15 FAKTOR PENOPANG MANTAPNYA AQIDAH

‌🇸‌🇪‌🇷‌🇮‌🇦‌🇱 ‌🇦‌🇶‌🇮‌🇩‌🇦‌🇭

15 FAKTOR PENOPANG MANTAPNYA AQIDAH

“`(Bagian 15/15)“`

🔗 https://bit.ly/alwasathiyah

••• ════ ༻🌿༺ ════ •••

Ahlus Sunnah Berada di atas Aqidah yang Satu

Diantara faktor mantapnya ahlus sunnah di atas keyakinan yang benar adalah, mereka senantiasa bersatu padu dan tidak berpecah belah.

Adapun Ahli ahwâ`, mereka telah memecah belah agama mereka dan mereka bergolong-golongan.
Setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang mereka miliki.
Qotâdah berkata,

«لو كان أمر الخوارج لاجتمع، ولكنه ضلالاً فتفرّق»

”Sekiranya khowarij itu berada di atas petunjuk niscaya mereka akan bersatu, namun mereka berada di atas kesesatan sehingga mereka saling berpecah belah.”
( Tafsir ath-Thobarî III/178).

Hal yang seperti ini tidaklah sedikit terjadi pada Ahli bid’ah. Adapun Ahlus sunnah, mereka saling bersatu padu dan berhimpun, tidak ada pada mereka perpecahan ataupun perselisihan di dalam agama Allah. Mereka berada di atas jalan yang lurus, saling berjanji, berwasiat dan bersabar di atasnya.
Abūl Muzhoffar as-Sam’ânî berkata :

ومما يدل على أن أهل الحديث على الحق أنك لو طالعت جميع كتبهم المصنفة من أولها إلى آخرها، قديمها وحديثها، مع اختلاف بلدانهم وزمانهم وتباعد ما بينهم في الديار، وسكون كل واحد منهم قطرا من الأقطار، وجدتهم في بيان الاعتقاد على وتيرة واحدة ونمط واحد، يجرون فيه على طريقة لا يحيدون عنها ولا يميلون عنها، قلوبهم في ذلك على قلب واحد، ونقلهم لا ترى بينهم إختلافا ولا تفرقا في شيء ما وإن قلّ، بل لو جمعت جميع ما جرى على ألسنتهم ونقلوه عن سلفهم وجدته كأنه جاء من قلب واحد وجرى على لسان واحد، وهل على الحق دليل أبين من هذا ؟ قال الله تعالى :

”Diantara hal yang menunjukkan bahwa Ahli hadits itu berada di atas kebenaran adalah, sekiranya anda menelaah semua kitab-kitab mereka yang tertulis baik dari awal sampai akhir, baik yang terdahulu maupun yang kontemporer, walaupun negeri dan zaman mereka berbeda dan saling berjauhan, dan tempat tinggal setiap orang dari mereka tersebar di seluruh penjuru dunia, anda dapati bahwa mereka di dalam menjelaskan masalah aqidah berada pada satu manhaj dan jalan.
Mereka berjalan di atas jalan ini, tidak menyimpang dan berpaling darinya. Hati mereka satu di dalam keyakinan tersebut, dan tidak anda dapati perselisihan dan perpecahan sedikitpun di dalam transmisi (penukilan) mereka kecuali hanya sedikit sekali. Bahkan, sekiranya anda mengumpulkan semua yang mereka ucapkan dan yang mereka nukil dari pendahulu ( salaf ) mereka, anda dapati seakan-akan berasal dari hati dan lisan yang satu.
Apakah benar ada dalil lain yang lebih terang daripada ini? Allah Ta’âlâ berfirman,

﴿أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا﴾

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al Qur`an? kalau kiranya al-Qur`an itu bukan dari sisi
Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS an-Nisâ` :82)
Dan firman-Nya,

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا﴾

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (QS Âli ’Imrân : 103) [ Mukhtashor ash Showâ`iqul Mursalah karya Ibnul Qoyyim hal. 518)

Hal ini juga merupakan diantara faktor-faktor besar yang dapat menghantarkan ahlus sunnah mantap di atas kebenaran dan konsisten di atas aqidah yang benar serta selamat dari penyimpangan, kelabilan dan perubahan.

Inilah poin terakhir yang hendak kupaparkan penjelasannya, akan tetapi saya cukupkan sampai di sini dan akan saya jelaskan sebagian aspek lain dari aqidah yang menjelaskan persatuan ahlus sunnah wal jama’ah di atas aqidah dan jalan mereka yang satu, dari orang pertama hingga orang terakhir mereka, apabila anda perhatikan pendapat-pendapat mereka di zaman ini dan pendapat mereka di zaman awal,
yaitu zaman Nabi ﷺ, anda dapati bahwa mereka berada di atas perkara yang satu, karena mereka mengambilnya dari sumber yang satu pula.
Imâm Mâlik rahimahullahu berkata,

«ما لم يكن ديناً زمن النبي ﷺ فلن يكون اليوم دينا، ولم يكن دينا إلى قيام الساعة، ولم يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح بها أولها»

”Segala sesuatu yang pada zaman Nabi tidak termasuk agama, maka tidak akan termasuk agama pula pada hari ini dan tidak pula termasuk agama hingga hari kiamat. Tidak akan baik keadaan akhir umat ini melainkan dengan baiknya umat generasi awal.”

Apabila anda memperhatikan aqidah mereka di zaman ini juga di zaman-zaman sebelumnya, anda
dapati mereka berada di atas aqidah yang satu. Akan saya berikan beberapa contoh hal ini,

Contoh 1 : Apabila anda mencermati aspek tauhid dan ikhlash, yaitu mengikhlaskan (memurnikan) amal hanya untuk Allah Ta’âlâ semata, anda dapati bahwa mereka dari generasi awal sampai akhir adalah para penyeru tauhid, semuanya menyeru kepada pemurnian perbuatan hanya bagi Allah semata dan semuanya memperingatkan dari kesyirikan dan segala bentuk peribadatan selain kepada Allah.

Tidak akan anda dapati ada diantara mereka yang mengajak kepada kesyirikan atau menyelisihi tauhid, sebagaimana yang dilakukan oleh mayoritas Ahli ahwâ`, yang menyeru kepada berbagai bentuk penyimpangan ini dan memberikan nama dengan selain namanya. Mereka menamakan berbagai macam kesyirikan dengan tawassul atau syafâ’at atau selainnya.

Contoh 2 : Mereka semua bersepakat untuk mendorong berpegang kepada sunnah dan melarang dari segala bentuk bid’ah dan hawa nafsu. Anda tidak akan melihat seorangpun dari mereka melainkan menyeru kepada sunnah dan memperngatkan dari bid’ah .

Anda tidak akan dapati ada diantara mereka yang menganggap baik *hawa nafsunya dan mendorong kepada bid’ah , atau ada orang yang menjelaskan bahwa ada suatu bid’ah yang baik ( hasanah ), atau yang semisalnya. Hal ini tidak akan pernah ditemukan pada ahlus sunnah.

Karena seluruh ahlus sunnah dari generasi awal sampai akhir mereka memperingatkan dari bid’ah dan hawa nafsu, dan menyeru manusia untuk berpegang teguh dengan kitâbullâh dan sunnah Nabi-Nya ﷺ.

Contoh 3 : Keimanan mereka kepada asma’ dan shifât Allah Tabâroka wa Ta’âlâ. Anda dapati bahwa mereka dari generasi pertama hingga akhir berada di atas manhaj yang satu, menetapkan nama dan sifat bagi Allah sebagaimana apa yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dan apa yang ditetapkan oleh Rasulullah ﷺ untuk diri-Nya.

Mereka menafikan (menolak) segala apa yang Allah dan Rasul-Nya ﷺ nafikan bagi diri-Nya, berupa kekurangan dan sifat cela, tanpa melakukan tahrîf (merubah makna), ta’thîl (meniadakan), takyîf (mempertanyakan kaifiyatnya ) dan tamtsîl (menyerupakan dengan makhluk). Kaidah mereka di dalam hal ini adalah sebagaimana yang
Allah beritakan,

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Ia adalah Maha Mendengar lagi Melihat.” (asy Syūrâ : 11).
Mereka semua di dalam pembahasan ini berada di atas manhaj yang satu.

Adapun selain mereka, anda dapati mereka melakukan tahrîf , ta’thîl , takyîf dan tamtsîl atau selainnya dari metode-metode yang beraneka ragam yang dimiliki oleh setiap madzhab dari madzhab-madzhab (yang menyimpang) ini.

Contoh 4 : Manhaj mereka yang satu di dalam metode beristidlâl (menggali dalil). Hal ini telah lalu
penjelasannya. Intinya, metode mereka di dalam istidlâl adalah satu dan sandaran mereka juga satu, yaitu kitâbullâh dan sunnah Rasulullah ﷺ.

••• ════ ༻🌿༺ ════ •••
ℳـ₰✍
✿❁࿐❁✿
@abinyasalma

👥 Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG : https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

Sumber :
E-book “15 Faktor Penopang Mantapnya Aqidah”
📎 http://bit.ly/15faktor

🔗 Silakan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber.

15 FAKTOR PENOPANG MANTAPNYA AQIDAH

‌🇸‌🇪‌🇷‌🇮‌🇦‌🇱 ‌🇦‌🇶‌🇮‌🇩‌🇦‌🇭

15 FAKTOR PENOPANG MANTAPNYA AQIDAH

“`(Bagian 14/15)“`

🔗 https://bit.ly/alwasathiyah

••• ════ ༻🌿༺ ════ •••

Mengambil Ibroh dari Ahlul Ahwa’

Diantara (penyebab) mantapnya aqidah ahlus sunnah dan selamatnya dari penyimpangan adalah, mereka mau mengambil ibrah dan pelajaran dari keadaan ahli hawa terdahulu. Dikatakan di dalam sebuah pepatah,

«السَّعِيْدُ مَنِ اتَّعَظَ بِغَيْرِهِ»

Seorang yang berbahagia itu adalah orang yang dapat mengambil pelajaran dari orang lain”.

Ahli hawa yang meninggalkan Kitabullah dan Sunnah, menyebabkan mereka menjadi plin plan, menyimpang, labil (berubah-ubah) dan goyah, serta jauh dari kemantapan dan kekokohan. Tidak pernah anda dapati ada seorang ahli hawa yang mantap dan kokoh sikapnya, karena mereka ini terus menerus dan selamanya dalam keadaan labil.

Saya nukilkan di sini keterangan dari para ulama tentang pensifatan keadaan ahli ahwâ`: Syaikhul Islam berkata,

«أهل الكلام أكثر الناس انتقالا، من قول إلى قول، وجزما بالقول في موضع، وجزما بنقيضه وتكفير قاله في موضع آخر، وهذا دليل عدم اليقين، فإن الإيمان كما قال فيه قيصر لما سأل أبا سفيان عمن أسلم مع النبي صلى الله عليه وسلم، قال: هل يرجع أحد منهم عن دينه سخطة له بعد أن يدخل فيه ؟ قال : لا، قال : وكذلك الإيمان إذا خالط بشاشته القلوب لا يسخطه أحد»

Ahli kalam adalah manusia yang paling sering berubah-ubah (labil) pendapatnya dari pendapat yang satu ke pendapat yang lain. Mereka menetapkan suatu pendapat di suatu tempat, namun di tempat lain mereka membantahnya dan mengkafirkan orang
yang berpendapat dengannya.
Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak memiliki keyakinan, karena sesungguhnya iman itu sebagaimana yang dikatakan oleh Kaisar (Heraklius) ketika bertanya kepada Abū Sufyân tentang siapa saja yang turut masuk Islam bersama nabi ﷺ, ia berkata : ”Adakah seorang diantara mereka yang kembali dari agamanya disebabkan karena ia murka kepadanya setelah ia masuk ke dalamnya?”
Abū Sufyân menjawab, ”Tidak”. Kaisar berkata, ”Demikianlah keimanan itu, apabila telah merasuk ke dalam sanubari hati seseorang, tidak ada seorangpun yang murka padanya.” ( Majmū’ Fatâwâ IV/50).

Di dalam kisah di atas terhadap ibrah dan pelajaran tentang keadaan Ahli ahwâ` bahwa mereka tidak memiliki kemantapan dan konsistensi, namun mereka senantiasa berada di dalam kelabilan dan kegoncangan.

Termasuk sifat yang dijelaskan oleh para ulama tentang keadaan Ahli ahwâ` adalah, ucapan Abū
Muzhoffar as-Sam’ânî yang dinukil oleh at-Taimî dan Ibnul Qoyyim, beliau berkata,

«وأما إذا نظرت إلى أهل الأهواء والبدع رأيتهم متفرقين مختلفين، أو شيعا وأحزابا، لا تكاد تجد اثنين منهم على طريقة واحدة في الاعتقاد، يبدع بعضهم بعضا، بل يرتقون إلى التكفير، يكفر الابن أباه والرجل أخاه، والجار جاره، تراهم أبدا في تنازع وتباغض واختلاف، تنقضي أعمارهم ولم تتفق كلماتهم»

”Apabila anda memperhatikan keadaan Ahli ahwâ`, anda dapati mereka ini dalam keadaan berpecah belah dan berselisih, bergolonggolongan dan berpartai.
Tidak mungkin anda temukan ada dua orang diantara mereka yang berada di atas satu manhaj di dalam masalah aqidah, mereka saling membid’ahkan satu dengan lainnya.
Bahkan mereka sampai jatuh kepada pengkafiran, seorang anak sampai mengkafirkan ayahnya, seorang mengkafirkan saudaranya dan tetangganya. Anda lihat mereka senantiasa dalam keadaan saling bertikai, membenci dan berselisih. Habis umur mereka namun mereka tidak pernah bersatu.” ( Mukhtashor ash Showâ`iq al-Mursalah karya Ibnul Qoyyim hal. 518).

Syaikhul Islam berkata menjelaskan sifat ahli ahwâ`,

«وأيضا المخالفون لأهل الحديث، هم مظنة فساد الأعمال، إما عن سوء عقيدة ونفاق، وإما عن مرض في القلب وضعف إيمان، ففيهم من ترك الواجبات، واعتداء الحدود، والاستخفاف بالحقوق وقسوة القلب ما هو ظاهر لكل أحد، وعامة شيوخهم يرمون بالعظائم، وإن كان فيهم من هو معروف بزهد وعبادة، ففي زهد بعض العامة من أهل السنة وعبادته ما هو أرجح مما هو فيه، ومن المعلوم أن العلم أصل العمل، وصحة الأصول توجب صحة الفروع»

”Mereka juga senantiasa menyelisihi Ahli hadits, mereka adalah tempatnya kerusakan amal, bisa jadi berasal dari aqidah yang jelek dan nifaq, dan bisa jadi pula dari hati yang sakit dan iman yang lemah.
Diantara mereka ada yang meninggalkan perkara wajib, melanggar batas, meremehkan hak dan hati yang kesat, yang tampak pada setiap orang dari mereka.
Secara umum guru-guru mereka gemar melakukan dosa besar, walaupun ada diantara mereka yang dikenal dengan kezuhudan dan ibadahnya. Sesungguhnya, zuhud dan ibadahnya orang awam Ahlus sunnah lebih baik daripada mereka. Suatu hal yang telah diketahui bersama, bahwa ilmu itu adalah pondasinya amal, dan benarnya suatu pondasi mengharuskan benarnya furu (cabang amal). ( Majmū’ Fatâwâ IV/53)

Ibrâhîm an-Nakho’î berkata :

«كانوا يرون التلون في الدين من شكّ القلوب في الله عزّ وجلّ»

”Para salaf memandang bahwa bersikap plin plan di dalam agama merupakan keraguan hati terhadap Allah Azza wa Jalla ” ( al-Ibânah karya Ibnu Baththoh
II/502)

Mâlik bin Anas berkata,

«الداء العُضال، التنقّل في الدين»، وقال: «قال رجل : ما كنت لاعبًا به، فلا تلعبنَّ بدينك»

”Penyakit yang paling mematikan adalah, sikap labil di dalam agama.” Beliau berkata, ”Seorang pria berkata, “Aku tidak pernah bermain-main dengan agama maka janganlah kamu sekali-kali bermain-main dengan agamamu.” ( al-Ibânah II/506 )

Barangsiapa memperhatikan keadaan ahli ahwâ`, niscaya ia akan mendapati bahwa realita keadaan mereka adalah sedang bermain-main dengan agama dan labil (berubah-ubah pendirian). Pendapat, akal, pemikiran dan bentuk kelompok ini bermacam-macam dan berbeda-beda, tidak pernah mantap dan konsisten.

Sampai-sampai ada seorang lelaki dari ahlus sunnah datang kepada salah satu pembesar ulama Ahli
kalâm yang sedang dirundung kebimbangan, keraguan, dan kegoncangan. Ahli kalâm itu bertanya (kepada ahlus sunnah tadi), ”Apa yang anda yakini?”, pria itu menjawab, ”Saya meyakini apa yang diyakini oleh kaum muslimin, yaitu yang datang dari Kitâbullâh dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ.”

Ahli Kalâm itu bertanya kembali, ”Apakah anda merasa mantap dengan keyakinan itu dan berlapang dada?”, pria itu menjawab, ”Iya.” Kemudian ulama Ahli kalâm itu berkata, ”Adapun saya, demi Allah saya tidak tahu apa yang saya yakini? demi Allah saya tidak tahu apa yang saya yakini? Demi Allah saya tidak tahu apa yang saya yakini?” sembari menangis tersedu-sedu hingga basah jenggotnya.” (Lihat Syarhul Aqîdah ath Thahâwiyah hal. 246).

Hal ini disebabkan karena urusan mereka adalah berdebat, berdiskusi dan sebagainya. Siapa saja yang
memperhatikan keadaan ahli ahwâ`, ia akan dapat memetik pelajaran dan ibrah dari mereka,
sebagaimana perkataan pepatah sebelumnya,

«السعيد من اتّعظ بغيره»

”Seorang yang berbahagia itu adalah orang yang dapat mengambil pelajaran dari orang lain”.

Ahlus sunnah dengan segala pujian bagi Allah adalah berada di atas sunnah, ia senantiasa meminta kepada Allah Tabâraka wa Ta’âlâ supaya memantapkannya di atas sunnah.

••• ════ ༻🌿༺ ════ •••
ℳـ₰✍
✿❁࿐❁✿
@abinyasalma

👥 Al-Wasathiyah Wal-I’tidāl
✉ TG : https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 FB : fb.com/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 IG : instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : mixlr.com/abusalmamuhammad

Sumber :
E-book “15 Faktor Penopang Mantapnya Aqidah”
📎 http://bit.ly/15faktor

🔗 Silakan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber.