Motivation, Nasehat, Renungan

SERIAL TAUHID [ Bag.16/18 ]

🇸‌🇪‌🇷‌🇮‌🇦‌🇱‌ 🇹‌🇦‌🇺‌🇭‌🇮‌🇩‌

MENGENAL TAUHID

(Bagian 16/18)

🔗 https://bit.ly/alwasathiyah

••• ════ ༻🍁༺ ════ •••

I’tiqad Ahlus Sunnah dalam masalah Asma wa sifat

I’tiqad Ahlus Sunnah dalam masalah Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala didasari atas dua prinsip:

1⃣ Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala wajib disucikan dari semua nama dan sifat kekurangan secara mutlak, seperti ngantuk, tidur, lemah, bodoh, mati, dan lainnya.

2⃣ Allah mempunyai nama dan sifat yang sempurna yang tidak ada kekurangan sedikit pun juga, tidak ada sesuatu pun dari makhluk yang menyamai Sifat-Sifat Allah.
[Lihat Minhaajus Sunnah (II/111, 523), tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim.]

Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak menolak nama-nama dan sifat-sifat yang disebutkan Allah untuk Diri-Nya, tidak menyelewengkan kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kedudukan yang semestinya, tidak mengingkari tentang Asma’ (Nama-Nama) dan ayat-ayat-Nya, tidak menanyakan tentang bagaimana Sifat Allah, serta tidak pula menyamakan Sifat-Nya dengan sifat makhluk-Nya.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa Allah Azza wa Jalla tidak sama dengan sesuatu apapun juga. Hal itu karena tidak ada yang serupa, setara dan tidak ada yang sebanding dengan-Nya, serta Allah tidak dapat diqiyaskan dengan makhluk-Nya.

Yang demikian itu dikarenakan hanya Allah Azza wa Jalla sajalah yang lebih tahu akan Diri-Nya dan selain Diri-Nya. Dia-lah yang lebih benar firman-Nya, dan lebih baik Kalam-Nya daripada seluruh makhluk-Nya, kemudian para Rasul-Nya adalah orang-orang yang benar, jujur, dan juga yang dibenarkan sabdanya. Berbeda dengan orang-orang yang mengatakan terhadap Allah Azza wa Jalla apa yang tidak mereka ketahui, karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

( سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ )

Mahasuci Rabb-mu, Yang memiliki keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para Rasul, dan segala puji bagi Allah Rabb sekalian alam.” ( QS. Ash-Shaffaat : 180-182)

Allah Azza wa Jalla dalam ayat ini menyucikan Diri-Nya, dari apa yang disifatkan untuk-Nya oleh penentang-penentang para Rasul-Nya. Kemudian Allah Azza wa Jalla melimpahkan salam sejahtera kepada para Rasul karena bersihnya perkataan mereka dari hal-hal yang mengurangi dan menodai keagungan Sifat Allah.
[Lihat at-Tanbiihaat al-Lathiifah Hal: 15-16]

Dalam menuturkan Asma’ dan Sifat-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memadukan antara an-nafyu wal itsbat (menolak dan menetapkan)

Maksudnya, Allah memadukan kedua hal ini ketika menjelaskan Sifat-Sifat-Nya dalam Al-Qur-an. Tidak hanya menggunakan Nafyu saja atau Itsbat saja.
Nafyu (penolakan) dalam Al-Quran secara garis besarnya menolak adanya kesamaan atau keserupaan antara Allah dengan makhluk-Nya, baik dalam Dzat maupun sifat, serta menolak adanya sifat tercela dan tidak sempurna bagi Allah.

Nafyu bukanlah semata-mata menolak, tetapi penolakan yang di dalamnya terkandung suatu penetapan sifat kesempurnaan bagi Allah, misalnya disebutkan dalam Al-Quran bahwa Allah tidak mengantuk dan tidak tidur, maka ini menunjukkan sifat hidup yang sempurna bagi Allah.

Itsbat (penetapan), yaitu menetapkan Sifat Allah yang mujmal (global), seperti pujian dan kesempurnaan yang mutlak bagi Allah dan juga menetapkan Sifat-Sifat Allah yang rinci seperti ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, hikmah-Nya, rahmat-Nya dan yang seperti itu.
[Lihat Syarhul ‘Aqiidah al-Waasithiyyah oleh Khalil Hirras, tahqiq Alwi as-Saqqaf, Hal: 76-78]

Maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak menyimpang dari ajaran yang dibawa oleh para Rasul, karena itu adalah jalan yang lurus ( ash-Shiraathul Mustaqiim), jalannya orang-orang yang Allah karuniai nikmat, yaitu jalannya para Nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

( وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا )

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddiiqiin, para syuhadaa’ dan para shaalihiin. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.” ( QS. An-Nisaa’: 69)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpegang dan menempuh jalan orang-orang yang Allah beri nikmat atas mereka. Dengan berpegang kepada jalan ini, maka sempurnalah nikmat yang mereka dapatkan berupa aqidah, adab dan akhlak. Adapun orang-orang yang menempuh selain jalan mereka, maka mereka pasti akan menyimpang dalam masalah ‘aqidah, adab dan akhlak.
[ Lihat at-Tanbiihaatul Lathiifah (Hal: 19-21)]

– Bersambung in syâ Allâh ... –

••• ════ ༻🍁༺ ════ •••

Ditulis oleh :
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Diedit oleh :
📝 TIM Editing AWWI

ℳـ₰✍
✿❁࿐❁✿
@alwasathiyah
__________________

👥 WAG Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG : https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

📎 Sumber : https://almanhaj.or.id/3263-tauhid-al-asma-wash-shifat-kaidah-tentang-sifat-sifat-allah-jalla-jalaluhu-menurut-ahlus-sunnah.html

🔗 Silahkan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.