Adab, Motivation, Nasehat

Serial Parenting : LANGKAH-LANGKAH PRAKTIS DALAM MENDIDIK ANAK

‌🇸‌🇪‌🇷‌🇮‌🇦‌🇱 ‌🇵‌🇦‌🇷‌🇪‌🇳‌🇹‌🇮‌🇳‌🇬
LANGKAH-LANGKAH PRAKTIS DALAM MENDIDIK ANAK

KETUJUH : SUNNAH YANG SEPATUTNYA DIPRAKTIKAN SEORANG MUSLIM ADALAH TAHNIK

Tahnîk adalah mengunyah kurma lalu menggosokkannya ke dalam langit-langit mulut bayi.

Diriwayatkan bahwa Abû Musa al-Asy’ari Radhiyallâhu ‘anhu berkata :

وُلِدَ لِي غُلَامٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ
“Anak laki-lakiku lahir, kemudian segera aku bawa kepada Nabi ﷺ. Beliau lalu memberinya nama Ibrahim, mentahnîknya dengan kurma dan mendoakannya dengan keberkahan.”

Diriwayatkan bahwa Asmâ bintu Abi Bakr Radhiyallâhu ‘anhumâ ketika melahirkan ‘Abdullâh bin Zubair, beliau mengisahkan :

أَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعْتُهُ فِي حَجْرِهِ ثُمَّ دَعَا بِتَمْرَةٍ فَمَضَغَهَا ثُمَّ تَفَلَ فِي فِيهِ فَكَانَ أَوَّلَ شَيْءٍ دَخَلَ جَوْفَهُ رِيقُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ حَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ ثُمَّ دَعَا لَهُ وَبَرَّكَ عَلَيْهِ
“Aku membawa bayiku ke hadapan Nabi ﷺ dan kuletakkan di buaiannya. Kemudian beliau meminta sebutir kurma, mengunyahnya kemudian meludahkannya ke mulut bayiku, sehingga yang pertama kali masuk ke rongga mulutnya adalah air ludah Rasulullah ﷺ.

Kemudian beliau men-tahniknya dengan kurma dan men-do’akannya serta memberkahinya.”

Tahnîk hendaknya dilakukan selepas persalinan dan tujuannya adalah untuk melatih bayi makan dan menguatkan dirinya.

Ibnu Hajar berkata :
وأولاه التمر فإن لم يتيسر تمر فرطب وإلا فشيء حلو
وعسل النحل أولى من غيره
“Yang lebih utama adalah mentahnik dengan sebutir kurma kering (tamr), namun jika tidak ada bisa dengan kurma basah (ruthob). Jika tidak ada bisa pula dengan makanan manis, dan tentunya madu lebah lebih utama dari selainnya.”

Diantara dalil disyariatkannya me-lakukan tahnîk selepas persalinan dan dianjurkan mempraktekkan tahnik kepada bayi yang baru lahir adalah riwayat Anas bin Mâlik yang berkata :

كَانَ ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ يَشْتَكِي فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ فَقُبِضَ الصَّبِيُّ فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ مَا فَعَلَ ابْنِي قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ وَارُوا الصَّبِيَّ فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ أَعْرَسْتُمْ اللَّيْلَةَ قَالَ نَعَمْ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا فَوَلَدَتْ غُلَامًا قَالَ لِي أَبُو طَلْحَةَ احْفَظْهُ حَتَّى تَأْتِيَ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَى بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَرْسَلَتْ مَعَهُ بِتَمَرَاتٍ فَأَخَذَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَمَعَهُ شَيْءٌ قَالُوا نَعَمْ تَمَرَاتٌ فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَضَغَهَا ثُمَّ أَخَذَ مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا فِي فِي الصَّبِيِّ وَحَنَّكَهُ بِهِ وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ

“Anak Abu Tholhah menderita sakit, lalu Abu Tholhah keluar rumah namun anaknya meninggal dunia. Ketika Abu Tholhah kembali, ia bertanya (kepada isterinya, Ummu Sulaim), “Bagaimana keadaan anak-ku?” Ummu Sulaim menjawab, “Dia lebih tenang dari sebelumnya.”
Ummu Sulaim kemudian menyuguh-kan makan malam, maka Abu Tholhah pun makan malam dan bersetubuh dengannya. Setelah selesai (dari jima’), Ummu Sulaim berkata, “Anakmu telah dikuburkan.”
Keesokan harinya di waktu pagi, Abu Tholhah mendatangi Rasulullah ﷺ dan mengabarkan kejadian tersebut. Beliau bertanya: “Kalian tadi malam menjadi pengantin?” Abu Tholhah menjawab, “Ya.” Beliau pun berdoa: “Ya Allah, berkahilah keduanya.”
(Setelah berjalannya waktu) Ummu Sulaim pun kemudian melahirkan seorang anak, lalu Abu Tholhah berkata kepadaku (yaitu Anas), “Jagalah ia hingga engkau bawa ke hadapan Nabi ﷺ.”
Anas kemudian membawa bayi tersebut kepada Nabi ﷺ, dan Ummu Sulaim membekalinya dengan bebe-rapa butir kurma. Nabi ﷺ kemudian meraih bayi Abu Thalhah, lalu ber-tanya: “Apakah ia (Anas) membawa sesuatu?”
Para sahabat menjawab, “Ya. Dia membawa beberapa butir kurma.”
Nabi ﷺ kemudian mengambil kurma dan menguyahnya, lalu beliau ambil kunyahan dari mulutnya dan me-masukkannya ke dalam mulut sang bayi, baru setelah itu memberinya nama Abdullah.”

An-Nawawî berkomentar :
اتَّفَقَ العُلَمَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ تَحْنِيْكِ المَوْلُوْدِ عِنْدَ وِلاَدَتِهِ
“Ulama bersepakat tentang dianjur-kannya tahnîk bayi yang baru lahir setelah persalinannya.”

✍@abinyasalma
______________________

✉Grup WhatsApp Al-Wasathiyah Wal I’tidål
♻Telegram: https://bit.ly/abusalma
🌐 Blog : alwasathiyah.com
💠Facebook : http://fb.me/abinyasalma81
🔰Youtube : http://bit.ly/abusalmatube
📷 Instagram : http://instagram.com/abinyasalma/
🌀Mixlr : http://mixlr.com/abusalmamuhammad/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s