FAIDAH SEPUTAR BULAN SYA’BAN

🇸‌🇪‌🇷‌🇮‌🇦‌🇱‌ 🇫‌🇦‌🇼‌🇦‌🇮‌🇩‌

FAIDAH SEPUTAR BULAN SYA’BAN

(Bagian 10/10)

🔗 https://t.me/alwasathiyah

Peristiwa Besar di Bulan Sya’ban

Hari Syak (meragukan) adalah
hari ketiga puluh bulan Sya’ban saat langit tertutup mendung dan manusia tidak bisa melihat hilal.

Disebut hari syak karena ini hari yang meragukan, apakah hari tersebut adalah hari akhir bulan Sya’ban atau hari pertama bulan Ramadhan?

Karena itu dilarang berpuasa di hari ini kecuali bagi orang yang memang terbiasa puasa,
Misalnya : Bertepatan dengan hari Senin atau Kamis sedangkan ia terbiasa berpuasa Senin Kamis, sebagaimana hadits ‘Ammar radhiyallahu ‘anhu:

<< عن عَمَّار بن ياسرٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ: مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّك فَقَدْ عَصَى أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ >>

“Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak maka sungguh ia telah bermaksiat kepada Abul Qasim (Muhammad ﷺ).”
( HR. Bukhari III/27 secara mu’allaq dengan shighah jazm (bentuk kalimat pasti), dan disambung sanadnya oleh riwayat Abu Dawud (2334), Tirmidzi (686), Nasa’i (2188) dan Ibnu Majah (1645), serta dishahihkan oleh al-Albani)

Di bulan Sya’ban ini, terjadi beberapa peristiwa besar, diantaranya:
▪ Kewajiban puasa Ramadhan pada tahun ke-2 H.
▪ Perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram pada tahun ke-2 H. (Ada yang berpendapat hal ini terjadi di bulan Rajab, atau Jumadil Akhirah).
▪ Nabi ﷺ menikahi Hafshah radhiyallahu ‘anha pada tahun ke-3 H.
▪ Meletusnya perang Bani Musthaliq pada tahun ke-5 H.
▪ Meletusnya perang Tabuk pada tahun ke-9 H, dan peristiwa ini terjadi di bulan Rajab. Lalu Nabi ﷺ kembali ke Madinah pada bulan Ramadhan. Adapula yang berpendapat pada bulan Sya’ban
▪ Dan lain-lain ▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬

📃 Khatimah

مَضـى رَجَبٌ ومَا أَحْسـنْتَ فيهِ
وهذا شَهْرُ شَعْبَانَ المُبَرَكْ
فيَا مَن ضَيَّعَ الأوقاتَ جهلًا
بِحُرْمَتِها أَفِقْ واحْذَر بَوارَكْ
فسوفَ تُفارِقُ اللَّذاتِ قَسْرًا
ويُخلِي الموتُ كَرهًا مِنك دَارَكْ
تَدارَكْ مَا استطعتَ مِنَ الَخطايا
بتوبَةِ مُخْلِصٍ واجْعَل مَدارَكْ
علَى طَلَبِ السَّلامَةِ مِن جَحِيمٍ
فخيرُ ذَوِي الجَرَائِم مَن تَدَارَكْ

Rajab telah berlalu dan alangkah baiknya kau di dalamnya
Dan tibalah bulan Sya’ban yang penuh berkah ini
Wahai orang-orang yang menyia-nyiakan waktu karena kejahilan Atas kehormatannya, berhati-hati dan waspadalah dari stagnasi
Karena kelak kau kan berpisah dengan kenikmatan secara terpaksa
Dan kematian kan melepaskan kebencian darimu
Kau perbaiki semampumu dosa-dosamu Dengan taubat yang tulus, dan kau jadikan poros dirimu Untuk mencari keselamatan dari neraka jahim
Karena sebaik-baik pelaku keburukan adalah mereka yang berusaha memperbaikinya

نسأل اللَّه تعالى أن يُوَفَّقنا لما يحبُّه ويرضاه وأن يبلِّغنَا رمضان في صِحَّةٍ و عافيةٍ و إيمانٍ
والحمد للَّه ربِّ العالمين

Kita memohon kepada Allah agar memberikan kita taufiq kepada segala hal yang Ia cintai dan ridhai, dan menghantarkan kita ke bulan Ramadhan dalam keadaan sehat walafiyat lagi penuh keimanan.

Segala puji hanyalah milik ALLAH Rabb Semesta Alam.

  • SELESAI

Dialih bahasakan oleh:
✒️ @abinyasalma

ℳـ₰✍
​✿❁࿐❁✿​
@alwasathiyah


👥 Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG :  https://t.me/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

📎 Sumber : 32 Fa’dah fii Syahri Sya’ban Karya Syaikh Shalih al-Munajjid, penerbit: Majmu’ah Zad di bawah lisensi Syaikh Shalih al-Munajjid

🔗 Silahkan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber.

FAIDAH SEPUTAR BULAN SYA’BAN

🇸‌🇪‌🇷‌🇮‌🇦‌🇱‌ 🇫‌🇦‌🇼‌🇦‌🇮‌🇩‌

FAIDAH SEPUTAR BULAN SYA’BAN

(Bagian 9/10)

🔗 https://t.me/alwasathiyah

Hikmah Dilarangnya Berpuasa Sehari atau Dua Hari Sebelum Ramadhan

Hadits yang berbunyi: “Apabila telah masuk pertengahan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa.”
( HR. Abu Dawud (2337), Tirmidzi no.738 dan Ibnu Majah no.1651 ), dinilai lemah oleh mayoritas ulama.

Para imam yang senior berkata: “Hadits ini mungkar”. Diantara para imam senior yang berpendapat seperti ini adalah: Abdurahman bin Mahdi, Imam Ahmad, Abu Zur’ah ar-Razi, dan lain-lain.
[ Lathaiiful Ma’arif Hal: 135]

Maka dengan demikian, berpuasa setelah masuk pertengan bulan Sya’ban tidaklah dibenci, melainkan sehari atau dua hari sebelum masuk Ramadhan, maka ini diharamkan.

Bagi mereka yang menganggap hadits tersebut di atas shahih dan melarang berpuasa setelah masuk pertengahan bulan Sya’ban, yaitu mereka dari madzhab Syafi’iyah, maka larangan ini dikecualikan bagi mereka yang memang sudah terbiasa berpuasa.

Seperti seseorang yang biasa melaksanakan puasa Senin Kamis, maka ia tetap boleh berpuasa Senin Kamis meskipun telah masuk pertengahan bulan Sya’ban.

Dan orang yang memulai berpuasa sebelum masuk pertengahan bulan Sya’ban, kemudian melanjutkan hingga setelah pertengahan bulan Sya’ban, maka ini juga tidak termasuk di dalam larangan.

Karena Nabi ﷺ bersabda:

<< كَانَ يَصُومً شَعْبَانَ كُلَّهُ، كَانَ يَصُوْمُ شَعْبَانَ إٌلَّا قَلِيْلًا >>

“Beliau pernah berpuasa Sya’ban di keseluruhan harinya, dan pernah pula beliau berpuasa Sya’ban itu hanya sedikit.”
( HR. Bukhari: 1970 dan Muslim: 1156)

Termasuk juga yang dikecualikan dari larangan adalah orang yang berpuasa setelah pertengahan Sya’ban untuk mengqadha’ puasa Ramadhan yang lalu.
[ Lihat: al-Majmu’ karya Nawawi VI/399, Riyadhush Shalihin Hal:354, Tahdzibus Sunan Abi Dawud karya Ibnul Qayyim II/20 dan Latha’iful Ma’arif Hal:136 ]

Diharamkan berpuasa sunnah sehari atau dua hari sebelum masuk Ramadhan, kecuali bagi orang yang terbiasa melakukan puasa, atau orang yang berpuasa qadha’ nadzar atau mengqadha’ puasa Ramadhannya yang lalu, atau orang yang menyambung puasanya dengan hari sebelumnya.

Sebagaimana hadits:

<< لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلا يَوْمَيْنِ إِلا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ >>

“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelum-nya, kecuali seseorang yang ia biasa berpuasa di hari tersebut, maka silakan ia berpuasa.”
( HR. Bukhari: 1914 dan Muslim: 1072)

Puasa di akhir Sya’ban itu ada tiga kondisi:
Pertama: Dia berpuasa dengan niat puasa Ramadhan, dengan maksud berhati-hati. Maka ini terlarang.

Kedua: Dia berpuasa dengan niat puasa nadzar, atau qadha’ Ramadhan, atau puasa kafarat, atau yang semisalnya, maka ini diperbolehka oleh mayoritas ulama.

Ketiga: Dia berpuasa dengan niat puasa sunnah mutlak, maka ini dibenci ( makruh), kecuali apabila bertepatan dengan kebiasaan puasanya, atau ia telah mendahului puasanya lebih dari 2 hari sebelum akhir Sya’ban dan menyambungnya dengan Ramadhan.
[ Lihat: Syarh Nawawi VII/194 dan Latha’iful Ma’arif Hal: 144]

Diantara hikmah dilarangnya berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan adalah: agar puasa Ramadhan tidak tertambah dengan sesuatu yang tidak berasal darinya, sebagai bentuk kehati-hatian dari perilaku ahli kitab di dalam puasa mereka, yang gemar menambah-nambahkan sesuatu dengan akal-akalan dan hawa nafsu.

Selain itu juga untuk memisahkan antara puasa fardhu (wajib) dengan puasa nafilah ( sunnah). Karena memisahkan jenis ibadah wajib dan sunnah itu sesuatu yang disyariatkan. Karena itulah Nabi ﷺ melarang menyambung shalat fardhu dengan shalat sunnah sampai dipisah dengan ucapan atau perpindahan tempat.
( Shahih Muslim: 883)

  • Bersambung in syaa Allah… –

Dialih bahasakan oleh:
✒️ @Abinyasalma

ℳـ₰✍
​✿❁࿐❁✿​
@alwasathiyah


👥 Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG :  https://t.me/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

📎 Sumber : 32 Fa’dah fii Syahri Sya’ban Karya Syaikh Shalih al-Munajjid, penerbit: Majmu’ah Zad di bawah lisensi Syaikh Shalih al-Munajjid

🔗 Silahkan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber.