SENYUM SEJENAK DENGAN CANDA ULAMA

Memetik Faidah dari Canda Ulama Salaf 

سأل رجل الشعبي مرة، هل لإبليس زوجة؟
Seorang Pria suatu ketika bertanya kepada asy-Sya’bi : “Apakah Iblis punya isteri?

قال : نعم
Asy-Sya’bi menjawab : “Iya

قال الرجل : وما الدليل ؟
Pria tersebut bertanya kembali : “apa dalilnya?

قال : قوله تعالى “أفتتخذونه وذريته أولياء من دوني”.
Asy-Sya’bi menjawab : “(Dalilnya adalah firman Allâh yang artinya) Pantaskah kamu menjadikan dia (yaitu Iblis) dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku?” (QS al-Kahfi : 50)

قال الرجل : وما اسمها ؟
Pria tersebut bertanya lagi : “Siapa nama isterinya (Iblis)?”

فقال الشعبي : ذاك عرس ما حضرناه. .
Asy-Sya’bi menjawab : “Kami tidak hadir acara pernikahannya (Iblis)…

📚 سير أعلام النبلاء (312/4).
📚 Siyar A’lâmin Nubalâ (IV/312)

@abinyasalma

CATATAN DARI ABU SALMA :

Imam asy-Sya’bi, beliau adalah Imam dan ‘Allamah (orang yang berlimpah ilmunya) di zamannya. Nama beliau adalah ‘Amir bin Syarahil bin ‘Abd bin Dzi Kibar (salah satu kabilah besar di Yaman. Kuniyah beliau adalah Abu ‘Amru, dikenal dengan Abu ‘Amru al-Hamdani asy-Sya’bi. Beliau dilahirkan di Kufah tahun 16 H 637 M) menurut sejumlah ulama ahli sejarah. Beliau termasuk salah satu pembesar TABI’IN (tabi’in senior) di zamannya.

Beliau belajar dari ratusan sahabat yang masih hidup di zamannya, dan menghafalkan hadits dari mereka. Sampai-sampai ‘Ashim bin Sulayman, salah satu murid beliau mengatakan : Saya belum pernah melihat seorangpun yang paling alim tentang ilmu hadits baik dari penduduk Kufah, Bashrah, Hijaz maupun Afaq melebihi asy-Sya’bi. Para a’immah ahli hadits banyak yang belajar dan berguru kepada beliau, seperti Hammad, Abu Ishaq, Ibnu Aun, Ashim al-Ahwal, dll.

Ta’dil (Pujian) Sejumlah ulama hadits kepada beliau :

  • Ibnu Hajar menyebut beliau : tsiqoh (kredibel), masyhur (terkenal/populer) faqih fadhil (orang yang mendalam ilmunya lagi mulia).
  • Makhul berkata tentang beliau : Saya belum pernah melihat orang yang lebih faqih daripada beliau.
  • Az-Zuhri berkata : Ulama (di zaman ini) ada 4 : Ibnul Musayyib di Madinah, Asy-Sya’bi di Kufah, Hasan al-Bashri di Bahsrah dan Makhul di Syam.
  • Abu Nu’aim berkata : Beliau seorang yang Faqih lagi Qowi (kua hafalannya).

***Disadur dari islamstory.com***

MEMETIK FAIDAH DARI CANDA IMAM ASY-SYA’BI 
Oleh member grup WhatsApp al-Wasathiyah wal I’tidal

MEMETIK FAEDAH: BETAPA INDAHNYA CANDAAN ULAMA

Oleh: Nur Muhammad Iskandar

1. Disyariatkannya untuk bertanya kepada ahli ilmu jika kita tidak mengetahui suatu ilmu, sebagaimana firman Allāh:

فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.”
[QS. Al-Anbiya 21: 7]

Itu faedah yang terdapat pada awal kisah, “Seorang pria suatu ketika bertanya kepada asy-Sya’bi”

2. Terkadang jawaban fatwa dari seorang Mufti itu padat & ringkas, tanpa disertai dalil argumen..

Ini terlihat dari jawaban pertama asy-Sya’bi, “Na’am (Iya)” saja, tanpa langsung membawakan dalil argumen, karena pertanyaan (dari seorang awam) yg bersifat fatwa kadang dibutuhkan cepat..

Dan ini banyak kita dapatkan pada beberapa fatawa, dan di beberapa kitab-kitab pun kadang hanya disebutkan point-pointnya saja, tanpa di detailkan jawabannya dengan dalil..

Dimana disini kita lihat kedalaman seorang ‘alim, yang belum tentu penanya itu mengetahui bagaimana cara beristidlal & beristimbath..
Dan ini bentuk tadarruj (bertahap) dalam menunut ilmu..

Namun, bagi seorang penuntut ilmu yang mampu berinteraksi dengan dalil, maka baginya untuk menelaah setiap dalil..

3. Di anjurkannya untuk beramal diatas ilmu, dan kita di tuntut untuk mengetahui landasan/dalil dari setiap amalan yg kita lakukan, entah amalan badan atau amalan hati berupa keyakinan, ini isyarat pada pertanyaan seseorang berikutnya, “Apa dalilnya?”

Al-Imām al-Bukhari berkata di dalam kitab shahīhnya:

العلم قبل القول و العمل

“Berilmu sebelum berucap dan beramal”

4. Dan pada kalimat, “Apa dalilnya?” pun isyarat kepada kita untuk terus belajar (semangat menuntut ilmu), menggali, & mengkaji ilmu, sehingga kita mengetahui dengan pengetahuan yg haq & yakin akan landasan dari setiap perbuatan yang kita lakukan..

5. Kecerdasan seorang Ulama dalam beristidlal & beristimbath, di dalam firman Allāh surah al-Kahfi ayat 50 ini asy-Sya’bi menyimpulkan bahwa Iblis memiliki istri..
Pada kalimat وذريته (dan keturunannya), karena bagaimana (mungkin) Iblis memiliki keturunan jika tidak memiliki istri untuk berjima’, karena secara umum adanya anak itu karena adanya Bapak & Ibu..

6. Disini asy-Sya’bi mengajarkan kepada kita tentang “Uslūb al-Hakīm”, yakni menjawab pertanyaan dengan jawaban lain yang secara langsung (jika dilihat) tidak ada hubungannya dengan pertanyaan..

Yang sebenarnya untuk memalingkan pembicaraan, bahwa pertanyaannya itu kurang begitu penting..

Itu bisa dilihat dari pertanyaan si penanya, “Siapa nama istrinya Iblis?”

Asy-Sya’bi menjawab, “kami tidak hadir pada acara pernikahannya Iblis”

Uslūb al-Hakīm banyak terdapat di dalam al-Qur’ān dan hadīts Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam..

7. Di dalamnya terdapat pelajaran, ingin agar si penanya pun ikut berfikir, asy-Sya’bi ditanya siapa nama istri Iblis, lalu asy-Sya’bi menjawab kami tidak hadir dalam acara pernikahannya, disini isyarat agar si penanya berfikir, Jika asy-Sya’bi tdk hadir dalam acara pernikahannya Iblis maka sudah pasti asy-Sya’bi tidak mengetahui siapa nama istri Iblis..

MEMETIK FAIDAH CANDA ULAMA

Iyan Sopiyan Hadi

➡ Kecerdasan ulama dalam beristidlal
أفتتخذونه وذريته أولياء من دوني
karena keturunan tidak didapat melainkan dengan sebab adanya pasangan/isteri.

➡ tidak bertanya dengan pertanyaan yg tidak ada faidah bagi ilmu dan amal kita, karena ketika kita bertanya sejatinya telah menuntut orang yg ditanya untuk berpikir mencari jawaban.

➡ bercanda tanpa berdusta.

➡ dll.

 

MEMETIK FAIDAH DARI CANDA AL IMAM ASY SYA’BI TERHADAP SEORANG LAKI2 :

(Bagoes Lanang Abu Farah)

1. Bahwa ilmu Alloh maha luas, meliputi segala sesuatu dan penuh hikmah. sedangkan manusia tidak mengetahui sesuatu dr ilmu tsb kecuali apa2 yg diwahyukan kpd RasulNya dan kmd Rasul menyampaikan kpd umat manusia.

2. Candaan syekh tsb bahwasanya beliau tidak menghadiri pernikahan si iblis, mksd sbnrnya syekh tsb ingin menjawab : Tidak tahu. dan ucapan “Saya tidak tahu” adalah separuh ilmu (liat penjelasannya dlm buku al ustadz Yazid Jawwas berjudul Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga, penerbit At Taqwa, halaman 330)

3. Candaan beliau sbnrnya bisa dimaknai sbg sindiran. Spy para penuntut ilmu (terutama yg tahap awal) berupaya menanyakan hal2 yg pokok dari mslh2 agama, dan tidak menanyakan hal2 yang kurang/tidak bermanfaat bagi agamanya.

بِسْــــــــــــــمِ اللّهِ

🍃 MEMETIK FAIDAH🍃

🍃🌸 Kisah Teladan Dari Canda Seorang Ulama 🌸🍃

✏By: Ika Ummu Nisa

📚 Fawaid dari kisah di atas diantaranya:

🌸 1. Terlihat kesabaran seorang ulama dalam menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya tanpa merendahkan si penanya.

🌸 2. Sebaiknya dihindari pertanyaan yang bersifat:
🔸 Sesuatu yang tidak ada manfaatnya;
🔸 Tentang sesuatu yang memberatkan, seperti halnya yang dilakukan kaum Nabi Musa ‘alahis salam, sehingga akhirnya Allâh memberikan beban yang lebih berat terkait jenis sapi yang harus mereka semblih;
🔸 Tentang sesuatu yang mustahil terjadi dan tidak diketahui (tidak ditemukan dalil yang khusus menjelaskannya);
🔸 tentang sesuatu yang bersifat iseng atau sudah jelas sama-sama diketahui jawabannya.
🔸 Tentang sesuatu yang dapat mempermalukan yang ditanya (gurunya);
🔸 Tentang hal yang dapat mengarah pada sikap memperolok agama dan ketetapan Alláh;
🔸 Tentang sesuatu dengan maksud berdebat dan ingin menonjolkan diri.

🌸 3. Keilmuan yang matang dan aqidah yang lurus dari seorang ulama, sehingga dalam menjawab berusaha selalu disertai  dalil dan menghindari berbohong walau dalam candaan.

🌸 4. Kemahakuasaan dan bentuk kasih sayang Allâh meciptakan makhlukNya (seperti jin, hewan dan manusua) berpasang-pasangan dan memberinya keturunan untuk keberlangsungan hidupnya.

🌸 5. Lewat ilmu kita dapat meraih cinta Allâh dengan memberi banyak manfaat kepada sesama, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أحبُّ الناسِ إلى اللهِ تعالى أنفعُهم للناسِ وأحبُّ الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سرورٌ يُدخلُه على مسلمٍ أو يكشفُ عنه كُربةً أو يقضي عنه دَينًا أو يطردُ عنه جوعًا ولأن أمشيَ مع أخٍ في حاجةٍ أحبُّ إليَّ من أن أعتكفَ في هذا المسجدِ ( يعني مسجدَ المدينةِ ) شهرًا ومن كفَّ غضبَه ستر اللهُ عورتَه ومن كظم غيظَه ولو شاء أن يمضيَه أمضاه ملأ اللهُ قلبَه رجاءَ يومِ القيامةِ ومن مشى مع أخيه في حاجةٍ حتى تتهيأَ له أثبت اللهُ قدمَه يومَ تزولُ الأقدامُ

“manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat untuk manusia. Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kegembiraan yang engkau masukan ke hati seorang mukmin, atau engkau hilangkan salah satu kesusahannya, atau engkau membayarkan hutangnya, atau engkau hilangkan kelaparannya. Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya itu lebih aku cintai daripada ber-i’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan lamanya. Dan siapa yang menahan marahnya maka Allah akan tutupi auratnya. Barangsiapa yang menahan marahnya padahal ia bisa menumpahkannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan di hari kiamat. Dan barangsiapa berjalan bersama saudaranya sampai ia memenuhi kebutuhannya, maka Allah akan mengokohkan kedua kakinya di hari ketika banyak kaki-kaki terpeleset ke api neraka” (HR. Ath Thabrani 6/139, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 2/575).

🌸 6. Bercandapun ada adabnya, diantaranya:

🔹 Tidak melewati batas, sehingga tidak menjatuhkan wibawa seseorang dan menjaga martabat dirinya;

🔹 Bertujuan baik, seperti menghilangkan rasa jenuh/bosan dan menambah keakraban;

🔹 Berhati-hati dalam canda dengan mengindari bercanda dalam perkara-perkara yang serius;

🔹  Tetap mengatakan kebenaran dalam canda,
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي لأَمْزَحُ وَلاَ أَقُوْلُ إِلاَّ حَقًا

Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tidak mengatakan kecuali yang benar [Diriwayatkan oleh ath-Thabrâni dalam al-Kabir (XII/13443)]

🔹 Melihat lihatlah dengan siapa kita hendak bercanda, jangan bercanda kepada orang yang tidak suka bercanda atau tentang sesuatu yang tidak orang sukai.

