BERMAAF-MAAFAN SEBELUM RAMADHAN?

on

Seputar kebiasaan bermaaf-maafan :

“DALAM  KESEMPATAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN INI SAYA beserta keluarga ingin meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja” itulah bunyi pesan-pesan yang beredar menjelang bulan Ramadhan.

Meminta maaf itu disyariatkan dalam Islam 🚫NAMUN MENGKHUSUSKAN HANYA PADA BULAN SYA’BAN ATAU RAMADHAN MAKA ITU TIDAK ADA DALILNYA:

2449 – حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدٌ المَقْبُرِيُّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

«مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ»،

Imam al-Bukhori rahimahullah berkata, Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas (tsiqah ‘abid, wafat th. 221 H)  telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dza’bi (Al-Amiry, tsizah Faqih faazhil – terpercaya lagi banyak ilmunya serta punya keutamaan, wafat th. 159 H) telah menceritakan kepada kami Sa’id Al Maqburiy (Sa’id bin Kaisan, tsiqah namun hafalannya berubah 4 tahun sebelum wafatnya th. 120 H) dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu (wafat th. 57 H)  berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang pernah melakukan kedzhaliman (baik dengan perkataan ataupun perbuatan) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (berupa pemaafan) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat lagi dinar dan dirham. (Jika dia enggan untuk melakukannya maka (nanti pada hari kiamat)) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholiman yang pernah dilakukannya (kepada yang didholiminya). Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizholiminya itu akan diambil lalu dibebankan kepadanya”. (HR. Bukhari no. 2449)

Kata “اليوم” (hari ini) menunjukkan bahwa meminta maaf itu dapat dilakukan kapan saja, dan yang paling baik adalah meminta maaf dengan SEGERA karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.

Dari hadits ini jelaslah bahwa Islam mengajarkan untuk meminta maaf, jika kita berbuat kesalahan kepada orang lain.

🚫Adapun meminta maaf tanpa sebab dan dilakukan kepada semua orang yang ditemui maka itu tidak pernah diajarkan oleh Islam.

Jika ada yang berkata, “Manusia ‘kan tempat salah dan dosa. Mungkin saja kita berbuat salah kepada semua orang tanpa disadari.”

Yang dikatakan itu memang benar, namun apakah serta-merta kita meminta maaf kepada semua orang yang kita temui? Mengapa shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah berbuat demikian? Padahal, mereka adalah orang-orang yang paling khawatir akan dosa. Selain itu, kesalahan yang tidak disengaja atau tidak disadari itu tidak dihitung sebagai dosa di sisi Allah ta’ala.

✏Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam,

إِنَّ اللَّهَ قَدْ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ، وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

Sesungguhnya, Allah telah memaafkan umatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, karena lupa, atau karena dipaksa.” (HR Ibnu Majah, no. 2043; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil no. 82)

Dengan demikian, orang yang “meminta maaf tanpa sebab” kepada semua orang bisa terjerumus pada sikap ghuluw (berlebihan) dalam beragama. Begitu pula, mengkhususkan suatu waktu untuk meminta maaf dan dikerjakan secara rutin setiap tahun MAKA ITU TIDAK dibenarkan dalam Islam dan bukan TERMASUK ajaran Islam.

✏Hal lain yang menjadi sisi negatif tradisi semacam ini adalah menunda permintaan maaf terhadap kesalahan yang dilakukan kepada orang lain hingga bulan Ramadan tiba. Beberapa orang, ketika melakukan kesalahan kepada orang lain, tidak langsung minta maaf dan sengaja ditunda sampai momen Ramadan tiba, meskipun harus menunggu selama 11 bulan.

Meski demikian, bagi orang yang memiliki kesalahan bertepatan dengan Sya’ban atau Ramadan, tidak ada larangan memanfaatkan waktu menjelang Ramadan untuk meminta maaf pada bulan ini, kepada orang yang pernah dizaliminya tersebut. Asalkan, ini tidak dijadikan kebiasaan, sehingga menjadi ritual rutin yang dilakukan setiap tahun dan dilakukan tanpa sebab.

✏ Amalan amalan di Bulan Sya’ban tidak ada yang khusus namun dianjurkan kepada kita agar memperbanyak ibadah termasuk puasa, shodaqah, membaca quran dan lain lain

🚫Mengkhususkan hanya pada Malam Nifsu Sya’ban atau malam setengah bulan Sya’ban untuk beribadah misal sholat dan lain lain maka itu TIDAK ADA CONTOHNYA dari Nabi Shallallahu’alaihi wassalam
Semoga Bermanfaat …. Zaki Abu Kayyisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s