Tag Archives: akadqardh

Q&A : HUKUM ARISAN BARANG DALAM KATALOG

┏━━━━━━‌━━━━┓
Question Answer 🎙
┗━━━━━━━━━━┛

HUKUM ARISAN BARANG DALAM KATALOG

PERTANYAAN :

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh.

Mohon penjelasannya ustadz, boleh atau tidak untuk arisan barang?
Dalam katalog barang tersedia beberapa barang, yang di keterangan per barang ada harga nya. Misalnya
– Jika cash seharga 215.500
– jika cicilan 5 x bayar seharga 43.100 selama 5 bulan
dalam bentuk arisan yang nantinya dapat barang yang kita mau dari awal.
Dalam arisan barang ini dalam jangka 5 bulan untuk 5 orang , yang per orang beda beda barangnya,
– seperti orang A ambil barang A dengan harga 200rb, perbulan 40rb selama 5bln
– orang B ambil barang B dengan harga 300rb perbulan 60rb selama 5bln
– orang C ambil barang C dengan harga 400rb perbulan 80rb selama 5bln
– orang D ambil barang D9 dengan harga 500rb perbulan 100rb selama 5bln
– orang E ambil barang E dengan harga 215.500 perbulan 43.100 selama 5bln
Dan caranya di kocok siapa yang keluar di setiap bulannya lalu dapat barang yang di mau dari awal.

Syukran ustadz

➖➖➖➖➖➖➖

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh.

🔴 YANG PERTAMA
Sebenarnya akad arisan itu adalah AKAD QORDH / AKAD HUTANG. Jadi, di dalamnya ada aktivitas/transaksi hutang dan menghutangi di antara anggotanya. Di sini ulama beda pendapat, ada yang melarang arisan seperti syekh al-Fauzan dan ada yang menbolehkan seperti syekh Ibnu Baz, Syekh Ibnu Utsaimin, dan lain-lain.
Karena itu hendaknya arisan itu dipisahkan dengan akad jual beli barang. Dan lebih baik arisannya tetap dalam bentuk uang bukan barang. Misalnya setiap orang urunan setiap bulannya Rp. 50.000 selama beberapa waktu dengan jumlah orang yang sudah fix. Kemudian uang tersebut dibelikan barang. Jadi jangan langsung dalam bentuk barang

🔴 YANG KEDUA
Dalam akad jual beli barang secara mencicil atau disebut Taqsith. Barang dijualbelikan dengan dua cara yaitu :
— Yang pertama CASH dengan harga sekian
— Yang kedua dengan cara DICICIL dengan harga yang berbeda.
Bagaimana hukumnya? Ini sebenarnya memang ada khilaf diantara ulama. Ada yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkan. Namun wallahu ta’ala a’lam bish shawab dari yang saya fahami bahwa pendapat yang rojih / kuat adalah BOLEH.
Kita menjual barang yang satu tunai, harganya sekian dan yang nyicil harganya sekian. Selama tidak ada unsur riba/ unsur ghoror didalam akad cicilan tadi; misalnya TELAT mencicil yang dikenakan denda. Maka seperti ini tidak diperbolehkan.

🔴 YANG KETIGA
Yang namanya arisan itu hutang mengutangi. Dan jumlah nominalnya satu dengan yang lainnya HARUSLAH sama.
Seandainya ada 5 orang, maka prinsipnya semua anggotanya sama-sama saling menghutangi uang, misalnya ditentukan satu orang Rp. 100.000, maka semuanya harus sama Rp. 100.000,
Tapi kalau yang satu Rp. 100.000, yang satunya Rp. 50.000, dan yang satu lagi Rp. 70.000, maka ini adalah suatu hal yang tidak diperbolehkan sebab ini termasuk AKAD QORDH / Hutang Piutang yang tidak boleh ada BENEFIT/KEUNTUNGAN di dalamnya. Sebaiknya sistem seperti ini ditinggalkan dan tidak dilakukan.

Jika mau mengadakan arisan sebaiknya arisan uang saja. Jangan dicampur dengab arisan jual beli barang. Dimana arisan jual beli barang tersebut sejatinya jual beli TAQSITH atau AKAD MENCICIL Barang, namun dicampur dengan akad QARDH dalam arian. Dan yang seperti ini lebih baik ditinggalkan.

Wallahu ta’ala a’lam bish shawab

🎙Jawaban Q&A : Ustadz Abu Salma Muhammad حفظه الله تعالى
🖊Transkrip : Tim Transkrip AWWI

______________

👤👥 Grup WhatsApp Al-Wasathiyah Wal I’tidål
📧 Telegram: https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 Facebook : http://fb.me/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📸 Instagram : http://instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : http://mixlr.com/abusalmamuhammad/

Q&A : PEMBELIAN KARTU DGN 2 PILIHAN HARGA, RIBAKAH ?

Question Answer Audio 🔊

PEMBELIAN KARTU DGN 2 PILIHAN HARGA, RIBAKAH

PERTANYAAN :

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Ustadz kalau seperti ini apakah termasuk riba ?

Kita diwajibkan beli dengan dua pilihan kartu, yang berharga Rp. 60.000 (Saldo kartu Rp. 50.000,-) atau yang berharga Rp. 30.000,- (saldo kartu Rp. 20.000).

Syukran ustadz

➖➖➖➖➖➖➖

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh.

Pertama, pertanyaannya kurang lengkap dan kurang jelas.
Yang dimaksud kartu di sini yang seperti apa ?
Sebab ini ada perinciannya. Beda jenis dan fungsi kartu, beda pula hukumnya.

Penanya menyebutkan kata DIWAJIBKAN, di sini bisa menimbulkan permasalahan baru karena menyebutkan kata Diwajibkan.
Yang mewajibkan ini siapa? Karena hal ini harus jelas.

Jika di sini yang dimaksud adalah kartu E-MONEY atau E-TOLL, maka di Indonesia khususnya yang tinggal di kota-kota besar, yang harus melewati jalanan tol, maka ini termasuk suatu perkara yang sudah meluas dan kita tidak bisa menghindarinya.
Seperti di Jakarta, misalnya. Mau tidak mau harus punya kartu e-money apabila kita sering berpergian melewati jalan tol dengan kendaraan pribadi.
Karena tidak mungkin kita bisa berpergian lewat jalan tol jika tidak mempunyai kartu e-money.
Dan untuk mendapatkan e-money tersebut, mau tidak mau kita harus membelinya.

Memang kartu e-money, e-toll dan semisalnya itu pada saat kita beli, harganya memang lebih mahal dibandingkan nilai yang ada didalamnya.
Harga kartu tersebut misalnya Rp. 60.000. Kita dapat saldo Rp. 50.000. Maka yang Rp. 10.000 adalah biaya penggantian kartu.
Ataupun jika harga kartunya Rp. 30.000. Saldonya Rp. 20.000. Berarti Rp. 10.000 adalah harga kartu tersebut. Yang demikian ini wallahu ta’ala a’lam bish shawaab saya tidak tahu dimana ribanya.

Yang menjadi polemik adalah, ada beberapa ustadz kita yang menganggap transaksi dengan kartu digital ini, saat seseorang melakukan deposit, maka ini dianggap meminjamkan uang. Jadi, apabila ketika kita mengisi saldo atau balance didalam kartu elektronik tersebut dianggap menghutangkan. Di sini, terjadi akad qardh (hutang piutang), sehingga apabila kita mengambil benefit dari kartu e-money atau kartu e-toll, semisal ada discount dijalan tol atau discount dari mana saja, maka ini dianggap sebagai RIBA karena mengambil benefit dari PIUTANG. Kullu Qardhin jarra naf’an fahuwa riba… semua piutang yang menarik keuntungan adalah riba…

Walaupun ada sebagian ustadz yang lain menjelaskan bahwa uang elektronik yang seperti ini tidak dikategorikan sebagai AKAD QARDH (akad hutang piutang), TAPI ini termasuk bagian dari WADIAH (titipan). Jadi menitipkan uang kita ke VENDOR tersebut.
Misalkan kita masukkan uang Rp. 50.000, maka dana tersebut akan berpindah atau bertransform ke dalam kartu tersebut, dan dana tersebut bisa kita gunakan kapan saja di merchant-merchant yang memang bekerjasama dengan kartu tersebut.

Ala kulli hal…
Kita tidak bisa menghindar dari penggunaan kartu seperti e-money , e-toll, dan semisalnya. Apalagi sekarang setiap kita melakukan isi ulang akan ditarik biaya, seperti ada biaya administrasi, ada biaya jasa, dan ini tidak termasuk riba karena pada saat kita mengisi ulang maka disitu ada biaya jasa transaksi. Orang atau vendor yang membantu mengisikan, maka dia berhak untuk mengambil upah jasa dari jasa yang dia berikan untuk mengisikan kartu kita.

Wallahu ta’ala a’lam bish shawaab

🎙Dijawab oleh : Ustadz Abu Salma Hafidzahullah

🖊Transkrip : Uray Sriwahyuni
_____________________

✉Grup WhatsApp Al-Wasathiyah Wal I’tidål
♻Telegram: https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
💠Facebook : http://fb.me/wasathiyah
🔰Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 Instagram : http://instagram.com/alwasathiyah
🌀Mixlr : http://mixlr.com/abusalmamuhammad/