JANGAN BUAT IBUMU BERSEDIH

‌🇳‌🇦‌🇸‌🇪‌🇭‌🇦‌🇹

JANGAN BUAT IBUMU BERSEDIH

••• ═══ ༻💧༺═══ •••

لا تخبر أمك ما يحزنك لأنها ستحزن أضعاف حزنك

Janganlah engkau menceritakan berita yang menyedihkanmu kepada ibumu, karena beliau akan merasakan kesedihan yang berkali lipat melebihi kesedihanmu

Ustadz Fariq Qashim An-Nuz hafizhahullah pernah mengisahkan, bahwa ada dua orang pemuda yang bekerja sebagai supir taksi tinggal dengan ibunya.
Mereka sangat sayang dengan ibunya, demikian pula sang ibu sayang dengan mereka.

Kedua putra tersebut berencana untuk membeli apartemen yang lebih baik bagi ibunya, lalu mereka kerja siang malam mengumpulkan uang.

Uang yang mereka kumpulkan tersebut mereka simpan dengan cara ditumpuk lalu diikat (dengan karet) kemudian dimasukkan ke dalam bungkusan.

Suatu hari, sang ibu saat bersih-bersih rumah mendapatkan bungkusan uang tersebut dan mengiranya itu kumpulan kartu remi. Lalu beliau pun marah dan membakar bungkusan tersebut.

Saat sang anak yang bungsu datang ke rumah, sang ibu langsung ngomelin dan marah: “Kalian kenapa masih main kartu remi? Kan ibu sudah larang!”

Sang anak dengan sabar menerima omelan sang ibu dan tidak membantah sama sekali.

Kemudian dia bertanya:
Ibu kemanakan bungkusan itu?

Ibunya menukas, “Sudah ibu bakar!”.

Antara shock dan bingung, si anak pun meminta maaf kepada sang ibu dan tidak menjelaskan sama sekali bahwa yang dibakar ibunya adalah uang yang ditabung untuk beli apartemen.

Tak lama kemudian, sang abang datang. Diceritakan semua kejadian oleh si adik.

Sontak sang abang bertanya:
Apakah kau ceritakan bungkusan itu isinya uang?”

Tidak! Aku khawatir ibu jadi sedih!”_ kata si adik.

Kamu benar! Jangan ceritakan hal tersebut kepada ibu, karena beliau akan lebih sedih lagi daripada kita.

Subhanallah

Ini adalah kisah nyata yang menyebabkan ustadz Fariq, termasuk ustadz Abdullah Zaen saat menceritakan kisah nyata ini bercucuran air mata.

Semoga Allah mengasihi ibu-ibu kita.

••• ═══ ༻💧༺═══ •••

ℳـ₰✍
✿❁࿐❁✿
@abinyasalma

Diedit oleh:
📝 Tim Editing AWWI

🔗 Silahkan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber.
_____

👥 WAG Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG : https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

BELAJAR ADAB DARI PARA ULAMA

🇳‌🇦‌🇸‌🇪‌🇭‌🇦‌🇹‌

BELAJAR ADAB DARI PARA ULAMA

••• ════ ༻📚༺ ════ •••

Syaikh Muhammad al-Muhanna bercerita:
Syaikh Sulthan al-Khamis, salah satu murid Syaikh Ibnu Bâz, menceritakan kepadaku :

“Dahulu kami memiliki pelajaran bersama Syaikh Ibnu Bâz membaca buku-bukunya Syaikh al-Albânî, yaitu dilakukan di rumah Syaikh saat masih tinggal di ‘Hayyi dakhnah’ (nama sebuah komplek perumahan di Riyadh), sebelum Syaikh rumahnya pindah di ‘Hayyi Badi’ah‘ pada tahun 1404 H.

Pelajaran tersebut dilakukan setiap selepas shalat Isya’ dua kali dalam sepekan, yaitu pada malam Ahad membaca kitab ‘Silsilah Shahihah’ dan pada malam Selasa membaca kitab ‘Irwa’ul Ghalîl’.

Hadir di dalamnya sejumlah penuntut ilmu (para ulama) diantaranya Syaikh Shâlih as-Sadlan, Syaikh Shâlih Alu Syaikh, Syaikh Sa’ad al-Humayyid, Syaikh Sulaiman al-Mâjid, Syaikh Abdullah bin Abdil Muhsin at-Tuwaijiri, dan lain-lain.

Biasanya, pelajaran dilakukan dengan cara murid membaca buku lalu Syaikh mengomentari sejumlah pembahasan hadits dan fiqih di dalamnya. Seringkali pula Syaikh mendiskusikan pendapat penulis (yaitu Syaikh al-Albânî) di dalam beberapa hal yang dipegang dan dikuatkan oleh Syaikh al-Albani.”

Syaikh Sulthan melanjutkan ceritanya:
“Pada suatu malam, aku pernah bersin di tengah-tengah pelajaran. Lalu aku mengucapkan : “alhamdulilahi rabbil ‘alamîn“.

Lalu Syaikh bin Bâz mengucapkan : “yarhamukallahu” (semoga Allah merahmatimu)

Kemudian aku menjawab: “yaghfirullâhu lanâ wa lakum” (semoga Allah mengampuni kami dan anda semua).

Syaikh lalu berkomentar:
“itu karanganmu sendiri ya? Yaitu kamu meninggalkan sunnah dan malah membuat-membuat sesuatu darimu sendiri ketika kamu mengatakan : yaghfirullâhu lanâ wa lakum.”

Lalu akupun menjelaskan :
“Perkataan ini berasal dari sejumlah riwayat dari Abû Dawud dan Tirmidzi. Di dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa jika ada orang bersin yang mengucapkan “alhamdulillâh” (saja), lalu dijawab “yarhamukallâhu“, maka hendaknya mengucapkan: “yahdîkumullâhu wa yushlih bâlakum
Adapun jika dia (orang yang bersin) mengucapkan: “alhamdulillâhi rabbilâlamîn“, lalu dibalas dengan “yarhamukallâhu“,

maka hendaknya mengucapkan, “yaghfirullâhu lanâ wa lakum“.

Syaikh Ibnu Bâz pun meminta (bukti) buku tersebut dan mulai memuroja’ah masalah ini dari sumbernya sementara kami berada bersama beliau. Waktu pelajaran pun banyak habis untuk membahas hal ini.

Sehingga menjadi jelaslah bagi Syaikh setelah muroja’ah dan menilik kembali bahwa ternyata yang aku sampaikan tersebut benar.

Syaikh berkata: “Iya, ini memang termasuk sunnah. Jazakallahu khayran atas faidah yang kau berikan.”

Kemudian kami pun bersama-sama makan malam sebagaimana kebiasaan kami setiap kali berkumpul bersama Syaikh selepas shalat isya’.

Semoga Allah mengampuni dan meridhai beliau.

••• ════ ༻📚༺ ════ •••

ℳـ₰✍
✿❁࿐❁✿
@abinyasalma

Diedit oleh:
📝 Tim Editing AWWI

🔗 Silahkan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber.
__________________

👥 WAG Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG : https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad