Tag Archives: Doa

BERLINDUNG DARI RASA DENGKI

BERLINDUNG DARI RASA DENGKI

( رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ )

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

( QS. al-Hasyr: 10 )

 

ℳـ₰✍
​✿❁࿐❁✿​
@alwasathiyah

🔗 Silakan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber.


👥 Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ Telegram:  https://t.me/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 Facebook : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 Instagram : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

FAIDAH RAMADHAN [ Bag. 6 / 20 ]

🇫‌🇦‌🇮‌🇩‌🇦‌🇭 ‌🇷‌🇦‌🇲‌🇦‌🇩‌🇭‌🇦‌🇳

(Bagian 6/20)

🔗 https://bit.ly/alwasathiyah

WAKTU MUSTAJAB BAGI YANG BERPUASA

1. Menggunakan Waktu ( SEBELUM ) berbuka dengan Berdoa

Ibnu Mājah meriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaykah, dari ‘Abdullāh bin ‘Amr bin Ash ia berkata, “Aku mendengar Rasulullāh ﷺ bersabda,

« إِنَّ لِلصَّـائِـمِ عِنْـدَ فِطْـرِهِ دَعْـوَةً مَـا تُـرَدُّ »

“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, ketika berbuka puasa, ada doa yang tak tertolak”.

Ibnu Abi Mulaykah juga berkata, “Aku mendengar ‘Abdullāh bin ‘Amr Radhiyallāhu ’anhumā jika (akan) berbuka dia mengucapkan,

” اللَّهُــمَّ إنِّـي أَسْـأَلُكَ بِـرَحْمَـتِكَ الَّتِـي وَسِـعَتْ كُـلَّ شَـيْءٍ أَنْ تَـغْـفِـرَ لِي ذُنُـوبِي “

Allahumma innī asaluKa bi-rahmatiKa allatī wasi’at kulla syayin, an-Taghfira lī dzunūbī

(Ya Allah… Sungguh aku memohon pada-Mu, dengan menyebut rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuni dosa-dosaku).”
[ 📒 Atsar ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan sanad-nya disahihkan oleh al-Kinānī dalam Mishbāh az-Zujājah dan oleh al-Bushiri dalam az-Zawaid (II/38) dan mengatakan : “hadits ini sanadnya shahih dan perawinya kredibel”. Hanya saja, Syaikh al-Albânî menilainya dhaif dalam Dhaif Ibnu Majah ]

Juga dari Anas bin Mālik Radhiyallāhu ’anhu, bahwa Rasulullāh ﷺ dahulu jika berbuka bersama keluarganya ( ahlu bayt ), beliau berkata pada mereka,

« أفطَـرَ عِنْدَكُـمُ الصَّائِمُـونَ، وَتَـنَـزَّلَتْ عَـلَـيْكُـمُ المَـلَائِكَـةُ، وَأَكَـلَ طَعَـامَـكُـمُ الأَبْـرَارُ، وَغَشِـيَتْـكُـمُ الرَّحْمَـةُ »

“Orang-orang yang berpuasa telah berbuka bersama kalian, malaikat pun perlahan turun (menemani) kalian, juga orang-orang baik menyantap makanan kalian, serta rahmat Allah meliputi kalian”.
[ 📒 Diriwayatkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalāny dalam al-Futūhāt ar-Rabbāniyyah (4/344) ]

An-Nawawī berkata dalam Syarh al-Muhadzdzab,

يستحبّ للصائم أن يدعو في حَالِ صَوْمِهِ بِمُهِمَّاتِ الْآخِرَةِ وَالدُّنْيَا لَهُ وَلِمَنْ يُحِبُّ وَلِلْمُسْلِمِينَ

“Disunnahkan bagi orang yang berpuasa, agar ia berdoa kepada Allah ketika ia dalam kondisi berpuasa, tentang hal-hal yang penting untuk perkara ukhrawi dan duniawi,
(1) bagi dirinya,
(2) orang yang dia cintai, dan
(3) kaum muslimin”.

2. Menggunakan Waktu ( SETELAH ) berbuka dengan Berdoa

Dari Abu Umāmāh al-Bāhilī, dari Nabi ﷺ,

« لله عند كُلِّ فطرٍ عُتَقاء »

“Allah memiliki hamba-hamba yang Dia bebaskan (dari api neraka) tiap kali tiba waktu berbuka puasa.”
[ 📒 HR. Al-Albānī dalam at-Targhīb No:1001 ]

Juga dari Abu Hurayrah, bahwa Nabi ﷺ berkata,

« ثلاثةٌ لا تُرَدُّ دعوتُهم: الصَّائم حتَّى يُفْطِر، والإمام العادِل، ودعْوة المظْلوم »

“Ada tiga golongan yang doa mereka tak tertolak :
(1) Seorang yang berpuasa hingga ia berbuka,
(2) pemimpin yang adil,
(3) doa orang yang terzalimi.”
( Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibbān No: 3428 )

Asy-Syaikh Muhammad bin al-‘Utsaimin Rahimahullāh berkata,

“الدعاء يكون قبل الإفْطار عند الغروب؛ لأنَّه يجتمع فيه انكِسار النَّفس، والذُّلُّ، وأنَّه صائم، وكلُّ هذه أسباب للإجابة،

“Doa ini seyogyanya diucapkan sebelum berbuka puasa saat matahari mulai tenggelam (maghrib); karena saat itu terkumpul (kondisi berikut dalam diri seseorang -pen):
(1) kelesuan jiwa,
(2) perendahan diri (pada Allah),
(3) sedang berpuasa,
dan semua kondisi ini merupakan sebab terkabulnya doa.

وأمَّا بعد الفِطْر، فإنَّ النفس قدِ استراحت وفرِحَت، وربَّما حصلت غفلة،

Adapun berdoa setelah berbuka, maka jiwa seseorang telah rileks dan bersuka cita, bahkan sering kali berujung lalai.

لكن ورد دُعاء عنِ النَّبيِّ صلَّى الله عليْه وسلَّم لو صحَّ، فإنَّه يكون بعد الإفْطار، وهو:
“ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللّهُ”،
فهذا لا يكون إلاَّ بعد الفطر”.

Akan tetapi, ada doa yang berasal dari Nabi ﷺ – jika riwayat tersebut shahih-, maka doa ini dibaca setelah berbuka, yaitu doa :
“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru in syaa Allah”
“( Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki )”

Doa ini hanya dibaca setelah berbuka”.

  • Bersambung In syaa Allah

••• ════ ༻🕌༺ ════ •••

Dialih bahasakan oleh :
🖊️ Brave Ummu Abdirahman

Dimuroja’ah oleh :
✒️ @abinyasalma

ℳـ₰✍
​✿❁࿐❁✿​
@alwasathiyah


👥 Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG :  https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

📎 Sumber : 
Booklet : Kompilasi Faidah Ramadhan 1439 H – Grup AWWI

🔗 Silahkan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber.