Serba-Serbi, Tanya Jawab

BAGAIMANA HUKUM MEMBERIKAN PELATIHAN KEPADA KARYAWAN DI PERUSAHAAN RIBAWI ? 

TANYA
BAGAIMANA HUKUM MEMBERIKAN PELATIHAN KEPADA KARYAWAN DI PERUSAHAAN RIBAWI❓
Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Ustadz.
Saya bekerja sebagai trainer lepas untuk bidang pelayanan dan marketing. Klien saya beragam mulai dari bumn sampai swasta. Beberapa kali saya mendapat tawaran untuk memberikan pelatihan pelayanan di perusahaan pembiayaan (leasing dan semacamnya). Saya ragu hendak menerimanya.
Mohon mendapat penjelasan boleh atau tidak saya memberikan pelatihan pelayanan dan marketing kepada karyawan perusahaan ribawi, seperti perusahaan pembiayaan tersebut?
Semoga bisa dibantu.
Jazaakumullahu khairan wabarakallahu fiikum.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
JAWAB

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
1⃣ Semua pekerjaan yang mubah dan halal secara asal adalah juga mubah dan halal. Kecuali apabila ada unsur haram yang dapat memalingkan hukumnya.

2⃣ Di dalam kaidah dikatakan :

الوسائل لها حكم المقاصد

Sarana itu memiliki hukum yang sama dengan tujuannya.

Tapi dengan syarat bahwa sarana (wasilah) ini secara asal memang mubah.

3⃣ Lebih rinci dari kaidah di atas, dikatakan :

وسيلة الواجب واجبة و وسيلة المندوب مندوبة و وسيلة المحروة محرمة

Sarana yg mengantarkan kpd yg wajib maka wajib pula hukumnya, yg mengantarkan ke yg sunnah juga sunnah hukumnya, dan yg mengantarkan kpd keharaman juga haram hukumnya.

4⃣ Hukum sarana terhadap tujuannya, ada 3 kondisi (menurut paparan Abdullah al-Anzî)

➖Kondisi 1 :

ما يكون إفضاؤه إلى المفسدة نادرا قليلا، فالحكم بالإباحة ثابت له بناء على الأصل.

Apabila sarana itu membawa kpd mafsadat yg langka dan sedikit. Maka hukum bolehnya tetap berlaku berdasarkan hukum asal.

Contoh : menanam anggur, tidak mempengaruhi hukumnya apabila ada sebagian org yg menjadikan anggur itu shg Khamr.

Contoh 2 : seorang pria yg mengajar kaum wanita saat dibutuhkan selama aman dari fitnah.

Contoh 3 : keluarnya kaum wanita dari rumah utk kemaslahatan mereka, ke masjid, belajar dll selama aman dari fitnah.

Dll.

Kondisi² ini maka ditimbang maslahat dan madharatnya.

فإن كان جانب المصلحة راجحا -وهو الأصل في المباحات- فلا تمنع بدعوى (سد الذرائع) لمجرد ظن المفسدة، أو لورودها لكنها ضعيفة في مقابلة المصلحة.

Jika sisi maslahatnya lbh kuat maka asalnya mubah. Tdk otomatis terlarang hanya karena klaim “menutup pintu keburukan”, ada munculnya keburukan namun lbh lemah jika dibandingkan maslahatnya.

➖Kondisi 2 :

ما يكون إفضاؤه إلى المفسدة كثيرا غالبا

Wasilah yg lbh menyebabkan kerusakan lbh besar secara umum.

Jadi, madharatnya lbh nyata dan besar daripada maslahatnya.

Contoh : menjual pedang dan senjata di kala terjadi fitnah kekerasan, tawuran antar warga, dll.

Contoh 2 : menyewakan bangunan yg digunakan utk maksiat, spt diskotek, pub, dll.

Contoh 3 : melatih seseorang dan ilmunya diduga kuat atau diketahui digunakan utk maksiat.

➖Kondisi 3

Yang samar atau syubuhat, maka secara asal boleh namun hendaknya ditinggalkan.
Kesimpulan :

Jika ilmu yang diajarkan diduga kuat digunakan utk maksiat, mengembangkan dan menyebarkan riba, maka tidak boleh mengajarkan ilmu tsb SAAT KONDISI SEPERTI INI.
Wallâhu a’lam.
✍@abinyasalma

______________________
✉Grup WhatsApp Al-Wasathiyah Wal I’tidål

♻Telegram:  https://bit.ly/abusalma

🌐 Blog : alwasathiyah.com

💠Facebook : http://fb.me/abinyasalma81

🔰Youtube : http://bit.ly/abusalmatube

📷 Instagram : http://instagram.com/abinyasalma/

🌀Mixlr : http://mixlr.com/abusalmamuhammad/
awwi-3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s