Serba-Serbi, Tanya Jawab

Q&A : HUKUM MENGGUNAKAN ALAT KB (Keluarga Berencana) DALAM ISLAM

┏━━━━━━━━━‌━━━━┓
Question Answer 🎙️
┗━━━━━━━━━━━━━┛

HUKUM MENGGUNAKAN ALAT KB (Keluarga Berencana) DALAM ISLAM

PERTANYAAN :

Assalamu’alaykum warahmatullah.

Izin mau bertanya hukum KB dalam Islam (misal disteril, atau habis operasi SC, harus menunggu keturunan lagi agak lama dengan cara KB). Mohon penjelasannya.

Jazakumullahu khayr.
Wassalamu’alaykum warohmatulloh.

➖➖➖➖➖➖➖

JAWABAN :

Wa’alaykumussalam warohmatullahi wabarokatuh.

Berkenaan dengan masalah KB sudah sempat saya jawab beberapa kali di grup dengan lebih terperinci.

Namun prinsip KB adalah :
(1). Tahdidun Nasl atau membatasi keturunan
(2). Tanzhimun Nasl atau mengatur keturunan

Yang pertama TAHDID dan yang kedua TANZHIM.

Adapun Tahdidun Nasl / membatasi keturunan misalnya cukup dua anak saja, maka yang demikian ini disebut oleh para ulama hukumnya HARAM (tidak diperbolehkan). Baik itu alasannya karena takut miskin atau alasan lainnya.

Tapi kalau di situ tujuannya adalah Tanzhimun Nasl atau mengatur keturunan, seperti seorang ibu hamil kemudian dia KB dulu selama dua tahun dalam rangka untuk menyusui anaknya. Kemudian setelah itu dia lepas lagi KB-nya supaya bisa punya anak lagi. Maka semacam ini oleh para ulama diperbolehkan.

Ada beberapa hal penting yang harus diketahui bahwa :

● POIN PERTAMA

Apabila seorang wanita ditengarai / diduga kuat oleh dokter yang dipercaya (tsiqah) , bahwasanya apabila dia hamil lagi akan menimbulkan kematian bagi si wanita tersebut sehingga dia harus KB baik secara temporer atau permanen, yaitu dengan cara tubektomi (ditutup atau dipotong saluran sel telur/tuba falopi nya) ataupun histerektomi (pengangkatan rahim) misalnya, yang demikian ini bisa dibuktikan dari sisi media dan dokternya bisa dipercaya, maka yang seperti ini diperbolehkan.

Sebab alasan darurat dimana jika tidak dilakukan maka akan membahayakan jiwa si wanita tersebut. Sehingga boleh si wanita ini (memasang) KB.

Namun yang jadi catatan adalah bahwa yang boleh disterilkan atau dilakukan KB adalah si istrinya bukan suaminya. Sebab suami tidak diperbolehkan untuk disterilkan.

● POINT KEDUA

Berkenaan dengan masalah sterilisasi salah satu pasangan maka hukum asalnya adalah haram.

Tidak diperbolehkan kecuali apabila dalam kondisi sebagaimana sudah dijelaskan di awal sebelumnya, yaitu dalam kondisi darurat.

Sehingga apabila tidak disterilkan akan menyebabkan si istri meninggal dunia pada saat dia melahirkan lagi atau dia hamil lagi.
Kondisi seperti ini termasuk darurat yang dengan ini diperbolehkan si istri untuk disterilkan. Sedangkan suami tidak diperbolehkan untuk disterilkan.

Wallahu ta’ala a’lam bish shawab

🎙Jawaban Q&A : Ustadz Abu Salma Muhammad حفظه الله تعالى
🖊Transkrip : Tim Transkrip AWWI

______________

👤👥 Grup WhatsApp Al-Wasathiyah Wal I’tidål
📧 Telegram: https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 Facebook : http://fb.me/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📸 Instagram : http://instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : http://mixlr.com/abusalmamuhammad/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.