🔹 Bercanda dengan orang yang membutuhkannya, seperti canda Rasul pada istri beliau ‘Aisyah -radhiyallahu ‘anha, pada seorang anak kecil (pada Abu ‘Umair) dan pada cucu beliau.

🔹 Menghindari canda dalam perkara-perkara yang dilarang Allâh, seperti:

⚘ Berdusta dalam canda, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan ancaman terhadap orang yang berdusta untuk membuat orang lain tertawa dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَيْلٌ للَّذِي يُحَدِّ ثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْخِكَ بِهِ الْقَوْمَ ويْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Celakalah seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia. [Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad (V/5), Abu Dawud (4990), at-Tirmidzi (2315). Lihat Shahîh al-Jâmi’ (7126)];

⚘ Menakut-nakuti, misalnya dengan menyembunyikan milik saudaranya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَأْ خُذَنَّ أحَدُكُمْ مَتَا عَ أَخِيهِ لاَ عِبًا وَلاَ جَادًّا

Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik bercanda maupun bersungguh-sungguh [Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5003), dan at-Tirmidzi (2161). Lihat Shahîh Abu Dawud (4183)];

⚘ Canda yang disertai fitnah/tuduhan keji dan melecehkan orang lain dan disertai perkataan yang buruk, hal ini tidak dibolehkan sama sekali. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. [QS. al-Isrâ` (17): 53];

🔹Tidak banyak dan berlebihan dalam tawa, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan agar tidak banyak tertawa, beliau bersabda :

وَيْلٌ للَّذِي يُحَدِّ ثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْخِكَ بِهِ الْقَوْمَ ويْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.” [HR. At-Tirmidzi no. 2227, Ibnu Majah no. 4183 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7435];

🔹 Tidak menjadikan simbol-simbol/syiar-syiar agama dan ayat-ayat Allâh sebagai guyonan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُم بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ ۚ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَّا تَحْذَرُونَ وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekanejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayatayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolokolok?”. [at-Taubah(9): 64-65]

Dan mengangungkan syiar agama merupakan tanda ketakwaan hati. Allah berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. [al-Hajj/22:32];

🌸 7. Penting sikap tidak malu untuk bertanya dan bertanya kepada ‘alim/ahlinya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“… maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43).

🌸 8. Seorang ulama senantiasa berusaha membuka hati manusia dengan ilmu, sebagaimana yang dikatakan oleh al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullâh-:
“Sesungguhnya dalam upayamu menyebarkan ilmu, berarti menyebarkan agama Allah. Dengan itu kamu menjadi termasuk mujahidin fi sabilillah. Karena kamu telah membuka hati (para manusia) dengan ilmu. Sebagaimana para mujahidin membuka negeri-negeri dengan senjata dan iman.”
(Syarh Doa Qunut Witir, hlm. 12)

🌸 9. Seorang ulama tidak mengatakan sesuatu tanpa ilmu atau hanya berlandaskan dugaan dan ro’yu-nya semata. Sebagaimana firman Allâh,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra:36).

Demikian diantara fawaid ilmiyyah yang bisa kita ambil dalam kisah ulama di atas. Semoga kita dapat mengambil ibroh dan meneladaninya… aamiin, wallãhul musta’an.

والله أعلمُ بالـصـواب

و صلّى اللّـﮧ و سلّم على نبيّنا محمّ.

*🍃📚🍃

 

بسم الله

Memetik Faidah., Makna dalam Canda …..

Ummu Rama (mariniindrasari)

Perbaiki selalu diri kita.. Isilah waktu dengan hal yg bermanfaat utk agama.. dunia dan akhirat kita… belajar menahan diri untuk tidak melakukan dan tidak bertanya hal hal yg tidak ada manfaatnya.
Hadist mengatakan… “Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang jika dia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat untuknya”. (HR. Tirmidzi)… semoga kita tsenantiasa istiqomah… Aamiin….

 

MEMETIK FAIDAH : SENYUM SEJENAK DENGAN CANDA ULAMA
Ummu Hurairah (Risqi Akbarianna)

1. Hendaknya seorang mukmin tidak menanyakan perkara yang tidak bermanfaat bagi urusan dunia dan akhiratnya.
2. Penyampaian ilmu dengan tanya jawab lebih afdhal dengan tanya jawab, dimulai dengan menanyakan agar yang mendengar lebih memperhatikan.
3. Tidak boleh bercanda dengan dusta. Tapi diperbolehkan bercanda dengan adanya sumber sesuai fakta. Kisah di atas canda yang disertai dalil.

