Tag Archives: 10prinsip

10 PRINSIP MENGGAPAI ISTIQOMAH

1⃣0⃣ 🇵‌🇷‌🇮‌🇳‌🇸‌🇮‌🇵
🇲‌🇪‌🇷‌🇦‌🇮‌🇭
🇮‌🇸‌🇹‌🇮‌🇶‌🇴‌🇲‌🇦‌🇭

••• ════ ༻💎༺ ════ •••

“`PRINSIP KESEPULUH“`

MENYERUPAI ORANG KAFIR
MERUPAKAN FAKTOR TERBESAR
BERPALING DARI ISTIQOMAH

Menyerupai orang kafir itu, kerusakannya kembali kepada dua hal :

(1) kerusakan ilmu, dan
(2) kerusakan amal.

Perhatikanlah makna firman Allah ﷻ berikut ini :

(ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ۝ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ)
Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang yang Engkau beri karunia, bukan jalannya orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalannya orang yang tersesat.”
(QS. al-Fatihah: 6-7)

Rusaknya Yahudi itu dari aspek amal, sedangkan rusaknya Nasrani dari aspek ilmu.

Orang Yahudi itu berilmu namun tidak mau mengamalkan ilmunya, sedangkan orang Nasrani mereka semangat beramal namun tanpa ilmu.

Keserupaan yang dapat terjadi di dalam pembahasan ini adalah, keserupaan dengan Yahudi dimana seseorang itu memiliki ilmu namun ia tidak mengamalkannya , atau keserupaan dengan Nasrani dimana seseorang itu beramal tanpa ilmu dan pengetahuan.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah rahimahullāh menamai buku beliau dengan, “Iqtidhā` ash-Shirāth al-Mustaqīm Mukhālafatu Ash-hāb alJahīm” (Meniti Jalan yang Lurus, Menyelisihi Para Penghuni Neraka).

Di buku tersebut, Syaikhul Islam menunjukkan sejumlah hal dari perangai Ahli Kitab yang juga menimpa umat ini, agar seorang muslim dapat menjauh dari berbelok (menyimpang) dari jalan yang lurus, alih-alih malah menuju kepada jalan yang dimurkai atau tersesat, sebagaimana firman Allah ﷻ :

(وَدَّ كَثِير مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ لَوۡ يَرُدُّونَكُم مِّنۢ بَعۡدِ إِيمَٰنِكُمۡ كُفَّارًا حَسَدا مِّنۡ عِندِ أَنفُسِهِم مِّنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلۡحَقُّ)
Kebanyakan orang-orang ahli kitab itu menginginkan agar kalian kembali kepada kekafiran setelah keimanan kalian lantaran hasad yang timbul dari diri mereka sendiri setelah tampak bagi mereka kebenaran.”
(QS. al-Baqarah: 109).

Ibnu Taymiyah rahimahullāh berkata,
“Maka orang-orang Yahudi dicela lantaran hasad mereka terhadap petunjuk dan ilmu yang dimiliki orang-orang yang beriman. Namun terkadang ada sebagian orang yang disebut ulama atau selainnya yang memiliki rasa hasad terhadap orang-orang yang Allah beri petunjuk dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Maka ini termasuk perangai yang tercela secara mutlak, dan kondisinya ini seperti akhlaknya kaum yang Allah murkai (Yahudi).”

Lalu Syaikhul Islam menyebutkan sejumlah contoh dari amalan bangsa Yahudi dan Nasrani yang ironinya ditiru oleh sebagian kaum muslimin.

Nabi ﷺ bersabda,

«لَتَتْبَعُـنَّ سنَـنَ مَـنْ كَـانَ قَبْلَكُـمْ شِبْـرًا شِبْـرًا وَذِرَاعًـا بِـذِرَاعٍ حَتَّـى لَوْ دَخَلُـوا جُحْـرَ ضَـبٍّ تَبِعْتُمُـوهُم»

Sungguh kalian akan benar-benar mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, hingga apabila mereka masuk ke dalam lubang biawak pun, niscaya kalian akan tetap mengikuti mereka.”

###

PENUTUP

Penulis mengakhiri risalah ini dengan menukilkan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullāh yang anggun lagi mempesona, yang dibawakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullāh -sang murid- yang mengatakan,

“Saya mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullāh berkata,
“`“Karāmah (kemuliaan) terbesar adalah bertahan dalam istiqomah.”“`

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah rahimahullāh juga berkata di dalam buku beliau, “al-Furqān bayna Auliyā ar-Rahmān wa Auliyā asy-Syaithān (hlm. 34),
“`“Sesungguhnya puncak dari karāmah (kemuliaan) adalah bertahan dalam istiqomah.”“`

Untuk itulah Ibnul Qayyim rahimahullāh menukilkan perkataan sejumlah ulama, beliau mengatakan,
Jadilah orang yang istiqomah jangan jadi pencari karāmah (kemuliaan). Karena sesungguhnya jiwamu bergerak-gerak (tak tentu arah) di saat mencari karāmah sedangkan Rabb-mu hanya meminta padamu untuk istiqomah.”

Artinya adalah, hendaknya seorang hamba senantiasa terus menerus berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menetapi jalan Allah yang lurus dan memelihara ketaatannya kepada Allah ﷻ serta berusaha meraih kesuksesan terbesar dan keuntungan yang tiada tara.

Allah ﷻ berfirman,

(إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ۝ نَحۡنُ أَوۡلِيَآؤُكُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَشۡتَهِيٓ أَنفُسُكُمۡ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ۝ نُزُلا مِّنۡ غَفُور رَّحِيم)
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Rabb kami adalah Allah kemudian mereka ber-istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berpesan), ‘Janganlah kalian khawatir dan jangan pula bersedih, bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kepada kalian. Kami adalah pelindung-pelindung kalian di kehidupan dunia dan akhirat. Di dalam surga kalian akan memperoleh segala yang kalian inginkan dan yang kalian pinta. Sebagai penghormatan dari Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.”
(QS. Fushshilat: 30-32).

Juga firman-Nya,

(إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ۝ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ)
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Rabb kami adalah Allah kemudian mereka ber-istiqomah, maka tidaklah ada kekhawatiran pada diri mereka dan tidaklah pula mereka berduka cita. Mereka inilah para penghuni surga dan mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas amalan yang mereka kerjakan.
(QS. al-Ahzab: 13-14).

Saya memohon kepada Allah Rabb (Pemilik) Arsy yang agung, dengan menyebut nama-nama-Nya yang Indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, agar Ia menetapkan bagi kita semua kemantapan dan hidayah di atas jalan-Nya yang lurus, dan menjauhkan kita dari jalannya kaum yang dimurkai (oleh Allah) dan jalannya orang-orang yang tersesat.

Saya memohon kepada Allah untuk memperbaiki seluruh urusan kita, memperbaiki agama kita yang dapat menjadi pencegah bagi segala urusan kita, dan memperbaiki urusan dunia kita yang merupakan tempat mencari penghidupan bagi kita, serta memperbaiki akhirat kita yang merupakan tempat kembali kita semua.

Saya memohon kepada Allah agar menjadikan kehidupan kita ini sebagai penambah kebaikan bagi kita, dan kematian sebagai tempat kita beristirahat dengan tenang dari segala keburukan.

Inilah akhir dari doa kami, segala pujian dan sanjungan hanyalah milik Allah semata.

Semoga shalawat, salam, keberkahan dan kenikmatan senantiasa terlimpahkan kepada hamba Allah dan utusan-Nya, Muhammad ﷺ , beserta keluarga dan seluruh sahabat beliau.

