Adab, Motivation, Nasehat, Serba-Serbi, Tanya Jawab

Q&A : BOLEHKAH KITA MEMBICARAKAN PERSON ?

​Question Answer
BOLEHKAH KITA MEMBICARAKAN  PERSON ❓
Tanya 

Ustadz… Si A itu gimana manhajnya?
 ➖➖➖➖➖➖
JAWAB
Dakwah kita tdk MENYERU KEPADA PERSON tapi KEPADA DALIL…
Membicarakan PERSON – kecuali jika memang ada MANFAAT YANG NYATA – maka lbh baik ditinggalkan..

1⃣ Kita tdk akan ditanya tentang orang lain, namun kita ditanya ttg diri kita sendiri dan keluarga yg jadi tanggung jawab kita. 

2⃣ secara asal MANUSIA ITU SELURUHNYA TDK ADA YANG MA’SHUM kecuali para NABÎ…

Karena itu, kita diseru utk MENGIKUTI NABÎ SEMATA, sehingga disebut sebagian ulama, TAUHIDUL MUTABA’AH (mentauhidkan Rasulullah dalam peneladanan, jadi hanya beliau saja yg berhak diteladani dan dicontoh)… Tidak selainnya. 
▪Jika DITANYA…

Lalu bagaimana dengan mencontoh sahabat?Lalu kenapa kita juga diperintahkan mengikuti sahabat dan para salaf?

Kita jawab :
➖Karena Allâh dan Rasul-Nya yg memerintahkan. Dalilnya banyak sekali, Diantaranya : 

QS. al-Baqoroh : 138, QS. at-Taubah : 100, 

QS. an-Nisa : 115, dan lain lain 

Haditsnya apalagi, banyak sekali. 
➖Mereka adalah mediator terdekat dg Rasulullah di dalam mentransfer ilmu kpd generasi setelahnya… 

Jd yg paling tahu ttg Rasulullah adalah mereka. Bahkan yg menyampaikan al-Qur’an dan hadits juga mereka…
➖PENELADANAN kpd – individu² diantara- mereka itu TIDAK MUTLAK, namun harus ditimbang dulu dg  NABÎ… 

Yang jadi acuan adalah NABÎ, jika selaras kita tiru, jika tdk selaras tdk kita ambil… 
▪Membicarakan person, itu tdk lepas dari bbrp kondisi :

➖Person yang memang DISEPAKATI KESESATAN NYA, maka wajib MENTAHDZIR darinya.

➖Person yang DIPERSELISIHKAN KESESATAN nya, maka ini ada perinciannya lagi…

▪Jika yg lbh DOMINAN adalah kesesatannya, maka kita sandarkan org tsb kpd kesesatan

▪Jika yg lbh DOMINAN adalah kesesuaiannya dg sunnah dan kebenaran, namun ia memiliki bbrp kesalahan, maka dia tetap disandarkan sbg ahli sunnah namun kesalahannya tetap harus dikoreksi…
▪Selain itu, juga perlu diperhatikan segi maslahat dan madharatnya… KARENA KITA TAKKAN DITANYA OLEH ALLÂH TTG ORANG LAIN…

Yg perlu ditimbang pula 

➖Apakah mengetahui ttg person tsb bermanfaat bagi kita atau tdk?

➖Jika bermanfaat bagi kita, apakah juga bermanfaat utk orang lain dg mengetahuinya?
▪Intinya, Sibukkan dg ILMU, dan tinggalkan SIBUK membicarakan tentang PERSON… 

Karena Waspadai, SETAN bisa masuk ke berbagai celah…

Bisa jadi kita MENJELEKKAN ORANG LAIN dg DALIH membela agama, TAHDZIR, atau semisalnya, ternyata setan masuk memalingkan kita, agar kita bisa dianggap ALIM, PINTER DEBAT, dll…
Semoga Allah melindungi kita dari ini semua…
Adapun bertanya utk mengetahui hakikat seseorang sbg bentuk KEHATI-HATIAN dalam mengambil ilmu, maka ini baik… Tapi dg syarat :

➖Yg ditanya adalah org yg diduga kuat mengetahui org yg ditanyakan tsb.

➖Tidak mengekspos jawaban ustadz tsb ke khayalak tanpa seizinnya…

➖Jika ustadz yg ditanya tdk tahu, maka kondisi org yg ditanyakan tsb tdk jelas. Maka, jangan mengambil ilmu dari yg tdk jelas padahal yg jelas msh banyak. 
Wallahu a’lam 
✍@abinyasalma 

__________________
✉Grup WhatsApp Al-Wasathiyah Wal I’tidål

♻Telegram:  https://bit.ly/abusalma 

🌐 Blog : alwasathiyah.com

💠Facebook : http://fb.me/abinyasalma81

🔰Youtube : http://bit.ly/abusalmatube

📷 Instagram : http://instagram.com/abinyasalma/

🌀Mixlr : http://mixlr.com/abusalmamuhammad/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.