 

MEMAKNAI CANDA ULAMA

Rini Ayoedha

Kisah pertanyaan mengenai keluarga iblis ini mengajarkan kepada kita untuk menjadi seorang muslim yang berakal dan berilmu. Selain itu, tidak semua ilmu atau informasi dapat disampaikan dan dapat dipahami oleh setiap orang. Jawaban akan lebih mudah diterima dengan menyisipkan humor tapi jawabannya juga masuk akal. Meskipun pertanyaan yang dilontarkan terkesan hanya menguji kemampuan atau menyudutkan, akan lebih baik jika kita menjawabnya dengan hati tenang. Apabila kemarahan tercampur saat itu, maka yang keluar bukanlah jawaban yang dapat diterima tapi memunculkan permusuhan.

 

CANDA
(Bestantje ummu reza)

Canda yg mengandung kebenaran/tidak berdusta, faidahnya selain sangat menghibur hati disaat sedang sedih juga mengusir kegalauan dalam jiwa pendengarnya mempertajam kepekaan hati dan kecerdasan otak pendengarnya.

 

Mengambil faedah dari “senyum sejenak dengan canda ulama”
(Eka ummu zidan)

1. Hendaklah kita bertanya tentang suatu hal yg bisa membawa manfaat bagi kita dunia dan akhirat ..dan menambah keimanan ..jika tidak ,maka tidak perlu menanyakannya
2. Firman Allaah QS al-Kahfi 50 sdh jelas bahwa iblis memiliki keturunan yg akan slalu membawa tipu muslihat kpd manusia..cukup lah itu sebagai peringatan
3. Bercanda juga pernah dicontohkan Rasulullaah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika ada seorang wanita tua bertanya kepada beliau tentang apakah aku yang seorang wanita tua ini bisa masuk surga ..kemudian rasulullaah menjawab sesungguhnya disurga tidak ada wanita tua..kemudian beliau rasulullah menjelaskan ttg isi QS Al waqiah ..namun hendaknya bagi kita tholabul ilmi jika tidak mengetahui jawaban ttg suatu hal sebaiknya berkata “allahua’lam” .

 Memetik Faidah: SENYUM SEJENAK DENGAN CANDA ULAMA

Oleh : Halimah Muniroh

Hikmahnya,

(1.) Iblis mempunyai pasangan, sama seperti makhluk lainnya.

(2.) Dalil diatas adalah dalil menunjukkan bahwa iblis memiliki keturunan. Bila memiliki anak, tentulah memiliki istri.

(3.) Dan untuk tahu siapa nama istri iblis, maka tidak ada orang yang tahu, termasuk ulama

(4.) bertanyalah sesuatu yang penting yang bisa memperbaiki iman dan ibadah kita.
(5) Jangan bertanya yang tidak berfaidah,
Seperti menanyakan istri iblis, harusnya kalau kita sudah tahu nama istri iblis menambah ke imanan kita gak?
Tentu lah gak.

MEMETIK FAIDAH

Jangan Ada Dusta diantara Canda…

By : Ika ummu Royyân 🌼

1. ✅ Iblis diciptakan Allah ﷻ sebagai makhluk yang berpasangan sebagaimana halnya manusia, berpasangan dan mempunyai anak keturunan.

2. ✅ Al Qur’an menjelaskan masalah berpasangannya iblis secara tersirat, dengan metode mafhum (logika terbalik).. “Jika ada anaknya pasti ada ayah ibunya.”
Demikianlah sunnatullah, sehingga manusia dilatih belajar untuk menelaah sesuatu.

3. ✅ Ulama menjelaskan masalah agama tidak melulu dengan metode yg kaku. Bahkan dengan kelakar pun bisa menjelaskannya tanpa melanggar koridor bercanda yg disyari’atkan Rosul ﷺ yakni canda tanpa dusta.

4. ✅ Salah satu metode memperdalam ilmu adalah dengan tanya jawab kepada ahli ilmu.
Namun penuntut ilmu yang serius dan sungguh-sungguh tentu akan mencukupkan dirinya pada pertanyaan yg bermanfaat bagi bekalnya di dunia dan akherat
(alias….. tidak bertanya yang tak penting dan mengada-ngada)

واللّٰـه تـعـالى أعـلم بـالصـواب

Tangsel, 27 Rajab 1438 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s