Tanya Jawab

BOLEHKAH WANITA BERPAKAIAN DENGAN WARNA PUTIH?

Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah ditanya:

هل يجوز للمرأة أن تتحجب بلباس أبيض أو أخضر أو غيره من الألوان ، إذا كان هذا عادة عند قومها، خاصةً إذا حوربت من بعض الجهات إن هي لبست جلباباً أسود؟

Bolehkah bagi seorang wanita untuk berhijab menggunakan kain putih, hijau atau warna lainnya, apabila hal tersebut sudah umum di masyarakatnya. Apalagi bila diintimidasi oleh sebagian instansi saat berjilbab hitam?

Beliau menjawab:

لا بأس -إذا كان هذا عادة أهل البلد- أن تلبس الثياب البيض، لكن ليس على شكل ثياب الرجال ، واللون لا عبرة به ، لكن بشرط: أن يتميز ثوبها عن ثوب الرجل
أما إذا لم يكن من عادة بلدها : فإن الواجب أن تتبع عادة أهل البلد ، تلبس الثياب السود ، أو الخضر ، أو الحمر ، حسب العادة ، وتغطي جميع وجهها ” . 

Tidak mengapa wanita tersebut memakai busana putih –bila hal tersebut sudah menjadi kebiasaan penduduk daerahnya-. Akan tetapi bentuknya tidak boleh seperti bentuk pakaian lelaki. Warna tidak dianggap. Dengan syarat pakaian wanita tersebut beda bentuknya dengan pakaian lelaki.

Namun bila hal itu bukan merupakan kebiasaan penduduk negerinya, maka seharusnya ia mengikuti kebiasaan masyarakat. Mengenakan pakian hitam atau hijau atau merah, sesuai dengan kebiasaan. Menutup seluruh wajahnya”.

Referensi: Al-Liqâ’ asy-Syahriy (26/66 -sesuai penomoran Syamilah).

 

Beliau juga berkata :

لا بأس للمرأة أن تلبس ما شاءت ، إلا ما يعد تبرجاً وتجملاً ، فإنها لا تفعل، لأنها سوف يشاهدها الرجال، وقد قال الله تعالى: (وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ)
فمثلاً : الثوب الأبيض يعتبر ثوب تجمل ، ومن ثياب الجمال ، فلا تلبسن المرأة في حال الإحرام ثوباً أبيض، لأن ذلك يلفت النظر ويرغب في النظر إليها؛ لأن المعروف عندنا أن الثوب الأبيض بالنسبة للمرأة ثوب تجمل ، والمرأة مأمورة بألا تتبرج في لباسها ” .

“Tidak mengapa bagi seorang wanita untuk memakai busana yang diinginkannya. Kecuali bila pakaian tersebut masuk dalam kategori tabarruj dan bersolek, maka tidak boleh dipakai. Sebab hal itu akan menarik perhatian kaum pria. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kalian bertabarruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliyyah”.

Contoh: baju berwarna putih dikategorikan pakaian bersolek. Maka tidak diperbolehkan bagi wanita saat berihram menggunakan baju putih. Sebab hal tersebut menarik perhatian dan mendorong orang untuk melihatnya. Sebab yang makruf di kebiasaan kita, bahwa pakaian putih bagi wanita adalah baju bersolek. Sedangkan wanita diperintahkan untuk tidak bertabarruj dalam pakaiannya”.

Referensi: Majmû’ Fatâwâ wa Rasâ’il al-‘Utsaimin (22/181).

 

Kesimpulan :

Beliau melarang wanita memakai busana putih, bila wanita tersebut tinggal di daerah yang kebiasaan wanitanya memakai busana hitam. Misalnya di Arab Saudi. Sebab akan sangat mencolok dan menarik perhatian kaum pria.

Bila itu dikaitkan dengan kondisi negeri kita; Indonesia, maka busana putih sangat lazim dipakai oleh kaum wanita. Contohnya dalam mukena shalat. Sehingga bila memakai busana putih, maka tidak menyalahi kebiasaan mereka.

Jadi, kesimpulannya wanita boleh memakai busana putih, bila memang di negeri tempat ia tinggal, kaum wanitanya biasa memakai busana putih.

Namun tentunya tetap harus memperhatikan etika berbusana lainnya. Seperti tidak boleh mirip bentuk pakaian lelaki, tidak transparan, tidak ketat dan berbagai etika syar’i lainnya.

Wallahu a’lam.

 

Pesantren “Tunas Ilmu” Purbalingga, 2 Muharram 1439 H

Abdullah Zaen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s