[ SELESAI ]

••• ════ ༻💎༺ ════ •••

🔍 Dicuplik dari e-book :
10 PRINSIP MERAIH ISTIQOMAH,
karya Prof. DR. Abdurrazzaq al-Badr.
📎 http://bit.ly/10kaidah

Dialihbahasakan oleh:
ℳـ₰✍
✿❁࿐❁✿
@abinyasalma

🔗 Silakan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber.
_____

👥 WAG Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG : https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

10 PRINSIP MERAIH ISTIQOMAH

1⃣0⃣ 🇵‌🇷‌🇮‌🇳‌🇸‌🇮‌🇵
🇲‌🇪‌🇷‌🇦‌🇮‌🇭
🇮‌🇸‌🇹‌🇮‌🇶‌🇴‌🇲‌🇦‌🇭

••• ════ ༻💎༺ ════ •••

“`PRINSIP KESEMBILAN“`
[ Bagian 2/2 ]

PENGHALANG ISTIQOMAH
ADALAH SYUBHAT
YANG MENYESATKAN
DAN SYAHWAT
YANG MEMBINASAKAN

Di sini sepantasnya kami menghadirkan suatu perumpamaan yang indah lagi agung, yang memiliki manfaat sangat besar, yaitu hadits yang diriwayatkan di dalam Musnad (Imam Ahmad) dan Jāmi’ at-Tirmidzī serta selainnya, hadits dari an-Nawwās bin Sam’ān radhiyallāhu ‘anhu dari Rasulullah ﷻ bahwa beliau bersabda,

«ضَـرَبَ اللَّهُ مَثَـلًا صِـرَاطًا مُسْتَقِيـمًا وَعَلَى جَنْبَـتَيْ الصِّـرَاطِ سُـورَانِ فِيهِـمَا أَبْـوَابٌ مُفَتَّحَـةٌ وَعَلَى الْأَبْـوَابِ سُتُـورٌ مُرْخَـاةٌ وَعَلَى بَابِ الصِّـرَاطِ دَاعٍ يَقُـولُ أَيُّـهَا النَّـاسُ ادْخُلُـوا الصِّـرَاطَ جَمِيـعًا وَلَا تَتَفَرَّجُـوا وَدَاعٍ يَدْعُـو مِنْ جَـوْفِ الصِّـرَاطِ فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَـحُ شَيْـئًا مِـنْ تِلْـكَ الْأَبْـوَابِ قَـالَ وَيْحَـكَ لَا تَفْتَحْـهُ فَإِنَّـكَ إِنْ تَفْتَحْـهُ تَلِجْـهُ وَالصِّـرَاطُ الْإِسْـلَامُ وَالسُّـورَانِ حُـدُودُ اللَّهِ تَعَـالَى وَالْأَبْـوَابُ الْمُفَتَّحَـةُ مَحَـارِمُ اللَّهِ تَعَـالَى وَذَلِـكَ الدَّاعِـي عَلَى رَأْسِ الصِّـرَاطِ كِتَـابُ اللَّهِ عَـزَّ وَجَـلَّ وَالدَّاعِـي فَـوْقَ الصِّـرَاطِ وَاعِـظُ اللَّهِ فِي قَلْـبِ كُـلِّ مُسْلِـمٍ»
“Allah memberikan perumpamaan berupa jalan yang lurus, dan di kedua sisi jalan itu terdapat dua buah dinding, dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Kemudian di atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang halus dan di atas setiap pintu terdapat penyeru yang berkata, ‘Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke dalam Shirāth dan janganlah kalian menoleh kesana kemari.’ Sementara di bagian dalam Shirāth juga terdapat penyeru yang selalu mengajak untuk menapaki Shirāth, dan jika seseorang hendak membuka pintu-pintu yang berada di sampingnya, maka ia berkata, ‘Celaka kamu! jangan sekali-kali kamu membukanya. Karena jika kamu membukanya maka kamu akan masuk ke dalamnya.’ Ash-Shirāth adalah Islam. Kedua dinding itu merupakan batasan-batasan Allah Ta’ala. Sementara pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dan adapun penyeru di depan Shirāth adalah Kitabullah (Al Qur`an). Sedangkan penyeru dari atas Shirāth adalah penasihat Allah yang terdapat pada setiap hati orang yang beriman.”
(HR. Ahmad (17634), Tirmidzī (2859) dan Hakim (I/144). Imam Hakim menilainya shahih dan disepakati oleh adz-Dzahabī. Al-Albani juga menshahihkannya di dalam Shahīh al-Jāmi’ (3887)).

Bayangkanlah permisalan ini, semoga Allah memberikan manfaat kepadamu.

Allah memberikan perumpamaan jalan yang lurus, dan di setiap sisi jalan tersebut ada dua buah dinding.

Jika anda berjalan di jalan lurus ini, maka di sebelah kanan anda ada tembok dan di sebelah kiri anda juga ada tembok.

Di kedua tembok ini ada pintu-pintu yang sangat besar, yang anda temui di kanan dan kiri anda saat melewatinya.

Di pintu-pintu ini dipasang tirai yang sangat halus, dan anda pastinya tahu bahwa pintu yang dipasang tirai tidak seperti pintu-pintu lain yang berkunci.

Pintu yang hanya ditutup tirai dapat anda masuki tanpa ada kesulitan dan tidak ada satupun yang dapat menghalangi anda memasukinya.

Seorang muslim yang istiqomah, jika dirinya hendak masuk ke dalam syahwat maka ia dapati hatinya menahannya dan berontak sehingga ia menjadi tidak tenang dan tidak tentram.

Inilah dia penasihat (dari sisi) Allah di dalam hati seorang muslim.

Yang menjadi titik sorotan dari hadits ini adalah bahwa di tiap sisi jalan istiqomah terdapat pintu-pintu yang dapat mengeluarkan seseorang dari jalan istiqomah.

Pintu-pintu ini, secara global, kembalinya kepada dua hal :
(1) syubhat, atau (2) syahwat;
dan berpalingnya seseorang dari istiqomah itu juga lantaran syubhat dan syahwat.

Ibnul Qayyim rahimahullāh berkata :

“Allah ﷻ telah membentangkan jembatan yang akan dilalui manusia dari atasnya, menuju ke surga, dan Allah pasangkan kalālīb (besi-besi pengait) yang dapat mengait (menahan) manusia lantaran amal perbuatan mereka. Demikian pula kalālīb batil (di dunia) berupa syubhat yang menyesatkan dan syahwat yang membinasakan, yang dapat menghalangi seseorang dari istiqomah di atas jalan yang benar dan melewatinya.

Adapun orang yang terpelihara (dari hal ini) adalah mereka yang Allah jaga.”
[ Ash-Showāiqul Mursalah (IV/1256) ]

Seorang muslim dalam kondisi seperti ini, membutuhkan dua jenis hidayah agar dapat selamat dalam perjalannya, yaitu :

(1) Hidāyah ilā ash-Shirāthil Mustaqīm (petunjuk kepada jalan yang lurus) dan

(2) Hidāyah fī ash-Shirāthil Mustaqīm (petunjuk ketika berada di jalan yang lurus).

Ibnul Qayyim Rahimahullâhu berkata,

“Hidayah ilā ath-Tharīq dengan hidayah fī ath-Tharīq adalah dua hal yang berbeda.

Pernahkah Anda melihat ada seseorang yang mengetahui jalan ke negeri si Fulan itu melalui jalan ini dan itu, namun ia tidak cakap melewatinya?

Karena melakukan perjalanan itu memerlukan hidayah (petunjuk) khusus tentang perjalanan itu sendiri, seperti pengetahuan tentang waktu tertentu yang tepat untuk melakukan perjalanan, sedangkan di waktu lainnya tidak disarankan, berbekal dengan air yang memadai dan mencukupi untuk perjalanan, bermalam di lokasi tertentu; ini semua adalah petunjuk (hidayah) di dalam melakukan perjalanan itu sendiri yang acapkali diabaikan oleh orang yang sudah mengetahui tujuan jalannya, akibatnya ia pun celaka dan tidak sampai tujuan.”
[ Risālatu Ibnil Qayyim ilā Ahadi Ikhwānihi (hlm. 9) ]

[ Bersambung, insyaAllah… ]

••• ════ ༻💎༺ ════ •••

🔍 Dicuplik dari e-book :
10 PRINSIP MERAIH ISTIQOMAH
karya Prof. DR. Abdurrazzaq al-Badr.

Dialihbahasakan oleh:
ℳـ₰✍
✿❁࿐❁✿
@abinyasalma

🔗 Silakan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber.
_____

👥 WAG Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG : https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad