Tag Archives: asyura

KEUTAMAAN MUHARRAM [ Bag. 14/15 ]

‌🇰‌🇪‌🇺‌🇹‌🇦‌🇲‌🇦‌🇦‌🇳 ‌
🇲‌🇺‌🇭‌🇦‌🇷‌🇷‌🇦‌🇲

(Bagian 14/15)

🔗 https://t.me/alwasathiyah

BID’AH-BID’AH ’ASYURA

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah
rahimahullah ditanya tentang perbuatan yang dilakukan oleh sejumlah orang di hari ’Asyura, seperti bercelak, mandi, memakai pacar (inai), bersalam-salaman, memasak bebijian (bubur), menampakkan keceriaan, dan semisalnya.

Apakah perbuatan seperti ini ada landasannya ataukah tidak?

Syaikhul Islam menjawab,
“Segala sanjungan hanyalah milik Allah. Tidak ada satupun hadits Nabi ﷺ yang shahih yang menerangkan hal ini, dan tidak pula ada riwayat dari sahabat tentangnya.”

Para imam kaum muslimin pun juga tidak ada yang menganjurkannya, baik itu imam yang empat ataupun selain mereka. Tidak pula ada pakar-pakar karya tulis yang diakui yang meriwayatkan tentang hal ini, baik itu riwayat dari Nabi ﷺ para sahabat maupun para tabi’in, baik itu riwayat yang shahih maupun dha’if.

Namun, sebagian orang belakangan meriwayatkan hadits-hadits tentang hal ini, yaitu seperti yang mereka riwayatkan (secara dusta) bahwa, “Barangsiapa bercelak di hari ’Asyura maka tidak akan binasa selama setahun penuh dan barangsiapa yang mandi di hari ’Asyura niscaya tidak akan dijangkiti penyakit selama setahun itu,” dan riwayat-riwayat palsu lainnya yang semisal.

Mereka membawakan riwayat-riwayat yang palsu lagi dusta diatas namakan Nabi ﷺ, seperti,
“Barangsiapa yang melapangkan bagi keluarganya pada hari ’Asyura maka Allah akan lapangkan bagi dirinya setahun penuh.”

Semua riwayat-riwayat seperti ini adalah DUSTA.

Kemudian Syaikhul Islam rahimahullah menjelaskan secara singkat perihal yang terjadi pertama kali di umat ini berupa berbagai fitnah, peristiwa dan pembunuhan al-Husain radhiyallahu ‘anhu, dan apa yang dilakukan oleh berbagai kelompok oleh sebab ini, maka beliau mengatakan,

“Lalu muncullah sebuah kelompok yang bodoh lagi zhalim, entah mereka itu kelompok yang mulhid (atheis) lagi munafik, ataukah kelompok yang sesat lagi menyesatkan.”

Mereka menampakkan loyalitas dan kecintaan kepada Ahlul Bait dan menjadikan hari ’Asyura ini adalah hari berkabung, bersedih, dan meratap.

Mereka menampakkan syiar-syiar Jahiliyah seperti menampar-nampar pipi, merobek-robek baju, berbela sungkawa ala jahiliyah, menggubah syair-syair kesedihan, membuat-buat riwayat dan cerita yang di dalamnya berisi banyak kedustaan.

Melantunkannya hanya menambah kesedihan dan fanatisme; semakin membangkitkan permusuhan dan peperangan; melemparkan fitnah di tengah-tengah Islam, bertawassul dengan hal ini sampai celaan-celaan kepada generasi awal terbaik umat ini.

Keburukan dan bahaya mereka terhadap umat Islam tidaklah terbatas hanya pada seorang pria yang memiliki kefasihan di dalam bertutur kata saja. Namun mereka juga ditentang oleh sejumlah kaum, entah itu kaum Nawashib (penentang dan pembenci Ali) yang fanatik di dalam membenci al Husain dan ahli baitnya, ataupun kaum yang bodoh, yang menghadapi kerusakan dengan kerusakan, kedustaan dengan kedustaan, keburukan dengan keburukan, atau bid’ah dengan bid’ah.

Merekalah yang membuat-buat riwayat palsu tentang syariat untuk bergembira dan bersenang hati di hari ‘Asyura, seperti ajakan bercelak, menyemir rambut, memperbanyak nafkah bagi keluarga, memasak berbagai makanan di luar kebiasaan, atau perbuatan-perbuatan serupa yang umumnya dikerjakan di perayaan-perayaan atau peringatan-peringatan.

Akhirnya, mereka inilah yang membuat-buat hari Asyura itu menjadi seperti momen-momen perayaan dan kegembiraan.

Mereka inilah kaum yang menjadikan upacara kematian itu diisi dengan acara ratapan dan kegembiraan.

Kedua kelompok ini sama-sama keliru dan keluar dari sunnah.”

Ibnu al-Hajj rahimahullahu menyebutkan sejumlah bid’ah ’Asyura, seperti sengaja mengeluarkan zakat di hari ’Asyura baik dengan cara mengakhirkan atau mengawalkan waktunya (agar tepat dikeluarkan pas hari ’Asyura); mengkhususkan untuk menyembelih ayam dan para wanita yang mengenakan pacar (inai).

[📚 Al-Fatawa al-Kubra Karya Ibnu Taymiyah. Al-Madkhal, Juz I, Bab Yaum Asyura.]

••• ════ ༻💎༺ ════ •••

ℳـ₰✍
​✿❁࿐❁✿​
@abinyasalma

👥 Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG :  https://t.me/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

Sumber :
E-book “Keutamaan Asyura & Bulan Muharram”
📎 https://bit.ly/e-asyura

🔗 Silahkan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber.

KEUTAMAAN MUHARRAM [ Bag. 6/15 ]

‌🇰‌🇪‌🇺‌🇹‌🇦‌🇲‌🇦‌🇦‌🇳 ‌🇲‌🇺‌🇭‌🇦‌🇷‌🇷‌🇦‌🇲

(Bagian 6/15)

🔗 https://t.me/alwasathiyah

ANJURAN PUASA TASU’A & ’ASYURA

‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā berkata,

“Ketika Rasulullah ﷺ berpuasa pada hari ’Asyura dan memerintahkan para sahabat juga berpuasa, lalu para sahabat berkata,

«يارسول الله، إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى»

“Wahai Rasulullah, ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.”

Lalu Rasulullah ﷺ berkata,

«فـإذا كـان العـام المقبـل إن شـاء الله صمـنا اليـوم التاسـع»

“Kalau begitu tahun depan kita berpuasa di hari kesembilan (Tasu’a).”

Namun Rasulullah ﷺ tidak sampai tahun depan beliau sudah wafat.”
( HR Muslim no. 1916)

Syāfi’ī dan sahabat-sahabat beliau, juga demikian dengan Ahmad dan Ishaq serta selain mereka, berpendapat disunnahkannya berpuasa pada hari ke-9 (Tasu’a) disertai dengan hari ke-10 (’Asyura), karena Nabi ﷺ melakukan puasa pada hari ke-10 dan berniat puasa pada hari ke-9.

Dengan demikian, sesungguhnya puasa pada hari ’Asyura itu memiliki tingkatan :

1. Yang paling rendah yaitu berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja.

2. Yang lebih utama yaitu berpuasa pada tanggal 10 dan juga tanggal 9 Muharram.

3. Setiap kali lebih banyak puasanya di bulan Muharram, maka lebih utama dan lebih baik.

Bersambung, insyaAllah

ℳـ₰✍
​✿❁࿐❁✿​
@abinyasalma

👥 Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG : https://t.me/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah

Sumber :
E-book “Keutamaan Asyura & Bulan Muharram”
📎 http://bit.ly/e-asyura

🔗 Silakan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber.