➖➖➖➖➖

📌 JAWABAN :

Wa’alaykumussalâm
Warahmatullâhi Wabarakâtuh.

Perlu dirinci terlebih dulu.

Rumah dan tanah yang ditinggalkan adalah hak para ahli waris. Harta waris tersebut hendaknya sudah dibagikan ke semua ahli waris.
Anak laki-laki juga punya hak atas harta waris tersebut.

Ketika saudara kita tersebut ingin meminjam melalui bank, maka ini termasuk ta’awun ‘alal itsmi wal udwaan, kerjasama dalam dosa dan permusuhan.
Hukumnya haram.

Saudara lelaki tersebut hendaknya berupaya melunasi hutangnya dengan bagian hartanya yang bukan primer. Saudari turut membantu meringankan beban hutang tersebut.

Jangan khawatir jika saudara laki tersebut tidak mampu mengganti pinjamannya ke saudari wanita.
Fadhilah memberi hutang adalah sangat besar adalah :
◾ Membantu seseorang melunasi hutangnya.
◾ Pahalanya melebihi sedekah.
◾ Melunakkan pinjaman hingga mengikhlaskan hutang.
Hal ini besar sekali ganjarannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Namun perlu juga diperhatikan dalam transaksi hutang piutang perlu kejelasan, hitam di atas putih. Ini masalah muamalah duniawiyah yg harus jelas segala unsur di dalamnya.

Yang baik adalah :
Jika sang ibu tidak ingin meninggalkan rumahnya, misalnya, bisa ditempuh jalan ibu membeli seluruh rumah sesuai taksiran harga di pasaran dengan harta pribadi si ibu. Bagian anak laki diberikan untuk melunasi hutang.

Jika belum lunas maka saudari membantu dengan hutang bantuan ataupun sedekah.

Jangan sekali-kali berhutang melalui jasa perbankan.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

••• ═════ ••• ═════ •••
Dijawab oleh :
🎙 Ustadz Abu Salma
Muhammad حفظه الله تعالى

Ditranskrip oleh :
Tim Transkrip AWWI
••• ═════ ••• ═════ •••

👥 WAG Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG : https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

Q&A : MENAHAN PEMBAGIAN WARIS UNTUK DANA TAHLILAN, APA HUKUMNYA ❓

Question Answer 🎙

MENAHAN PEMBAGIAN WARIS UNTUK DANA TAHLILAN, APA HUKUMNYA ❓

PERTANYAAN :
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Kedua ortu suami saya sudah meninggal dan saat ini meninggalkan harta berupa rumah, uang tunai dan perhiasan. Kebetulan suami saya anak paling bungsu yang dimana suaranya tidak dianggap oleh kakak-kakaknya. Pada saat ini kakak-kakak dari suami saya enggan menjual rumah dan membagi harta kedua ortunya karena bagi mereka itu merupakan peninggalan sejarah. Harta peninggalan mertua rahimahullah, mencapai ratusan juta dan mereka sepakat untuk disedekahkan dalam bentuk tahlilan sampai uang tersebut tdk tersisa alias sampai habis. Yang ingin saya tanyakan:

1. Apakah suami saya berhak meminta hak atas waris tersebut?
2. Bagaimana cara penyampaian yang baik kepada mereka selaku yang dituakan sedangkan mereka tidak paham agama dan bersikeras tidak mau membagi dalam bentuk apapun?
3. Setiap acara tahlilan kakak ipar selalu transfer ke rekening suami saya, apakah uang tersebut bisa dipergunakan untuk pribadi atau memang wajib dipergunakan untuk tahlilan yang memang telah diamanahkan untuk itu. Sedangkan hukum tahlilan tidak ada dalam Islam. Apakah jika dipakai untuk pribadi akan berdosa?

Mohon untuk jawaban ustadz, jazakallahu khairan.

➖➖➖➖➖➖

JAWABAN :
Wa’alaykumussalâm
Warahmatullâhi Wabarakâtuh

Jawabannya adalah :
1⃣ Berhak, dan ini pembagian yang ditentukan oleh Allah Azza wa Jalla & Rosulullah ﷺ. ( Lihat surat An Nisa ayat 11,13 dan 176.)
Pembagian -warisan menurut Islam- tersebut adalah yang paling adil. Tidak boleh menahannya. Menahan hak waris termasuk perbuatan kemaksiatan yang besar.
Nabi ﷺ dalam perkara waris, beliau ﷺ berulang kali menasehati, diantaranya sabda beliau ﷺ :
أَلْحِقُوْاْ الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا
Serahkanlah bagian -waris- kepada para pemiliknya” [HR Bukhari dan Muslim]

Harta orangtua yang telah tiada menjadi hak ahli warisnya. Karena itu harta tersebut menjadi bagian bagi ahli waris yang sudah ditentukan Allah Azza wa Jalla di dalam Qur’an.
Allah ﷻ memulai ayat warisan dalam surat An-Nisâ dengan firman-Nya:
يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ
Allah mensyari’atkan (mewajibkan) bagimu tentang (pembagian pusaka/waris untuk) anak-anakmu”.
(QS An Nisâ :11).

Apabila ditahan dan atau untuk digunakan hal-hal yang bersifat bid’ah (mohon maaf), anak-anak yang menahan harta waris tersebut akan menumpuk dosa-dosanya dan menyebabkan mudhorot bagi orangtuanya nanti, karena itu hendaknya semua harta waris tersebut dibagi kepada ahli warisnya sesuai hukum Islam, segera.
Ketahuilah….
Hukum Islam adalah hukum yang adil !
Seorang muslim yang enggan menerima hal ini bisa mencederai keimanannya, karena Allah ﷻ berfirman :
وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ
“Barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.”
( Al Maa’idah[5] : 44)
Inilah ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2⃣ Sikap terhadap saudara-saudara yang dituakan tetapi tidak memahami agama, adalah harus dijelaskan dengan didatangkan guru atau ustadz yang paham bahwa ini adalah syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus ditunaikan dan tidak boleh ditahan.

3⃣ Harta orangtua seluruhnya harus dihitung lalu dibagikan berdasarkan ketentuan Islam utk laki-laki, wanita, istri mayit, dan seterusnya, dan ini harus segera ditunaikan, karena terkait hak orang-orang yang ditinggalkan tersebut.
Dan jika ada amanat untuk hal-hal maksiat/bid’ah maka tidak boleh ditunaikan.
Menuntut hak adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam Islam.
Menggunakan harta yang menjadi hak-nya adalah tidak mengapa.
Wallahu ta’ala a’lam bish shawab

🎙Jawaban Q&A : Ustadz Abu Salma Muhammad Muhammad حفظه الله تعالى
🖋Transkrip: admin 2

__________________

👤👥 Grup WhatsApp Al-Wasathiyah Wal I’tidål
📧 Telegram: https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
🇫 Facebook : http://fb.me/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📸 Instagram : http://instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr :