Adab, Motivation, Nasehat, Tanya Jawab

Q&A : SIKAP ANAK MENGHADAPI ORANG TUA YANG MELALAIKAN SHALAT

┏━━━━━━━━━‌━━━━┓
Question Answer 🎙️
┗━━━━━━━━━━━━━┛

SIKAP ANAK MENGHADAPI ORANG TUA YANG MELALAIKAN SHALAT

PERTANYAAN :

Assalamu ‘alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Ana pernah mendengar hadist sekilas tentang “celakalah seorang anak yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup tetapi tidak bisa memasukkan mereka ke dalam surga”.

Qodarullah ayah sudah beberapa kali diberi sakit stroke dan jantung hingga beberapa kali harus opname di rumah sakit.

Namun kewajiban beliau untuk shalat dan puasa ramadhan sering beliau tinggalkan dengan alasan sakit, padahal sudah ana sarankan agar shalat semampu beliau bisa dengan duduk / berbaring.
Dan itupun masih enggan beliau lakukan. Ana juga selalu berdoa agar Allah membukakan hidayah kepada beliau, dan kadang ana tunjukkan gambar/ video orang yang (afwan) kurang sempurna fisiknya namun masih shalat bahkan shalat di masjid.

Kadang malah mewasiatkan untuk mengadakan tahlilan jika beliau wafat dan tanggapan ana hanya diam karena tahu jika ana bantah ayah akan marah.

Apakah ana akan tetap diazab jika ayah masih tidak mau shalat dan puasa kelak di hari kiamat oleh Allah?

Lalu bagaimana sikap ana menghadapi orang tua selain menasehati dan mendoakan beliau, serta menunjukkan sikap yg baik pada beliau?

Untuk puasa ramadhan apakah ana saja yang membayarkan fidyah walaupun ayah tidak ada keinginan dari diri sendiri atau meminta tolong pada ana?

Jujur sebelum ngaji ana dulu sangat temperamen dan keras kepala, namun insyaa Allah sekarang sudah ana kurangi dengan lebih banyak beristighfar atau diam sekarang.
Semoga ini ujian dari Allah sebagai penghapus dosa-dosa ana, berharap pahala pada-Nya dan menjadikan ana ridho dengan segala ketetapan-Nya.

Jazakumullah khayran

➖➖➖➖➖➖➖

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh.

Kewajiban anak adalah berbakti kepada orang tuanya semampu dia dan tidak memenuhi perintah orang tua di dalam hal-hak yang sifatnya bermaksiat.

Apabila orang tua memerintahkan hal-hal yang ada unsur kesyirikan, kemaksiatan, ke-bid’ah-an maka kita tinggalkan. Maksudnya tidak boleh kita lakukan namun kita tetap harus berinteraksi dengan mereka secara yang baik.

Kita harus berlemah lembut, meskipun mereka marah kepada kita tapi kita tidak boleh balik marah kepada mereka. Jadi kita harus bersabar.

Terlebih lagi apabila orang tua kita sudah tua dan sudah sakit-sakitan. Mereka lebih butuh lagi dengan kita.

Kita harus bersabar dengan mereka. Sembari kita memohon do’a kepada Allah agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah. Karena hidayah ada di tangan Allah.

Kita tunjukkan akhlak yang mulia, kita tunjukkan adab yang baik, kita tunjukkan kelemah lembutan kita, kemudian tak lupa kita menasihati mereka dengan nasihat-nasihat yang tidak menggurui. Nasehat tersebut kita sampaikan dengan cara yang hikmah.

Namun kita tidak usah tergesa-gesa untuk meminta orang tua kita berubah. Kita berusaha semampu kita.

Adapun selebihnya kita serahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jika kita sudah birrul walidain (sudah berbuat sebaik-baiknya), namun orangtua masih saja tetap tidak mau menerima nasihat kita dan meninggalkan perintah-perintah Allah atas kewajiban-kewajiban dia, maka sudah tidak ada beban tanggung jawab dari anaknya ketika orang tua itu sudah meninggal dunia, dan kita hanya bisa mendo’akan mereka.

Allah tidak akan menyiksa kita lantaran perbuatan orang lain. Misalnya kita sudah berusaha semampu kita lalu kemudian orang tua kita masih tidak mau menerima nasihat kita, tidak mau shalat maka yang akan dihisab adalah amal perbuatan orang tua kita tersebut dan kita tidak akan kena imbasnya. Karena kita sudah menunaikan kewajiban kita sebagai anak.

Tapi kalau kita meremehkan, kita tidak mau membantu orang tua kita, kita tidak pernah menasihati mereka dan kita abaikan, kita cuek dengan mereka, maka kita bisa kena imbasnya.

Jadi yang menjadi acuan disini adalah usaha atau upaya kita Kalau kita sudah berbuat sebaik-baiknya, semampu kita maka itu sudah cukup.

Namun apabila kita sengaja mengabaikan, kita sengaja menjauhi, menelantarkan, tidak mau menasehati, tidak mau mengingatkan, maka ini yang akan menjadi musibah atau kita bisa kena ancaman dari Allah Subhanahu wa Ta’ala pula.

Wallahu ta’ala a’lam bish shawab

🎙Jawaban Q&A : Ustadz Abu Salma Muhammad حفظه الله تعالى
🖊Transkrip : Tim Transkrip AWWI

______________

👤👥 Grup WhatsApp Al-Wasathiyah Wal I’tidål
📧 Telegram: https://bit.ly/alwasathiyah
🌐 Blog : alwasathiyah.com
‌🇫 Facebook : http://fb.me/wasathiyah
📹 Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📸 Instagram : http://instagram.com/alwasathiyah
🔊 Mixlr : http://mixlr.com/abusalmamuhammad/

1 thought on “Q&A : SIKAP ANAK MENGHADAPI ORANG TUA YANG MELALAIKAN SHALAT”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.