Tag Archives: faidahramadhanke-22

FAIDAH RAMADHAN [Ke-23]

‌🇫‌🇦‌🇮‌🇩‌🇦‌🇭 ‌🇷‌🇦‌🇲‌🇦‌🇩‌🇭‌🇦‌🇳

🗓 Ke-23
•••═══ ༻✿༺═══ •••

HUKUM MENGELUARKAN ZAKAT FITHRI DENGAN UANG

🔹Al-Imam Malik bin Anas berkata bahwa zakat (fithri dengan uang) itu tidak mencukupi (yakni tidak sah zakatnya).
📚 Al-Mudawwanah Al-Kubra (3/385)

🔹 Al-Imam Asy-Syafi’i berkata bahwa mengeluarkan zakat fithri dengan uang tidaklah mencukupi (tidak sah).
📚 Al-Fiqh Al-Manhajī ‘alā Madzhab Al-Imām Asy-Syāfi’ī

🔹 Al-Imam Ahmad juga berkata (tentang hal tersebut),
« خِلَافُ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ »
“Menyelisihi sunnah Rasūlillah”

📚 Al-Mughni (3/87)

=======

🎙Fadhīlatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya,
“Bolehkah mengeluarkan zakat fithri dengan uang?”

Maka Fadhīlatusy Syaikh menjawab,
« زكاة الفطر لا تصح من النقود. لأن النبي ﷺ فرضها صاعاً من تمر، أو صاعاً من شعير، وقال أبو سعيد الخدري رضي الله عنه: كنا نخرجها على عهد رسول الله ﷺ ، صاعًا من طعام، وكان طعامنا يومئذ التمر والشعير، والزبيب والأقط. فلا يجوز إخراجها إلا مما فرضه رسول الله ﷺ »
“Zakat fithri tidak sah ditunaikan dengan uang. Karena Nabi ﷺ mewajibkan zakat dengan ukuran satu sha’ kurma kering, atau satu sha’ gandum.
Abū Sa’īd al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dahulu kami semasa Rasulullah ﷺ (masih hidup) mengeluarkan zakat seukuran satu sha’ makanan pokok, dan makanan pokok kami ketika itu ialah kurma kering, gandum, kismis dan keju”.
Maka tidak boleh mengeluarkan zakat selain dengan yang telah diwajibkan oleh Rasulullah ﷺ ”.
📚 Majmū’ Fatāwā wa Rasāil Ibni ‘Utsaimīn (18/180)

🔹 Syaikh juga berkata,
« أما زكاة الفطر فلا يجوز دفع النقد عنها بل يجب أن تدفع من الطعام لأنها هكذا فرضت ولما في دفعها من الطعام من سد حاجة الفقير في يوم العيد »
“Adapun zakat fithri maka tidak boleh membayar uang sebagai bentuk penunaiannya, tapi wajib menunaikannya dengan makanan pokok karena begitulah yang diwajibkan, juga karena penunaian zakat dengan makanan pokok itu sebagai bentuk memenuhi kebutuhan orang fakir saat hari raya (‘Iedul Fithri)”.

Syaikh juga berkata dalam fatwa beliau yang lain,
« …فلا يحل لأحد أن يخرج زكاة الفطر من الدراهم، أو الملابس، أو الفرش، بل الواجب إخراجها مما فرضه الله على لسان محمد صلى الله عليه وسلم، ولا عبرة باستحسان من استحسن ذلك من الناس، لأن الشرع ليس تابعاً للآراء »
“… Tidak halal –yakni dilarang– bagi siapapun yang hendak mengeluarkan zakat fithri dengan dirham –maksudnya mata uang–, pakaian, atau selimut, namun yang wajib adalah mengeluarkan zakat dengan sesuatu yang telah Allah wajibkan melalui lisan Nabi Muhammad ﷺ.
Anggapan baik oleh kebanyakan orang berkenaan dengan hal ini tidaklah diakui, karena syariat itu tidak mengikuti pendapat orang-orang”.
📚 Majmū’ Fatāwā wa Rasāil Ibni ‘Utsaimīn (18/280)

🔹 Al-‘Allāmah Al-Fawzān hafizhahullah berkata,
« أما إخراج القيمة، فإنه لا يجزئ في زكاة الفطر؛ لأنه خلاف ما أمر به النبي ﷺ ، وما عمل به صحابته الكرام من إخراج الطعام . والاجتهاد إذا خالف النص فلا اعتبار به »
“Adapun mengeluarkan qīmah (yaitu dalam rupa uang), maka hal ini tidaklah tepat untuk zakat fithri; karena hal tersebut menyelisihi yang diperintahkan oleh Nabi ﷺ , dan (menyelisihi) apa yang dilakukan para Sahabat yang mulia, yaitu mengeluarkan (zakat, dengan) makanan pokok. Dan suatu ijtihad jika menyelisihi nash (dalil) maka ijtihad tersebut tidak teranggap”.
📚 Al-Muntaqā min Fatāwā al-Fawzān (81/13-14)

•••═══ ༻✿༺═══ •••
Dialihbahasakan oleh :
🖋 Umm ’Abdirrahman

Dikoreksi oleh :
🔎 @abinyasalma
______________________

✉Grup WhatsApp Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
♻Telegram: https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
💠Facebook : http://fb.me/wasathiyah
🔰Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 Instagram : http://instagram.com/alwasathiyah
🌀Mixlr : http://mixlr.com/abusalmamuhammad/

FAIDAH RAMADHAN [Ke-22]

‌🇫‌🇦‌🇮‌🇩‌🇦‌🇭 ‌🇷‌🇦‌🇲‌🇦‌🇩‌🇭‌🇦‌🇳

🗓 Ke-22
•••═══ ༻✿༺═══ •••

I ’ T I K Ā F

Syaikh DR. Shalih al-‘Ushaimy berkata,

“Ibnu Rajab rahimahullah berkata,
« الاعتكاف هو قطع العلائق عن الخلائق للاشتغال بخدمة الخالق »
“I’tikāf itu sejatinya ialah memutus berbagai hubungan dengan para makhluk (yakni manusia), dengan tujuan untuk menyibukkan diri melayani Sang Khalik”. [selesai]

والمراد بالخدمة: العبادة، والتعبير بها أكمل
Dan yang dimaksud “melayani” di sini yaitu beribadah, dan ungkapan “melayani” itu lebih lengkap.

📌 الذي يلزم مسجدا وهو مشتغل بالكلام مع الناس والعبث ويقضِّي وقته بالطعام والنوم واستعمال الانترنت ونحو ذلك فإنه لا يسمى اعتكافا، بل يسمى إقامة، وهو يخدع نفسه، وينبغي تنزيه المسجد عن هذه الأحوال الرديئة.
Orang yang menetap di masjid namun ia sibukkan dengan obrolan bersama orang-orang dan hal sia-sia, bahkan ia habiskan waktunya dengan makan dan tidur, asyik berselancar di internet, dan sebagainya, maka ini sejatinya tidak disebut i’tikāf, tapi menumpang tinggal (di masjid), dan (orang seperti itu) menipu dirinya sendiri. Karena seharusnya masjid itu dibersihkan dari hal-hal rendahan seperti ini.

📌 للإنسان أن يعتكف في أي حين من السنة ولو لم يكن صائما ، ولو كان لمدة يسيرة ؛ فقد روى عبدالرزاق وغيره بإسناد صحيح عن يعلى بن أمية: ” إني لأدخل المسجد لا أريد إلا أن أعتكف ساعة”.
(Dianjurkan) bagi seseorang agar dia ber-i’tikāf kapan saja dalam setahun walaupun saat dia tidak berpuasa, meski hanya sebentar waktunya;
Abdurrazzāq dan selainnya telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih, dari Ya’lā bin Umayyah, “Saya benar-benar akan masuk masjid, dan saya tidak ingin (melakukan apapun) selain ber-i’tikāf sesaat saja (sā’atan)”.

⏳ الساعة هي البرهة المستكثرة من الزمن، وهي في تقدير الدقائق في زمننا هذا بين الأربعين إلى خمس وأربعين دقيقة وهو الذي أدركت عليه كبار السن ، وأخبرني أحد أصحابنا عن العلامة أبي تراب الظاهري -وهو من شيوخ اللغة المعروفين- أن الساعة التي تعرفها العرب أقرب ما تكون ٤٥ دقيقة بتوقيتنا .

“Sesaat” (as-sā’ah) di sini maksudnya “waktu sejenak yang waktunya diperpanjang”, dan itu kalau diukur dengan hitungan menit pada zaman kita ini berarti sekitar 40-45 menit, dan itulah yang kudapati dari para orang tua.
Salah seorang sahabat kami pun mengabarkanku, dari al-‘Allāmah Abū Turāb azh-Zhāhiri —beliau adalah salah satu ahli bahasa yang terkenal—, bahwa “Kata _as-Sā’ah_ (sesaat) yang dikenal oleh orang Arab adalah mendekati 45 menit menurut perhitungan waktu kita”.

📌 لا يتقيد الاعتكاف برمضان، و لا يُشترط الصوم للاعتكاف؛ فيشرع للعبد أن يعتكف في أي حين من السنة ولو لم يكن صائما ولو كان لمدة يسيرة .
Pelaksanaan i’tikāf tidak terikat dengan Ramadhan saja, juga tidak disyaratkan puasa untuk ber-i’tikāf; Disyariatkan bagi seorang hamba —maksudnya seorang muslim— agar dia ber-i’tikāf kapan saja dalam setahun walaupun dia tidak berpuasa dan meski hanya sebentar waktunya.

📌 المختار أن الاعتكاف عامٌّ لجميع المتعبدين من الرجال والنساء لا فرق بين شاب ولا شيخ .
(Pendapat) yang terpilih adalah bahwa i’tikāf itu umum bagi seluruh orang yang gemar beribadah dari kalangan laki-laki maupun perempuan, tak ada bedanya pemuda ataupun orang tua.

📌 ما يفعله كثير من الناس من جعلهم محل اعتكافهم محطّاً للزوار ومجلسا للمعاشرة ، فإن هذا الاعتكاف لون والاعتكاف النبوي لون آخر .
Yang dikerjakan kebanyakan orang adalah mereka menjadikan tempat i’tikāf mereka —yakni masjid— sebagai tempat persinggahan pelancong dan majelis untuk kumpul-kumpul, maka i’tikāf ini berbeda jenisnya dari i’tikāf yang dicontohkan Nabi.

🔸Dari Channel Syaikh Shālih al-‘Ushaimi🔸
______________________

Catatan :
Di sini ada yg menarik dari definisi syaikh al-Ushaimi ttg kata ساعة (sesaat) yg dikaitkan dg makna “jam” (waktu) di zaman ini, dimana jam ini kaitannya dg يوم (hari = 24 jam) dan kaitannya dg دقائق (menit dimana 1 jam = 60 menit)…

Padahal dalam terma fikih, kata ساعة tdk berkaitan dg “jam”, namun berkaitan dg البرهة المطلقة (waktu pendek secara mutlak) yaitu “sekejap, sejenak, sebentar, sekilas, dll”…
Di dalam _at-Ta’rîfât al-Fiqhiyah_ (hal. 110) disebutkan :

الساعة: في عرف الفقهاء جزء من الزمان وإن قلَّ لا جزء من أربعة وعشرين من يوم بليلته أي ستون دقيقة كما يقوله المنجِّمون كذا في “الدار المختار”
Sesaat (الساعة) menurut urf (kebiasaan) para pakar fikih, adalah bagian dari waktu meski hanya sedikit (sebentar). Bukan merupakan bagian dari 24 jam dalam sehari semalam, yaitu 60 menit sebagaimana dipaparkan oleh ahli astrologi di dalam ad-Dârul Mukhtâr

Banyak sekali terma _sâ’ah_ kita jumpai di dalam buku² fiqih dan hadits, yang maknanya adalah waktu sejenak secara mutlak…
Misalnya :

عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، أَنَّهُ قَالَ: «… إِذَا كَبَّرَ الْإِمَامُ سَكَتَ سَاعَةً لَا يَقْرَأُ قَدْرَ مَا يَقْرَؤُنَ أُمَّ الْقُرْآنِ»
Dari Said bin Jubair beliau berkata :
“apabila Imam takbir, diam “sesaat” dan tidak membaca yang panjangnya seperti al-Fatihah…”
Diam sesaat (سكت ساعة) di sini tentunya tidak sampai 40-45 menit. Sebab akan menjadi panjang dan lama.
Wallahu a’lam.
(Faidah dari Ust Babahnya Sofia)

•••═══ ༻✿༺═══ •••
✍🏻 @abinyasalma
•••═══ ༻✿༺═══ •••

✉Grup WhatsApp Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
♻Telegram: https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
💠Facebook : http://fb.me/wasathiyah
🔰Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 Instagram : http://instagram.com/alwasathiyah
🌀Mixlr : http://mixlr.com/abusalmamuhammad/